1.11.07

Buku Masih Menjadi Barang ”Mewah”

Pikiran Rakyat, 15 Mei 2005


AKHIR April lalu, selama seminggu Mia Agustine (45) menghentikan semua kegiatan bisnisnya. Perempuan yang berusaha di bidang jual beli batu permata ini sengaja berdiam diri di rumah untuk membaca buku "Da Vinci Code", novel yang tengah laris awal tahun ini. "Saya ingin menamatkan buku ini. Secara rutin setiap bulannya saya sengaja mengosongkan setidaknya dua atau tiga hari khusus agar saya bisa membaca," cerita Mia.

Ia sebenarnya punya jadwal bisnis yang padat, bukan hanya di Kota Bandung, juga ke Jakarta, Malang hingga Surabaya. Jika berhitung untung rugi secara materi, kehilangan waktu tiga hingga seminggu merupakan kerugian besar. Banyak transaksi yang terpaksa ditangguhkan atau bahkan batal karena kebetulan jadwal pertemuan dengan pelanggan bentrok.

"Kalau menghitung nilai rupiah, memang saya rugi besar. Tapi dari sisi batiniah, saya memperoleh keuntungan yang tak bisa dinilai dari uang," aku ibu tiga putra ini.

Kebiasaan membaca ini, menurut Mia, memang membutuhkan "pengorbanan waktu". Soal waktu juga yang menjadi alasan Yati (32) terpaksa meninggalkan buku. Yati mengaku tak bisa menyisihkan waktu sedikitpun dari kesibukkannya selaku ibu rumah tangga untuk membaca. "Ingin sih membaca. Kalau ketika masih gadis, waktu luang begitu banyak, sekarang mah sudah tak ada waktu lagi," alasan Yati.

Kebiasaan membaca buku di kalangan perempuan Indonesia, khususnya para ibu rumah tangga, memang masih terbatas. Bahkan di sebuah kelompok ibu-ibu sebuah komplek perumahan, seorang ibu yang hobi membaca terpaksa mencari komunitas di luar perumahan yang memiliki hobi sama. "Soalnya saya sering dipandang aneh oleh teman-teman sesama ibu rumah tangga di perumahan saya. Kok sempat-sempatnya saya membaca buku yang menurut mereka tebal amat," cerita Arini.

Dari segi kuantitas, minat baca orang Indonesia memang tidak cukup tinggi, apalagi dibandingkan dengan jumlah penduduknya. Itu juga yang dilontarkan penggagas Klab Baca dan Klab Menulis Tobucil Bandung, Tarlen Handayani. Tobucil kependekan dari "Toko Buku Kecil" memfasilitasi komunitas penggemar buku untuk saling bertemu dan membagi pengalaman.

"Dari segi kualitas lebih rendah lagi. Banyak yang membaca tapi apa yang dibaca tidak dia pahami atau tidak berdampak pada kehidupan dia sebagai individu. Bacaan yang dia baca tidak memberi dampak sosial apapun," papar Tarlen.

Lebih menyedihkan jika masalah baca membaca ini dikaitkan dengan segmen yang lebih khsus, perempuan Indonesia. Menurut Tarlen, jika berbicara tentang minat baca perempuan Indonesia, ada satu stigma yang sangat mengganggu sekaligus menghambat keinginan perempuan Indonesia dalam membaca. Stigma bahwa perempuan tidak usah terlalu pintar karena laki-laki tidak suka pada perempuan pintar. Stigma ini tertanam begitu kuat dalam konstruksi sosial masyarakat Indonesia. "Sekarang perempuan sudah mendapatkan kesempatan cukup luas dalam hal pendidikan sehingga mereka punya kesempatan membaca lebih banyak. Namun ternyata tetap saja masih ada yang tak menerima "keberaksaraan" sebagian kecil perempuan Indonesia itu," tutur Tarlen .

Apa yang dikatakan Tarlen cukup beralasan. Setidaknya hal itulah yang tercermin dalam kalimat Laras (40) seorang ibu rumah tangga yang keadaan ekonominya cukup baik. Laras dan suaminya sepakat tidak berlangganan koran ataupun majalah, apalagi membeli buku. Suaminya bisa membaca koran di kantor. "Kata suami saya, buat apa membaca, kan kalau berita bisa kita tonton di televisi," ujarnya santai.

**

LEBIH jauh Tarlen melihat, pengaruh televisi terhadap minat baca juga sangat besar. Televisi menawarkan kemudahan dalam mencerna isi pesan yang ditampilkannya. Karena kemasannya lebih persuasif, banyak masyarakat menjadi enggan untuk melatih imajinasi dan rasa ingin tahu yang muncul, dari buku.

Berkaitan dengan daya beli terhadap buku. Tarlen tak sependapat jika dikatakan daya beli masyarakat rendah. " Saya nggak mau bilang kalau daya beli masyarakat rendah. (Masyarakat yang saya maksud di sini sebagian kecil yang minat bacanya telah tumbuh). Persoalannya bukan ada pada daya beli, tapi sejauh mana buku menjadi prioritas yang mereka konsumsi," tegasnya.

Menurut kacamata Tarlen, sebagai contoh remaja di Bandung mampu membeli baju seharga Rp 75 ribu hingga Rp. 150 ribu setiap bulannya. Tapi ketika membeli buku, mereka mengeluh, harga buku terlalu mahal. "Jadi persoalannya ada pada sejauh mana buku menjadi prioritas dalam daftar konsumsi mereka. Tapi secara garis besar buku memang masih menjadi barang mewah, karena tidak adanya subsidi (untuk kertas atau pajak), membuat buku jadi barang yang harganya terjangkau," aku Tarlen.

Jika membaca sudah merupakan kebutuhan bagi semua, banyak cara untuk mendapakan bahan bacaan dengan biaya murah. Sebut saja penulis Sri Anggani yang rajin menyambangi perpustakaan umum. Ia pun tak segan berjongkok di penjualan buku-buku murah di Kawasan Cikapundung Bandung.

Bahkan ia berusaha membagikan kebahagiaan membaca kepada ibu rumah tangga yang berhobi sama, dengan cara mengedarkan bahan bacaan miliknya kepada lingkungan RT nya. " Itu saya lakukan karena persoalannya sama, kita harus pandai-pandai menyisihkan uang belanja agar bisa membeli bahan bacaan," katanya.

Di Bandung, kini semakin banyak orang mendirikan komunitas baca. Salah satunya, Tobucil. Setidaknya seminggu sekali komunitas tadi berkumpul dalam klab baca. Di tempat yang ditata seperti rumah agar membuat orang betah ini ada juga klab menulis bagi mereka yang berminat untuk meneruskan langkahnya sebagai penulis.

Bagaimanapun,- walaupun ungkapan ini terasa klise-, buku adalah jendela dunia, benar adanya. Wawasan dan kemahiran menulis bisa terwujud dari hobi membaca. Hubungan antara membaca dan menulis sendiri luar biasa erat.

"Saya tuh ingin bisa menulis. Tak usah yang muluk-muluk, asal tulisan sederhana saja dan dimuat di media cetak," ujar Rosni (44). Ungkapan itu cukup membuat pendengarnya ternganga, karena keluar dari seorang Rosni, yang notabene adalah Guru bahasa Indonesia di sebuah sekolah lanjutan pertama negeri di Bandung. Ia sering memberi tugas mengarang bagi anak didiknya. Namun secara jujur, Rosni mengakui ia memang tak terlalu giat membaca!

"Banyak orang senang membaca tapi tidak bisa mengungkapkan pemahaman bacaannya ke dalam tulisan. Begitu pula banyak orang senang menulis tapi yang ditulis terasa dangkal karena mereka tidak banyak membaca. Sebenarnya, membaca sangat membantu kedalaman tulisan seseorang. Tapi kemampuan mengartikulaiskan perasaan, ide dan gagasan juga menjadi faktor yang memengaruhi kemahirnan menulis seseorang," ungkap Tarlen.

Kebiasaan membaca dan menulis juga sangat terasa pada kehidupan pribadi Sri Anggani. Saat kuliah ia sering menjadi ketua kelompok dalam tugas-tugas kuliah yang harus menghadirkan makalah. "Sayalah yang melakukannnya. Teman-teman saya menyerahkan sepenuhnya kepada saya, mereka bilang malas kalau sudah sampai urusan tulis-menulis. Tetapi dari kebiasaan ini saya tidak mempunyai kesulitan dalam menulis, begitu juga saat harus membuat skripsi," terang Sri.

Menurut kordinator klab baca, Lioni Beactrik sampai saat ini anggota komunitas yang dikoordinirnya kebanyakan terdiri dari para remaja. Begitu juga klab menulis yang di piloti Mirna A. "Kami tidak membatasi anggota, siapa saja dan usia berapa saja boleh bergabung di sini. Cuma kebanyakan yang berminat mereka yang berusia remaja hingga menjelang 40 tahun."

Di klab baca dan klab menulis yang diciptakan kondisi untuk mendapatkan atmosfir yang menyenangkan. Di sana buku dan tema yang dibahas sangat beragam. Namun bahan bacaan yang disukai kaum perempuan Indonesia masih terbatas pada seputar persoalan bagaimana mengidentifikasi dirinya. "Itu sebabnya majalah-majalah perempuan banyak dibaca perempuan dan mempunyai potensi pasar yang sangat besar. Bukan berarti hal itu tidak baik, tapi yang jadi persoalan, bagaimana kemudian bacaan seputar itu bisa mendorong perempuan untuk meningkatkan kualitas dirinya dengan terus menerus meng-up date wawasannya dengan memulai kebiasaan membaca," tegas Tarlen

Tarlen menyambut gembira kemunculan perempuan penulis yang kian banyak. Ia melihat pemicunya adalah terbukanya kesempatan mengeskpresikan diri. Kebangkitan ini ditandai dengan keluarnya Novel "Saman" karya Ayu Utami yang lolos sebagai karya sastra terbaik. Keberanian Ayu Utami menuliskan pandangannya tentang seksualitas yang selama ini dinilai tabu, mendorong bermunculannya suara-suara perempuan lain yang mulai berani menuliskan pikiran-pikirannya lewat buku.***

Uci Anwar

Tidak ada komentar:

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails