1.11.07

Festival Tanabata Gaya Anak-Anak

Kompas, Sabtu 10 Juli 2004


Buum.. buum..! Teeng.. Teeng! Demikian bunyi alat musik buatan yang ditabuh oleh sekitar 10 anak, di Toko Buku Kecil (Tobucil), Jalan Kyai Gede Utama. Mereka tampak bersemangat memainkan alat-alat musik yang dibuat dari barang-barang bekas. Ada kaleng rombeng, ember pecah, kursi besi rusak, bahkan batu-batu yang ditemukan di jalanan. Sementara itu sang dirigen, Tomoko Momiyama sibuk menjadi dirigen orkes yang ditonton sekitar 50 pengunjung itu.

Walaupun musik yang dihasilkan bukan dari alat musik sungguhan, namun terasa nada yang dikeluarkan begitu serasi dan merdu didengar. Ini terbukti dari sambutan para penonton yang memberikan tepuk tangan meriah, setelah mendengarkan konser tersebut selama 15 menit. Kepiawaian Tomoko mencari bunyi yang pas telah membuahkan hasil, meski waktu latihan yang tersedia hanya tiga hari.

Setelah alunan musik berakhir, setiap pengunjung diberi tanzaku, yaitu selembar kertas untuk menuliskan harapannya masing-masing. Pengunjung lantas menulis pada tanzaku tersebut dan menggantungkanya ke pohon cemara yang disediakan. Mereka tertawa-tawa, saling melihat keinginan satu sama. Kaya raya, menjadi juara, dan hidup bahagia adalah beberapa permintaan yang paling sering ditulis oleh para pengunjung.

Sementara di langit-langit ruangan, tampak tergantung berbagai macam hasil origami, yaitu seni melipat kertas dari Jepang. Bentuknya bermacam-macam, ada burung bangau, topi, pesawat, dan sebagainya. Hasil origami itu dibuat oleh anak-anak yang sama beberapa hari sebelumnya.

Kegiatan diatas merupakan salah satu rangkaian Acara Festival Tanabata yang diselenggarakan oleh Bandung Center for New Media Arts (BCfNMA) dan Tobucil pada tanggal 3 - 10 Juli 2004.

"Di Jepang, orang-orang menuliskan harapannya pada tanzaku selama Festival Tanabata, sebagai harapan bahwa bintang cinta di langit akan mengabulkan permintaan mereka bila saatnya tiba," kata Koordinator Proyek Festival Tanabata, Mizuho Matsunaga.

Festival Tanabata merupakan salah satu tradisi kuno Jepang yang populer. Tanabata berasal dari kata "Tana" yang artinya rak atau teralis dan "Hata" yang artinya tenunan. Festival ini juga biasanya disertai dengan pembacaan dongeng dari emakimono.

Emakimono adalah sebuah lukisan yang dibuat dengan manggabungkan beberapa gambar untuk dijadikan satu jalinan cerita. Secara harfiah, emakimono dapat diartikan sebagai gambar gulung. Bentuk seni lukis tradisional Jepang ini telah dimulai sejak abad ke-8.

"Ide Festival Tanabata ini sebenarnya kebetulan, waktu saya dan Mizuho menemukan sebuah lukisan Jepang di perpustakaan Common Room. Mizuho yang kasih tahu saya kalau itu adalah sebuah emakimono. Dari situlah, kita mendapatkan ide untuk mengadakan Festival Tanabata," ujar pengelola Common Room, Reina Wulansari.

"Saya dan Reina berpikir, ada baiknya emakimono itu diperkenalkan kepada publik daripada menyimpannya terkunci di perpustakaan. Kami berharap proyek seni ini bisa menjadi salah satu proyek pertukaran kebudayaan Jepang dan Indonesia," tambah Mizuho.

Di Jepang sendiri, Festival Tanabata diselenggarakan setiap tanggal 7 bulan 7. "Sebenarnya masyarakat di Jepang punya sistem penanggalan sendiri, jadi persisnya bukan tanggal 7 Juli. Tapi untuk memudahkan acara disini, kita pakai tanggalan Masehi," kata Reina.

Emakimono yang disebutkan Reina memiliki panjang sekitar tujuh meter dengan sembilan gambar. Selama berlangsungnya festival, emakimono itu dipamerkan di ruang Common Room dalam sebuah etalase.

Lukisan tersebut menceritakan seorang Puteri Orihime yang menikah dengan Pangeran Kengyu dari kerajaan langit. Namun, ayah sang pangeran ternyata adalah setan yang suka memangsa manusia. Setan setuju untuk tidak memakan Puteri Orihime asalkan mampu menggembalakan sapi-sapinya.

Akhirnya, berkat bantuan pangeran, sang puteri berhasil menjalankan tugasnya dengan baik. Namun, setan yang tidak menyetujui hubungan mereka, menciptakan sebuah sungai yang memisahkan Orihime dan Kengyu. Mereka hanya bisa bertemu setahun sekali, yaitu pada tanggal 7 bulan 7.

Reina mengatakan, dilibatkannya anak-anak dalam acara ini agar mereka mengenal Festival Tanabata dalam versi mereka, misalnya dengan memainkan musik atau emakimono buatan sendiri. Selama ini menurut Reina, anak-anak lebih mengenal hari perayaan dari daerah barat, seperti Halloween atau Valentine.

Emakimono dalam versi anak-anak, dimainkan oleh 12 anak yang dibagi dalam tiga kelompok, yaitu Gryffindor, Ravenclaw, dan Mighty Monkey. Setiap anak dalam kelompok punya tugasnya masing-masing. Andreas, dan Adi dari kelompok Mighty Monkey misalnya, memegang lukisan yang berjudul "Pertempuran Sang Naga dan Sang Setan", Nathanael membacakan naskah ceritanya, sedangkan Gilang dan Bintang memainkan musik latar.

Emakimono versi Mighty Monkey menceritakan seekor naga dan sang setan yang memperebutkan gelar panglima neraka. Setan yang licik kemudian mengajak kawan-kawannya untuk mengeroyok naga. Namun, naga tidak kehilangan akal dan merubah dirinya menjadi naga air. Sang setan dan teman-temannya disembur dengan air, namun jumlah mereka ternyata terlalu banyak hingga naga kewalahan.

"Sang naga lalu menyebarkan uang logam ke lautan. Setan-setan yang mata duitan segera menyerbu, lalu mati karena terkena air," kata Nathanael yang disambut gelak tawa dan tepuk tangan penonton.

Menurut Mizuho, emakimono merupakan sebuah bentuk animasi yang paling kuno dan menjadi awal mula komik modern. Menariknya, bentuk kesenian serupa juga dikenal di Indonesia sebagai wayang beber, yang kini sudah langka ditemukan. "Dalam beberapa hal memang ada kesamaan tradisi, terutama cara penuturan cerita yang menggunakan gulungan kertas," kata Mizuho.

Tanzaku-tanzaku itu masih terus tergantung di pohon harapan, sampai Festival Tanabata berakhir tanggal 10 Juli. Sementara itu pemiliknya berharap, bintang cinta di langit akan mengabulkan permintaan mereka. (J15)

Tidak ada komentar:

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails