1.11.07

Ayo, Dukung Komunitas Buku!




JAKARTA – Buku adalah harta yang terpendam. Buku dapat menjadi barang yang amat berharga, tak terbilang dengan nilai nominal mata uang mana pun.

Donna Widjajanto (28) masih asyik membolak-balik buku yang tertumpuk di sebuah meja kecil. Puas dari tumpukan itu, ia beralih menatap deretan buku yang tersusun pada rak panjang di pinggir dinding. Matanya begitu awas, seolah tak ingin melewatkan sesuatu yang berharga. Tak terasa, sudah hampir satu jam dia berkutat di bengkel buku Gerak-Gerik.
Kolektor buku asal Bintaro, Jakarta Selatan itu tampaknya masih betah berlama-lama. Padahal, ruangan bengkel buku yang ada di bilangan Ciputat, Jakarta Selatan ini tak begitu besar. Bayangkan ruangan seluas 4 x 5 meter itu terasa sesak dijejali ribuan judul buku dari pelbagai penerbit. Apalagi, sang empunya mengaku belum sempat membereskan dan menata ulang buku-buku dagangannya.
”Ini buku yang tak bisa kita dapatkan di toko buku besar,” ujar Donna sambil menunjukkan buku berjudul Raja Priyayi dan Kawula karya Kuntowijoyo, terbitan Ombak. Buku ini memang belum masuk jaringan toko buku gede karena penerbitnya masih baru dan belum terkenal. ”(Penerbit) Ombak itu masih baru dan tergolong kecil jadi belum bisa tembus toko buku besar,” timpal Ikhwan Nasution (26), salah seorang pemilik bengkel buku Gerak-Gerik.
Tion – sapaan karib Ikhwan Nasution – sebetulnya sudah beberapa kali merayu kami untuk datang di lain waktu. Alasan dia: bengkel buku – begitu Tion menyebut toko buku kecil ini - masih berantakan dan belum tertata rapi. Pada Minggu (14/3) lalu, toko buku ini baru dibuka ketika kami datang. ”Waduh, gimana kalau datang lagi besok, saya janji deh semuanya sudah beres. Semalam saya habis begadang, maklum banyak buku baru datang lagi dari penerbit,” rayu Tion sambil mesem-mesem.
Rayuan tadi tak berhasil mematahkan semangat kami. Apa pun kondisinya, rencana berburu buku harus jalan terus. Melihat sang tamu tetap bersemangat akhirnya Tion tak bisa menolak untuk membuka toko buku kecil yang sudah berdiri sejak April tahun lalu. Dan ketika begitu gerai toko dibuka, kami langsung menyeruak. Perburuan pun dimulai.
Sembari terus mencari, Tion tak pernah putus menawarkan buku. Ada banyak judul dan tema yang ia sebut, dari gerakan politik, filsafat, sastra, budaya sampai buku-buku umum. Hasil akhir: Donna tiga judul buku (Filmbuehne am Steinplatz karya N. Marewo, Ensiklopedia Feminisme tulisan Manggie Humm dan terakhir sudah dibahas di atas) dan kami menghabiskan sekitar Rp 150.000 untuk memborong enam judul buku.
Menurut Tion, gagasan menyediakan buku murah muncul ketika ia bertemu dengan Abdul Hakim (28), rekannya dalam kelompok kajian dan diskusi di bilangan Ciputat. Awalnya, keduanya merasa prihatin terhadap perubahan kultur yang terjadi di sekeliling kampus Universitas Islam Negeri Jakarta – dulu dikenal sebagai Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jakarta. Kelompok kajian dan diskusi yang dulu amat kuat, lima tahun belakang jumlahnya terus melorot.
Kebetulan Tion dan Abdul Hakim sama-sama berangkat dari minat sama: mencintai buku dan ingin membangun kembali komunitas kajian itu. ”Ya, sudah kita saling ngisi saja. Tion yang mengadakan materialnya, buku sedang saya dari segi pemikirannya,” sambung Abdul Hakim, lulusan filsafat STF Driyarkara Jakarta. Waktu pertama kali berdiri, modalnya Rp 10 juta. Hampir tiga perempat modal dihabiskan untuk sewa lokasi toko, sisanya untuk buat rak dan lainnya.
Sebelum toko berdiri, Tion lebih banyak disibuki dengan kegiatan di bidang organisasi non-pemerintah (ornop) dan berjualan buku ala kaki lima. Hingga kini, kegiatan yang terakhir itu masih terus dilakoninya. ”Makanya, saya sering bilang, satpam itu teman sekaligus musuh saya,” katanya sambil terkekeh-kekeh. Maklum, cara jualan ala kaki lima lebih sering mendapat usiran dari pihak keamanan. Tapi, kata Tion, biasanya mereka tak tega saat mengusir pedagang buku, terlebih buku-buku yang dijual bermutu bagus.
Berjualan ala kaki lima ternyata amat dinikmati Tion. Dengan cara bersentuhan langsung kepada pembeli membuat Tion lihai membaca kemampuan kantung konsumen. Dia tahu kapan harus memberi harga murah, dan begitu sebaliknya. ”Pernah waktu dagang di kongres HMI lalu, saya dapat delapan juta rupiah. Tapi sayangnya, saya juga kebobolan banyak buku, totalnya sampai enam ratusan ribu rupiah,” cerita Tion bersemangat. Kebobolan sebanyak itu tak membuatnya kapok, justru menjadi pelajaran di hari esok.
Begitu bengkel buku Gerak-Gerik berdiri, Tion dan Abdul Hakim terus berkegiatan. Keduanya menggelar acara bedah buku bagi publik. Sudah empat kali acara ini digelar. Terakhir, membedah buku berjudul ”Realisme Sosialis” karya Pramudya Ananta Toer. ”Waktu itu sekaligus launching buku ini,” kata Tion, bangga.
Komunitas pencinta buku terus didorong Gerak-Gerik. Toko buku ini menerapkan sistem keanggotaan. Bukan cuma potongan harga buku yang didapat tetapi juga kelebihan lain, seperti pelatihan menulis populer, pelatihan analisis teks, gelar acara kesenian, bedah buku dan lainnya. Tion dan Abdul Hakim sama-sama berharap, toko buku kecil ini dapat menjadi wadah bagi para pehobi baca dan pencinta buku. Jaringan membaca dapat terbentuk sekaligus merangkul orang-orang untuk doyan baca.
”Kita harus hargai semangat mereka membangun basis komunitas buku, baca dan nulis itu ya. Ini kan bagus karena mereka nggak sekadar jualan buku saja,” dukung Donna. Yang perlu dibenahi paling-paling soal manajemen dan penataan buku dalam toko yang lebih terstruktur. Kata Tion, mulai minggu ini sudah ada tenaga yang membantunya untuk urusan yang satu itu.
Di Bandung, toko buku serupa sudah lebih dulu muncul. Namanya, Toko Buku Kecil alias Tobucil yang ada di Jalan Kiai Gede Utama Nomor 8. Penggeraknya adalah Tarlen Handayani. Toko buku ini juga mempunyai komunitas pencinta buku yang disebut klab baca. Ribuan buku dapat dipilih para pencinta buku dengan harga yang lebih murah dari toko-toko buku besar.
Menurut Tarlen, klab baca yang ada merupakan gabungan antara clubbing dan membaca. Mengapa begitu? Suasana clubbing sejak awal memang menjadi ciri khas kegiatan Klab Baca. tujuannya membuat kegiatan membaca menjadi lebih santai dan menyenangkan. Toh, membaca dan membahas buku tak perlu dengan kening berkerut dan mimik serius. Ketika awal didirikan 2001 lalu, dijuluki Pasar Buku Bandung. Kemudian beberapa bulan kemudian berubah nama menjadi Toko Buku Kecil (Tobucil) & Kelab Baca Bandung.
Dari Kelab Baca kemudian berkembang pada kelab-kelab yang lain, sebut saja Klub Nulis, Klub Nonton, Klub Dongeng Anak, dan ada juga yang membentuk komunitas Klub Baca Pramoedya, khusus membahas buku yang dikarang Pramoedya Anantatoer.
Tobucil juga merangkul para pehobi baca dan pencinta buku. Caranya dengan menjaring mereka lewat milis. Sudah ada ribuan alamat e-mail yang tergabung di milis ini. Di Tobucil tak ada sistem keanggotaan. ”Terbuka buat siapa aja, semuanya bisa datang. Dari sekian banyak anggota, ada yang paling junior, anak-anak kelas II SD dan yang paling senior berumur 73 tahun,” tukas sarjana lulusan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung ini.
(SH/bayu dwi mardana/danang joko murdono)

Sinar Harapan

1 komentar:

Go, go and go! mengatakan...

semangat pagi!
saya bangga ketika melihat tulisan rekan2 sekalian..
ijin memperkenalkan diri, nama saya dhila, sekarang ini saya menimba ilmu di IPDN, dan Alhamdulillah komunitas buku disini berjalan dengan baik, walaupun usianya terbilang masih muda.
ijin, kami dsni ingin menjalin jaringan seluas2nya agar mendapatkan saran yang membangun ataupun ide2 dan juga wawasan yang luas..

terimakasih atas kesempatan yg diberikan untuk menulis komentar..
dan nhn maaf apabila ada salah kata.

sekali lg, trmkash..
-salam komunitas buku IPDN-

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails