1.11.07

Book's Days Out

Republika, Minggu 5 Desember 2004

Aku hanya beli dua buku di Book's Days Out I ini, yakni The Crying of Lot 49 (Thomas Pynchon) dan Perfect Happiness (Penelope Lively). Ubing mengambil beberapa komik, Butir-Butir Waktu (Sydney Sheldon) dan Frankenstein (Mary Shelley). Aku gagal memenuhi janji tidak akan beli buku setelah terima empat buku dari Gramedia, dan ternyata benar.

Kedua buku itu aku beli karena murah. Sudah terlalu banyak buku baru yang aku punya namun tak segera aku masukkan ke dalam diri, dibaca. Aku baru menyelesaikan How to Read Literature Like a Professor (Thomas Foster) yang menyenangkan. Terakhir buku yang aku bawa-bawa malah The Complete Collected Poems of Maya Angelou (Maya Angelou), hadiah keluarga kawan yang sedang di AS. Aku lama sekali ingin baca puisinya, dan baru merasakan betapa bagus karyanya.

Aku suka Book's Days Out, serasa piknik bareng keluarga dan kawan-kawan. Itu sangat didukung oleh keadaan Rumah Buku, yang berhalaman luas, dengan taman hijau dan teratur. Meja panjang di simpan di tengah taman. Orang bisa duduk sambil baca, mengobrol, mengopi, merokok, minum, makan, menikmati suasana cerah yang dianugerahkan hari selama penyelenggaraan. Memang buku tidak dijual dengan sangat murah, tapi orang jadi tak peduli karena suasananya piknik sekali.

Book's Days Out akan diselenggarakan empat bulan sekali, di masing-masing penyelenggara awal Rumah Buku, Tobucil, Omuniuum secara bergiliran. Selain mereka, yang ikut serta dalam program ini ialah Foris Publishing, Tanah Air Klik, Institut Perempuan, Penerbit Jalasutra. Tapi kemarin, Kang Tanzil tanya di milis, "Kenapa Ultimus tidak ikutan ya?"

Aku tersenyum, sudah menduga muncul pertanyaan itu. Dulu setelah kedatangan Bang Mula Harahap ke Bandung dan aku mencoba mengajak teman-teman bikin acara bersama, rasanya perdebatannya jatuh ke tataran ideologi dan autoritas, hingga rencana gagal. Sekarang, ketika tiga pegiat bikin acara bersama, tentu ada yang bertanya, kenapa tidak mengajak rekan lain? Aku yakin kalau Book's Days Out dilakukan bersama sebanyak mungkin pihak lain di Bandung, hasilnya pasti berbeda, dengan persiapan berbeda tentu saja.

Minggunya (1/8) aku berkesempatan nonton Short Cuts, film karya Robert Altman. Ceritanya diambil dari cerpen Raymond Carver. Aku tak pernah menyangka bisa melihat film itu sejak terpikat membaca cerpen Carver. Ketika nonton, tiga jam lebih durasinya, aku teringat sejumlah cerpen Carver. Cuma sayang, listening yang buruk membuatku sulit menangkap rasa film itu -- humor, tragis, kegagalan komunikasi. Seharusnya ada subtitle, tapi itu VHS. Altman merangkai cerpen saling berhubungan dengan cantik. Kesukaanku pada Carver tuntas dengan nonton film itu.

Dua hari padat itu membuat Ubing dan Ilalang kecapaian. Semua yang sempat ke sana barangkali sama: beberapa orang ke sana berturut-turut, mengajak kenalan, membawa teman, bicara sejumlah hal, mendengarkan live music, nonton film. Penyelenggara juga kecapaian, tapi tampaknya puas. Dua hari itu Rani terlihat capai banget, menjelang sore dia terlihat kuyu. Rumah Buku dua hari lebih ramai dari biasanya, dan karena itu pasti menyita banyak energi. Senin pagi, kesenangan dari Book's Days Out masih berlanjut. Pagi-pagi kami terima sms Oky, "Ada yang mejeng di PR hari ini euy." Aku beli Pikiran Rakyat hari itu, buka-buka, aku terfoto dalam pemberitaan atas Book's Days Out. Aku tertawa: di kejauhan, tampak Tarlen sedang melayani pembeli.

Sejak Sabtu hari berjalan dengan baik. Aku menyelesaikan tulisan buat Matabaca. Lama sekali aku gagal menyelesaikan draft itu. Tapi rupanya kesenangan belum berhenti. Ketika Selasa sore pulang dari Maya dan Ultimus, aku disambut berita lain oleh Ubing: diberi Kompas seratus ribu. Barangkali karena aku menghadiri Forum Pembaca Kompas, dan diberi uang transportasi, meski tidak bisa sampai tuntas karena harus cepat-cepat ke Rumah Buku.

Forum Pembaca Kompas Minggu lalu menurutku lucu, terlalu banyak orang mengeluh tulisannya ditolak Kompas. Dulu waktu Pertemuan Peresensi Mizan sejumlah penulis juga mengeluh hal sama. Kalau mau, aku juga bisa mengeluh, termasuk tentang tulisan ditolak. Tapi kan redaksi juga punya autoritas, itu harus dihormati. Sejak dulu aku bersikeras kalau seseorang meneguhkan diri jadi penulis, menjalani karir dalam dunia tulis-menulis, jangan pernah putus asa kalau tulisannya tidak dimuat media massa. Menulis saja, berusaha saja, memperbaiki diri terus saja.

Banyak naskah tak dipublikasikan akhirnya jadi legenda. Sebaliknya, tulisan yang dimuat semata-mata merupakan daur ulang, hanya mendatangkan honor sesaat, dan secepat itu pula dilupakan. Tapi mengeluh mudah, dan itu menutup penglihatan bahwa orang bisa menulis di mana saja: di internet, milis, buku, web, blog, diari, baju, tubuh, bantal, secarik kertas. Terlalu banyak lembar kosong di alam ini, dan orang mudah bilang dirinya bekerja keras, pantas dihargai.

Padahal tidak sesederhana itu. Nabi yang mulia dan pantang menyerah saja dihina-hina oleh sebuah umat, dipermalukan penyakit atau kemalangan, bahkan diusir. Jangan kata ditolak oleh media. Kalau sudah berusaha maksimal, sebaiknya penulis jeli memperhatikan tipe media untuk tulisannya.
Aku bersyukur sempat mengalami hari-hari menyenangkan ini.

Penulis dan Editor Buku

(Anwar Holid )

Tidak ada komentar:

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails