1.11.07

''Cultural Studies'' dan Dangdut Pura Wisata

Kompas, Minggu 19 Mei 2002

BANGUNAN Kantor LP3ES (Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial) di bilangan Slipi, Jakarta Barat itu, terkesan lusuh bagi mereka yang pernah mengenal kantor ini di zaman penerbitan dan jayanya majalah ilmiah Prisma di tahun 1970-an/1980-an. Prisma yang sejak semula terbit dengan semangat berpikir modernisme telah mati secara alamiah, seiring matinya modernisme dan developmentalisme yang sudah terbukti gagal seperti ditunjukkan oleh kejatuhan Orde Baru," kata Enceng Sobirin Nadj, Wakil Direktur LP3ES. Kini zaman "post-modernisme". Di Barat sendiri telah lama bertunas dan berkembang cultural studies yang punya dampak besar terhadap kehidupan intelektual.

Yang pertama harus dijawab barangkali, mengapa dalam "rubrik" seperti ini, yang biasanya menampilkan hal remeh-temeh kehidupan masyarakat sehari-hari, tiba-tiba membahas post-modernisme dan cultural studies (marilah kita singkat CS). Jawabannya: kami memperlakukan ilmu-di zaman ini-sebagaimana kami memandang fashion, film, kafe, musik, dan lain-lain. Dalam bahasa penggagas post-modernis, Jean-Francois Lyotard, di dunia "post-industrial" sekarang, ilmu itu sendiri telah menjadi sebuah komoditas. Lyotard mengistilahkannya sebagai "merkantilisme ilmu pengetahuan" (the mercantilisation of knowledge).

CS sebagai bidang studi berkembang di tengah era ini. Oleh para eksponennya dia dianggap cukup menjanjikan, karena usaha-usahanya yang eksplisit untuk mendedah soal-soal nyata sehari-hari, dari persoalan politik, rasial, seksual, kultural, transnasional, dan lain-lain. Terikat dengan sejarah para pelopornya seperti Raymond Williams dan Richard Hoggart, di Barat dia adalah usaha kelas buruh untuk menempatkan warisan kulturalnya sendiri sebagai bagian studi kebudayaan di universitas, dan itu pula yang memotivasi mereka untuk terus mengembangkan ilmu dan menggalakkan penerbitannya.

Stuart Hall, juga "pendekar" di situ, mengatakan kurang lebih (dalam konteks Inggris):

"Kami datang dari suatu tradisi yang sepenuhnya marginal bagi kehidupan akademik Inggris, dan keberpihakan kami pada pertanyaan-pertanyaan mengenai perubahan kultural-bagaimana kami memahaminya, menggambarkannya, menteoretisasikannya, apa akibat dan konsekuensi semua itu secara sosial-pertama kali dikenali dari dunia luar yang kotor..."

Dari kacamata pinggiran di luar mainstream akademik itulah mereka menggagas dunia sehari-hari. Inilah advokasi bagi orang banyak atas dunia pemikiran. Inilah sebuah "mode" yang kemudian meluas di Inggris dan Amerika. Contohnya kira-kira, kalau anak kita merengek-rengek minta makan "paket nasi" di rumah makan cepat saji yang sebetulnya isinya cuma nasi dan telur ceplok, sebetulnya kita kan bisa membikinnya sendiri? Kalau anak kita minta boneka Barbie (padahal itu jelas merongrong identitas bangsa kita sebagai bangsa kulit berwarna dan rambut keriting), itu kan merongrong identitas? Kalau pacar kita minta berlari-lari di taman Cibodas seperti adegan sinetron, itu kan harus disadarkan?

Nah, siapa yang harus bertanggung jawab atas semua itu? Pastilah bukan Dr Selo Sumardjan, Dr Ignas Kleden, Dr Arief Budiman dan tokoh-tokoh pemikir dari dunia akademik yang hebat-hebat itu. Soal makan, soal boneka tadi urusan Ibu Rini, Ibu Joko, Ibu Rita, atau istilahnya urusan masyarakat pada umumnya. Kurang lebihnya, pada masalah dan kesadaran semacam itulah CS bermain. Kurang lebihnya, tidak harus orang yang punya sejarah dan tradisi membaca Tolstoy dan Alexander Dumas saja yang boleh bermain-main dengan ilmu. Yang bacaannya di kala remaja cuma komik karya Jan Mintaraga pun boleh ambil bagian.

***

ARUS yang terjadi di Barat itu tentu juga punya imbas di Indonesia. Tak terlalu penting seberapa jauh ketertinggalan kita dalam pergulatan ilmu-ilmu art and humanities ini, tapi di berbagai tempat telah muncul kelompok-kelompok diskusi mahasiswa, yang menunjukkan gairahnya pada CS dan persoalan-persoalan masyarakat kontemporer. Di Yogyakarta misalnya, pekan lalu Kunci Cultural Studies Center yang didirikan dua anak muda, Antariksa (27) dan Nuraini Juliastuti (27, panggilannya Nuning), menyelenggarakan seminar "Asian Studying Asia: Cultural Studies in Asia Context" dengan pembicara antara lain Kuan-Hsing Chen dari Taiwan, selain Melani Budianta dan Maneke Budiman dari UI. Selama ini, kelompok itu aktif menerbitkan newsletter serta membuat website mengenai CS yang bisa diakses semua orang.

"Tiap terbit 1.500 eksemplar. Di Yogyakarta sendiri laku keras, pasarnya mahasiswa, dijual di toko dan lain-lain, harga per eksemplar Rp 1.500," kata Sholahuddin (24), Manajer Kunci.

Sementara menurut Antariksa, si penggagas Kunci, ia mendirikan lembaganya itu tiga tahun lalu, ketika melihat banyak kebuntuan ilmu-ilmu sosial di Indonesia, terutama di universitas. "Tidak ada dialog antardisiplin ilmu, ini yang ingin kita masuki, bagaimana semuanya bisa berdialog, enggak usah ngaku yang paling hebat," kata Antariksa. Dia merasa, ada masalah yang kita hadapi sehari-hari. "Terus ilmu sosial bisa ngomong apa? Bukan di tingkat teoretis, kita perlu kajian yang berpihak," tambah keluaran filsafat UGM ini.

Keprihatinan yang sama diungkapkan Nuning. Nuning sendiri, di tengah kesibukan seminar CS pekan lalu, berujar, "Saya suka ke Pura Wisata." Pura Wisata adalah tempat pertunjukan dangdut di Yogyakarta. "Nanti malam saya akan ajak Kuan-Hsing Chen ke Pura Wisata. Saya suka budaya pop, suka komik, suka film yang dianggap kacangan, suka perhatikan anak muda yang pakai baju GAM. Sementara orang tua hanya melihat ini tidak sesuai dengan budaya ketimuran, kita melihatnya lebih dari itu, kenapa sebenarnya, apakah benar ada yang disebut budaya Timur itu, apa benar ada yang disebut adiluhung?" ucap Nuning.

Di Jakarta, ada lembaga serupa, bernama IfCS (Institute for Cultural Studies). Ahmad Baso, pendiri dan pengurus IfCS, mengatakan banyaknya peminat terhadap CS. Tiga kelas Madrasah Emansipatoris (ME)-semacam kursus belajar kelas dewasa dengan pendekatan CS-katanya sudah dua tahun ini berjalan dan diminati banyak peserta.

Mungkin karena Baso berasal dari kalangan NU, IfCS kemudian lebih menaruh perhatian pada bidang-bidang misalnya hegemoni agama dan/ atau negara terhadap masyarakatnya, dengan mengambil fokus perhatian pada perempuan lokal dan masyarakat penduduk asli (indigenous people). Ada empat isu utama yang digarap IfCS, yakni menggagas kembali (rethinking) Indonesia; perempuan dan multikulturalisme; pribumisasi Islam; pesantren dengan isu rekonsiliasi agama dan kebudayaan.

"Kami sementara ini telah berinvestasi pengetahuan ke lokasi penelitian kami, masyakarat Kajang di Sulawesi Selatan, yang memiliki masalah karena memiliki ritus yang berbeda. Misalnya mereka beribadah haji di Gunung Bawakaraeng...," kata Baso yang berasal dari Sulawesi Selatan. Ia melihat mulai bersemainya CS ini, bersamaan lembaga semacam ISAI (Ikatan Studi Arus Informasi) dan Bentara Budaya.

***

BEGITU luas teba persoalan yang bisa disentuh CS, termasuk bagaimana kita menempatkan diri dan sikap kita di situ. Di Bandung, ada Klub Baca, yang pada mulanya didirikan oleh lima mahasiswa.

"Klub Baca itu gabungan dari clubbing dan membaca. Membaca sebenarnya adalah kegiatan serius, sementara clubbing itu bersenang-senang. Jadi, kami mencoba membuat aktivitas membaca itu sebagai sesuatu yang menyenang-
kan, termasuk membaca yang berat-berat," kata Tarlen (25), salah seorang penggagas Klub Baca.

Apa yang dimaksud dengan bacaan yang berat-berat? Tarlen dengan sedikit geli menceritakan pengalaman kelompok bacanya saat mereka mencoba membedah sebuah cerpen karya Nirwan Dewanto. Kata Tarlen, "Cerpen itu mendekonstruksi penokohan Rama-Shinta-Dewi Uma. Setelah baca tulisan itu tampang kita bete semua karena masih enggak ngerti." Di saat yang lain mereka membicarakan komik Asterix. "Hampir semua audiensnya adalah anak punk. Mungkin kedengaran konyol dan dangkal, tetapi Asterix itu sebenarnya bukan sekadar bacaan yang menghibur karena setelah dikupas dari berbagai sisi, terungkaplah bahwa pemunculan tokoh Asterix itu bisa merupakan strategi bangsa Perancis untuk mengangkat derajatnya yang dikalahkan orang-orang Romawi, misalnya," papar Tarlen tanpa kelihatan bete.

Kelompok ini kemudian mendirikan Tobucil (singkatan Toko Buku Kecil) di Jalan Ir H Juanda. "Ada yang iseng membuat pelesetan 'Toko Buku Pecicilan' atau 'Toko Buku Bisa Nyicil'," kata Tarlen sambil tertawa.

***

ADA proses yang nyaris berjalan serentak, dilandasi arus post-modernisme tadi. Termasuk di sini berdirinya usaha-usaha penerbitan di berbagai tempat. Salah satu contoh saja adalah Penerbit Mizan. Usaha yang dirintis tiga mahasiswa aktivis komunitas Masjid Salman, Bandung, 19 tahun lalu itu, saat ini tetap konsisten menerbitkan buku-buku yang bagi sebagian penerbit lain barangkali dinilai "tidak komersial".

"Misi kami memberikan warna pada wacana ilmu pengetahuan untuk kepentingan masyarakat. Konteksnya memang dalam wacana keislaman, tetapi kita tidak memandang penulisnya Muslim atau nonmuslim, asalkan untuk kepentingan umat. Kita tidak memandang Islam secara eksklusif namun dari kacamata inklusif," kata Kris, nama panggilan Gangsar Sukrisno, Manajer Humas dan Promosi Mizan Publika.

Diskusi, main-main dari yang enteng sampai serius, mendirikan toko buku, atau dengan kata lain kemudian lumernya batas antara "yang main-main dan serius", menjadi ciri kelompok-kelompok generasi ini. Anak-anak Bandung dari Klub Baca tadi misalnya, katanya juga pernah mendirikan forum yang mereka sebut "Aneka Ria Sriwacana". Kata Tarlen, "Isinya ngomongin wacana-wacana seni rupa dalam suasana amat cair."

Mau disebut sebagai tren atau tidak, namun inilah yang tengah merebak di mana-mana, yakni suara dari kelompok yang biasa disebut sebagai subaltern-kelompok yang tak tersuarakan-atas persoalannya sendiri. Mereka menolak dominasi rumusan-rumusan oleh pihak lain, termasuk oleh menara gading perguruan tinggi. Ruang lingkup mereka luas, menyentuh kehidupan sehari-hari, termasuk dangdut Pura Wisata tadi. (m05/m12/sig/ody/bre)

Tidak ada komentar:

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails