1.11.07

JiFFest Traveling di Bandung Mengembangkan Potensi Sineas Lokal

Kompas, Sabtu 15 Mei 2004

"Ke mana perginya matahari,/ pemberi cahya bagi nurani,/ terusir dari duniawi/ tertindas oleh kesewenangan..."


PENGGALAN syair lagu Kemana Perginya Matahari di atas merupakan soundtrack film Kasus Tanah Cigembong, sebuah film dokumenter lokal yang ditampilkan dalam Jakarta Internasional Film Festival (JiFFest) Traveling di Bandung, 8-13 Mei lalu. Film berdurasi 14 menit karya sutradara Kartawijaya tersebut mengisahkan perjuangan masyarakat Cigembong, Kecamatan Cisewu, Garut, untuk merebut kembali hak atas tanah mereka.

Film karya sineas Bandung lainnya yang ditayangkan dalam JiFFest Traveling adalah Titik 48 Koma karya R Adjie Sambogo, Keyakinan karya Elva Silva Muin, dan Genggong Dokumen Kecil dari Jungsri Bali karya Tiwi Sakuhachi. Film lain yang ditampilkan adalah 3 Frame produksi Liga Film Mahasiswa Institut Teknologi Bandung.

Keberadaan lima film lokal dalam JiFFest Traveling di Bandung bukan hanya melengkapi film-film asing yang dihadirkan. Kehadiran mereka memberikan apresiasi yang lebih luas bagi peminat dan pemerhati film.

Menurut Program Manager JiFFEst Lalu Roisamri R, program pemutaran keliling film-film yang pernah ditampilkan dalam JiFFest tahun sebelumnya telah dilakukan sejak tahun 2000. Film kelas festival tersebut sengaja diputar di beberapa kota di Indonesia untuk memberikan kesempatan bagi masyarakat di luar Jakarta untuk mengapresiasinya.

"Memang, tidak semua film yang ditampilkan dalam JiFFest dapat disaksikan dalam JiFFest Traveling karena pemilik film keberatan film mereka diputar dalam bentuk video, tetapi ini dapat dijadikan akses untuk menikmati film kelas festival," ujar Roisamri.

Ia menambahkan, karena semua film dalam JiFFest tidak dapat ditampilkan dalam JiFFest Traveling, manifestasi tema JiFFest 2003 "Memahami Perubahan" kurang kelihatan.

Meski begitu, acara ini memberikan pengaruh besar bagi peminat film di Bandung. Selain dapat menyaksikan film-film festival, ruang apresiasi mereka menjadi lebih terbuka. Kegiatan ini juga diharapkan memberikan darah segar bagi sineas lokal dalam menuangkan ide mereka melalui film.

DI Bandung, JiFFest Traveling diselenggarakan di tujuh perguruan tinggi, yaitu Institut Teknologi Bandung, Universitas Islam Bandung, Sekolah Tinggi Seni Indonesia, Universitas Widyatama, Universitas Katolik Parahyangan, Universitas Padjadjaran, dan Institut Agama Islam Negeri Sunan Gunung Djati. Mahasiswa dijadikan sasaran pemutaran film-film JiFFest karena untuk memahami film-film itu perlu apresiasi khusus untuk mencernanya.

Lebih kurang 30 film ditampilkan secara bergantian di setiap kampus. Setiap film, diputar sebanyak satu-dua kali. Film-film yang ditayangkan umumnya bertema kritik dan kontrol sosial terhadap berbagai persoalan kemanusiaan.

Koordinator lokal JiFFest Traveling Bandung Tarlen Handayani menyatakan, kampus dipilih sebagai lokasi pemutaran film-film JiFFest karena komunitas film di kampus mulai tumbuh. Sejumlah mahasiswa di berbagai kampus, baik yang berada di jurusan film maupun nonfilm juga telah banyak membuat film sendiri.

"JiFFest Traveling ini merupakan kesempatan yang bagus bagi mahasiswa untuk mengapresiasi film-film festival tingkat internasional," ujar Tarlen.

Kampus juga dipilih karena beberapa kampus memiliki fasilitas yang memadai untuk memutar film. Proses perizinannya pun lebih mudah, tidak terlalu birokratis. Di samping itu, kampus juga lebih longgar terhadap materi film.

"Walau di SMA juga sudah tumbuh komunitas film, birokrasi di SMA dirasa lebih sulit. Selain itu, sekolah umumnya keberatan dengan isi film, seperti harus bebas dari pornografi dan SARA," ujar Tarlen.

Di beberapa kampus, sambutan mahasiswa terhadap film-film yang ditampilkan cukup bagus. Di Universitas Widyatama, Selasa (11/5), puluhan mahasiswa memenuhi gedung teater. Menurut rencana, dua film Indonesia dan tiga film asing akan ditampilkan. Ternyata, beberapa kaset video mengalami kerusakan. Akibatnya, diputarlah film lain sebagai pengganti.

Demikian pula di Universitas Parahyangan, Rabu (12/5). Meskipun pada saat yang bersamaan dilangsungkan ujian akhir semester, belasan mahasiswa tetap menyaksikan pemutaran film.

DEMAM membuat film sedang merambah anak-anak muda Bandung, mulai dari siswa sekolah menengah pertama (SMP) hingga para mahasiswa. Beberapa sekolah bahkan telah mengaplikasikan pembuatan film sebagai tugas sekolah.

Tingginya antusiasme masyarakat dalam membuat film diakui Tarlen dan Roisamri sebagai hal yang mengejutkan. Anak-anak SMP yang dianggap masih suka bermain-main dan kurang bisa serius, ternyata mampu membuat film yang bagus. Ide cerita film yang mereka garap cukup beragam, mulai dari kehidupan pedagang kaki lima, pembuat tato, hingga klub pencinta sepeda.

"Membuat film independen itu mudah, cukup dengan menggunakan handycam," tutur sutradara film Titik 48 Koma Adjie Sambogo. Proses editingnya pun sederhana, banyak software yang bisa digunakan.

Melihat potensi kaum muda Bandung dalam membuat film, Tarlen optimis perkembangan film di Bandung dua tahun kedepan akan sangat pesat. Masyarakat telah menganggap film sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Namun, dukungan dari pemerintah sangat diperlukan untuk menghasilkan film-film yang bermutu. Keanekaragaman budaya di Indonesia merupakan sumber inspirasi yang melimpah dalam pembuatan film.

"Kondisi komunitas perfilman yang mendukung perlu di-support oleh pemerintah karena membuat film itu butuh dana besar dan riset yang lama," ujar Adjie.

Sementara itu, Roisamri berharap, potensi yang ada di Bandung mampu menghasilkan sebuah festival film sendiri sehingga wahana apresiasi sineas Bandung semakin banyak dan beragam. (M Zaid Wahyudi)

Tidak ada komentar:

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails