1.11.07

Jalan Menuju ”Wisata Buku”

Pikiran Rakyat, Sabtu 15 Juli 2003

BUKU adalah jendela dunia, begitu kata pepatah. Orang tua mana yang tak merasa prihatin saat menyadari bahwa anak-anak mereka tak suka membaca atau bahkan tak cepat bisa membaca.

Ironis memang ketika anak lebih menyukai mainan-mainan yang sedang ngetren saat ini, sebut saja beyblade (gasing dari Jepang) atau balap mobil Tamiya bila dibandingkan buku.

Buku harus diakui, selain memang harga buku ada yang lumayan mahal, juga karena untuk mendapatkan buku seseorang harus pergi ke toko buku yang artinya ia harus mengeluarkan ongkos juga waktu. Di samping dua faktor di atas, bisa jadi ketidakfamiliaran anak-anak kita terhadap buku karena minat baca mereka yang rendah. Hal itu tentu membutuhkan kajian yang lebih mendalam.

Apa benar demikian, begitu mahalnya harga buku hingga minat baca rendah? Atau mungkin ungkapan minat baca di Indonesia tergolong rendah hanya karena kemalasan? Wagub Jabar Bidang Pemerintahan, Drs. H.M. Jachja Saputra pernah mengatakan rendahnya SDM Jabar salah satu faktor penyebabnya karena belum terbangunnya budaya membaca secara menyeluruh. Bahkan, minat baca secara umum di kalangan masyarakat Jabar sangat rendah, terutama di masyarakat pedesaan. "Di kalangan anak didik, di seluruh strata juga memprihatinkan. Dari SD, SLTP, SLTA bahkan sampai perguruan tingi, minat baca masih jauh dari ideal," kata Jachja.

Rendahnya minat baca, ungkap Jachja, juga karena budaya membaca belum jadi bagian hidup masyarakat Jabar. Angka melek huruf masih di bawah standar bila dibandingkan rasio jumlah penduduk Jabar. Selain itu, sarana, prasarana, serta fasilitas yang mendukung ke arah terciptanya budaya membaca belum tersedia secara memadai. Adanya perpustakaan masih sangat langka. Sementara perpustakaan yang ada pun, ternyata jarang dikunjungi dan bukan menjadi salah satu tempat tujuan.

Akan tetapi, kita patut percaya minat baca itu cukup besar. Tentu bila ada kemauan dari penggiatnya untuk memburu di mana pun buku itu ada dan dengan cara apa pun harus didapat. Gagasan ini disambut baik oleh Winmuldian dengan gerakan 1001 bukunya. Ia melalui komunitasnya berusaha mengumpulkan buku-buku sumbangan dari orang-orang yang peduli mendorong peminat yang kehausan buku. Dengan moto "Sumbangkan buku bagi belia dan lihatlah mereka tumbuh dengan mimpi-mimpinya", Winmuldian bersama relawan lainnya memiliki tujuan menyediakan buku yang bisa diakses masyarakat luas terutama anak-anak.

**

WINMULDIAN dan teman-temannya adalah kelompok relawan dengan beragam latar belakang yang direkatkan oleh keinginan sama untuk menyumbangkan waktu, tenaga, dan berbagai keahlian untuk mendukung tumbuhnya perpustakaan dan taman bacaan anak di berbagai wilayah. "1001 Buku" adalah jaringan relawan dan pengelola perpustakaan anak yang bertekad untuk membawa lebih banyak buku untuk anak-anak yang hampir tidak memiliki akses pada bahan-bahan bacaan yang berkualitas.

Awalnya, beberapa orang yang memiliki concern terhadap sulitnya akses terhadap buku yang dialami anak-anak kurang mampu, tertarik dengan beberapa perpustakaan/taman bacaan anak yang dibangun oleh kalangan komunitas dan pribadi untuk masyarakat umum. Mereka sepakat dengan ide perpustakaan komunitas ini dan berkeinginan untuk turut mendukung pertumbuhan dan perluasannya. Namun, mereka sadar tidak setiap orang memiliki waktu dan dedikasi yang cukup untuk membangun dan mengelola taman bacaan.

Atas latar belakang inilah, mereka membangun milis 1001buku@yahoogroups.com sebagai sarana menggalang segala upaya untuk mengumpulkan buku sebanyak-banyaknya bagi anak anak. Di antara upaya pengumpulan buku tersebut adalah dengan meletakkan Book Drop Box (BDB) di berbagai lokasi strategis seperti toko buku, supermal, dan gedung perkantoran, "Jemput Bola" (mengambil buku langsung dari penyumbang), "Sapu Jagat" (mengadakan program pengumpulan buku di suatu wilayah komplek perumahan), dan "Book-A-Thon".

Sekarang milis 1001buku beranggotakan lebih dari 200 orang dan memiliki sekira 50 relawan aktif. Saat ini, komunitas 1001buku juga mulai mengembangkan sayapnya ke daerah seperti Bandung, Yogyakarta, dan Semarang. Ke depan, diharapkan komunitas ini akan terus luas hingga ke seluruh nusantara. Sementara itu, hingga saat ini perpustakaan/taman bacaan anak yang terdaftar di dalam jaringan 1001buku sudah mencapai lebih dari 30 buah. Sebuah fenomena tersendiri bila melihat awal pendiriannya 10 Januari 2003 lalu yang diluncurkan di British Council Jakarta.

**

BOLEH jadi kemudahan mendapatkan buku karena adanya informasi melalui internet serta munculnya penerbit-penerbit baru, dan lahirnya toko-toko buku baru serta taman bacaan/ klub baca, memungkinkan tumbuhnya minat baca pada kalangan yang lebih luas.

Pada klub buku biasanya ada komitmen di antara anggotanya untuk bertemu sekali setiap bulan membicarakan buku dengan judul sama yang telah ditentukan sebelumnya. Mereka bertemu sebulan sekali di rumah salah satu anggota dan tiap anggota diminta aktif memberi komentar.

"Dalam 'klub buku' tak hanya memberi komentar, setiap anggota juga diminta mengusulkan satu judul buku yang akan kami baca selama sebulan berikut," kata Ita, coorporate affairs Citibank Indonesia, seorang pencinta buku.

Karena minat dan latar belakang anggotanya juga beragam, judul-judul yang ditawarkan otomatis menjadi beragam. Akan tetapi, itu malah memberi tambahan pengetahuan karena boleh jadi kita dipaksa membaca buku-buku yang tadinya tidak terpikirkan untuk dibaca.

Anggota klub baca yang cukup serius ini menetapkan syarat buku yang diajukan untuk dibaca dan didiskusikan anggotanya itu berusia paling lama 3 tahun sejak tahun penerbitan dan merupakan buku yang memenangkan penghargaan seperti Pulitzer atau Booker Prize. Kalaupun tidak mendapat penghargaan, dia termasuk buku yang paling laris dalam daftar, misalnya New York Times.

**

DI Kota Bandung, klub baca mulai bermunculan. Mereka berkumpul atas dasar kesamaan minat. Dulu, ketika Toko Buku Kecil (Tobucil) masih di kawasan Jalan Ir. H. Juanda Bandung, lorong-lorong menuju toko disulap jadi arena diskusi. Kursi disusun melingkar dengan meja bundar berdiameter 1 meter di tengahnya.

Mereka yang duduk berasal dari berbagai latar belakang usia dan berhimpun dalam sebuah klub yang bernama "Klab Baca". Di Tobucil, banyak ruangan yang bisa dimanfaatkan untuk diskusi. Ribuan buku berderet pada etalase yang terbuat dari bahan kayu. Berjejer rapi mengisi ruangan berlapiskan batako. Konon, kempat ini telah menjadi rujukan utama para pencinta buku.

"Jika ditanya apa itu Klab Baca, kami lebih senang menjawab bahwa Klab Baca adalah gabungan antara clubbing dan membaca. Mengapa begitu? Suasana clubbing sejak awal memang menjadi ciri khas kegiatan Klab Baca," imbuh Tarlen Handayani.

Masih menurutnya, tujuannya membuat kegiatan membaca menjadi lebih santai dan menyenangkan. Toh, membaca dan membahas buku tak perlu dengan kening berkerut dan mimik serius.

Ketika awal didirikan 2001 lalu, dijuluki Pasar Buku Bandung. Kemudian beberapa bulan kemudian berubah nama menjadi Toko Buku Kecil (Tobucil) & Kelab Baca Bandung.

Sejak didirikan hingga saat ini, telah menjaring milling list (milis) dengan 1.800 alamat e-mail. "Tidak ada keanggotaan. Terbuka, siapa aja bisa datang. Dari sekian banyak anggota, ada yang paling junior, bocah kelas II SD dan yang paling senior berumur 73 tahun," ujar sarjana lulusan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung ini.

Dari Kelab Baca kemudian berkembang pada kelab-kelab yang lain, sebut saja Klub Nulis, Klub Nonton, Klub Dongeng Anak, dan ada juga yang membentuk komunitas Klub Baca Pramoedya, khusus membahas buku yang dikarang Pramoedya Anantatoer.

Sebenarnya, cikal bakal klab baca telah dirintis 1999 lalu. Awalnya, kegiatan kumpul-kumpul yang dilakukan dari rumah ke rumah para anggotanya yang waktu itu jumlahnya tak kurang dari 10 orang. "Kami berkumpul membahas satu cerita karya sastra penulis dalam dan luar negeri. Kegiatan ini bertahan 1,5 tahun. Pertengahan 2000, kegiatan terhenti karena kesibukan masing-masing." Baru mulai 2001, tepatnya 2 Mei, tiga anggota Kelab Baca yaitu, Connie, Rani, dan Tarlen membuka Toko Buku Kecil (Tobucil). Dari toko buku ini, kembali ingatan Tarlen dan Rani disegarkan untuk menghidupkan kembali Kelab Baca mulai September 2002, kegiatan Klab Baca Minggu sore kembali memiliki aktivitas rutin. Toko buku "Kecil" yang sejak Mei 2003 lalu menempati sebuah ruangan yang dikontraknya di Jalan Kiai Gede Utama Nomor 8 Bandung.

Supaya kelab baca ini tetap bisa menarik minat anggota, Tarlen sengaja mempertahankan suasana informal, santai, dan akrab sehingga setiap orang bisa saling berbicara tanpa khawatir ada kesenjangan pengetahuan, umur, dan wawasan. "Ketika membahas Tao, pernah ada peserta yang berusia 73 tahun sampai yang berusia lima tahunan. Kami sempat kebingungan bagaimana mengobrolnya. Akhirnya, ya kami mulai dengan pertanyaan seputar Tao, setelah itu dialihkan dengan cerita Winnie The Pooh. Dari situ semua ikut berbicara, juga anak kecil yang umurnya 5 tahun tadi," imbuh Tarlen pada "Hikmah".

Dari Kelab Baca, berkembang juga pada hal lain yang berkaitan dengan buku. "Ke depan, kami akan membuat Peta Buku Bandung yang insya Allah akan diedarkan ke publik 8 September nanti. Dalam peta ini akan dimuat informasi perbukuan. Gagasan utama dari Peta Buku Bandung ini adalah membentuk jaringan perbukuan Kota Bandung dan sekitarnya. Dengan memetakan lokasi toko-toko buku 'alternatif', penerbit, taman bacaan, perpustakaan, komunitas-komunitas pencinta buku di kota Bandung," tambah Tarlen. Bila Bandung selama ini dikenal sebagai kota wisata belanja dengan segudang factory outlet-nya, bukan tak mungkin Bandung juga bisa dikenal dengan wisata bukunya.

**

TAK hanya di Bandung rupanya yang menjadi penggiat bacaan, di beberapa kota juga sudah mulai berkembang. Bahkan, pemrakarsanya pun bukan lagi datang dari individu. Kelompok-kelompok baca juga ada yang diprakarsai perusahaan. Citibank misalnya, punya kegiatan peningkatan minat baca anak melalui program Citibank Peka beberapa tahun silam, bekerja sama dengan Yayasan Pustaka Kelana yang memiliki sejumlah lokasi baca di Jakarta. Begitu juga stasiun televisi RCTI bekerja sama dengan jaringan rumah makan Hoka Hoka Bento menyelenggarakan Rumah Baca RCTI. Kegiatan ini telah tersebar di 14 daerah tertinggal di Jawa, Madura, dan Flores.

Bila belakangan terasa ada peningkatan kegiatan yang berhubungan dengan membaca hingga ke pelosok-pelosok, tidak bisa tidak, itu adalah sebuah pertanda telah munculnya semangat zaman baru di Indonesia. Reformasi sedikit banyak ikut menyumbang pada suasana yang lebih terbuka dan menumbuhkan inisiatif masyarakat sehingga misalnya, klub baca Kecil di Bandung bisa membentuk klub khusus untuk mendiskusikan buku-buku karangan penulis tertentu.

Sementara itu, menurut Andy Yudha, General Manager Penerbit DAR Mizan, ia juga mengamati taman bacaan juga tak hanya dirintis oleh para penulis, namun aktivis yang peduli terhadap bacaan. Di dua pendopo berukuran 4 x 5 meter dan 3 x 5 meter beratap daun kelapa di tengah-tengah kebun buah yang luasnya tak kurang dari 500 meter persegi, ada 400-an anak menjadi anggota Pustaka Loka Rumah Dunia di Desa Ciloang Serang tersebut yang didirikan atas inisiatif Gola Gong yang pernah dikenal sebagai penulis remaja. Di sana mereka tidak hanya disediakan buku-buku yang jumlahnya 3.000 buah, tetapi mereka juga diajar membaca dengan benar.

Seperti dituturkan Tyas, istri Gola Gong yang menjadi pengelola Pustakaloka Rumah Dunia, ada anggota yang setelah ikut Pustakaloka, tak lama setelah itu anak SD kelas III ini sudah bisa membaca dengan lancar. Mereka yang hadir di Pustakaloka diajak mengekspresikan perasaan dan pikiran mereka dengan mengarang, membaca puisi, bermain teater dan drama, juga diajak mendongeng. "Semua kegiatan di sini tidak dipungut bayaran alias gratis," imbuh Tyas.

Anak-anak datang juga ada yang tanpa alas kaki, tetapi mereka tampak menikmati kegiatan ini. Gola Gong pun memasukkan karya anak-anak tersebut secara rutin ke dalam mailing list di internet yang peduli dengan kepustakaan, yaitu Pasarbuku, 1001buku, Forum Lingkar Pena, dan lain-lain.

Melalui mailing list itu datang berbagai tanggapan dari berbagai belahan dunia. Salah satunya dari seorang mahasiswa Indonesia program S-II yang sedang belajar di luar negeri yang memberi motivasi agar mereka rajin belajar dan bukan hal mustahil di antara mereka nantinya ada yang bisa belajar ke luar negeri.

**

ANDI Yudha menyambut baik gairah para orang tua yang menggagas dan mewujudkan perpustakaan di rumahnya. Alasannya, melalui pengadaan sarana perpustakaan seperti itu tentunya anak-anak semakin terkondisikan untuk mengalami percepatan ilmu pengetahuan. Kegiatan membaca pada hakikatnya adalah upaya terobosan bagi seseorang untuk memperoleh ilmu pengetahuan secara cepat.

"Membuat perpustakaan pribadi atau perpustakaan keluarga, jelas sangat bermanfaat. Itu artinya, di rumah kita selain ada jendela rumah, juga akan ada 'jendela dunia' yakni perpustakaan berikut buku-buku bacaannya. Dari membaca buku, kita bisa melihat dunia lain di luar rumah kita. Di masa liburan ini, sungguh cocok bila para orang tua bersama-sama putra putrinya mengadakan perpustakaan. Ajaklah anak berbincang-bincang tentang bagaimana bentuk atau desain ruang perpustakaan dan buku-buku yang mesti terdapat di dalam perputakaan keluarga tersebut," ungkap Andi Yudha.

Maraknya cerita elektronik dalam kemasan VCD, menurut pengelola penerbit Mujahid Bandung, Abu Ghifari, sesungguhnya bukan merupakan ancaman bagi para penerbit buku. Alasannya, ada banyak hal yang tidak didapatkan oleh para penonton VCD. Mereka baru memperoleh hal yang "hilang" itu dari buku-buku. "Bagi kami, penerbit Mujahid Bandung, cerita-cerita atau informasi melalui media elektronik seperti VCD justru semakin mendorong untuk berkreasi lebih optimal lagi."

Pernyataan tentang betapa besarnya manfaat buku dan pengadaan perpustakaan di rumah, diungkapkan pula Ny. Lina Wahid, di masa sebelum liburan lalu anak-anaknya sudah dikondisikan untuk merancang ruang baca sekaligus ruang penawaran bagi masyarakat untuk sama-sama "menikmati" bahan bacaan.

"Bersama anak saya yang sekolah di SDIT Imam Bukhari Sayang-Jatinangor, kami menyiapkan ruang di rumah ini untuk keperluan tersebut. Manfaatnya ternyata besar sekali. Teman-teman sekolah anak saya menjadi tertarik dengan buku-buku yang ada di rumah, dan mereka pun membaca serta membelinya. Walhasil, rumah saya tidak hanya menjadi ruang baca atau ruang melihat-lihat buku, tetapi juga berubah fungsi menjadi semacam toko buku yang cukup laris," kata Ny. Lina Wahid, warga Bumi Rancaekek Kencana Kab. Bandung.

Diceritakannya, di kompleks Bumi Rancaekek Kencana sebenarnya sudah ada dua taman bacaan. Entah karena apa, anak-anak dan remaja juga menggemari koleksi bahan bacaan di rumahnya.

**

JIKA di ruang-ruang perpustakaan keluarga di rumah bisa diatur atau dikoleksi buku secara seimbang antara jenis fiksi dan nonfiksi, sedangkan di taman-taman bacaan yang biasa terdapat di komplek cenderung buku yang disajikannya adalah jenis fiksi, seperti cerita-cerita anak, remaja, serta buku bergambar atau komik. "Sebagai pendidik, sebenarnya saya ingin menawarkan kepada anak-anak buku jenis nonfiksi. Akan tetapi, ternyata jarang peminatnya. Akibatnya, kami hanya memperbanyak buku jenis fiksi. Ya, di antara buku fiksi yang ada di taman bacaan, juga kami selipkan fiksi bernuansa ilmu pengetahuan," ujar Yayat (34 tahun), pengelola taman bacaan di kompleks Bumi Rancaekek Kencana.

Budaya membeli dan membaca buku sebenarnya sangat bermanfaat dan perlu ditanamkan pada diri anak-anak sejak dini. Jangan sampai anak-anak lebih tertarik membeli mainan daripada buku karena buku akan menambah dan memperluas wawasan anak-anak.

"Waktu saya bersama suami hidup di Selandia Baru, di sana terstimulus untuk cinta buku. Ya, termasuk cinta membaca buku berbahasa Inggris. Kebiasaan itu terbawa sampai di Indonesia sehingga kami pun membuat ruang perpustakaan di rumah," ujar Ny. Opi, warga Cileunyi. EYP/Aji/"PR"-Jalu

Tidak ada komentar:

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails