1.11.07

Membaca, Kafe, dan Proyek Pemberdayaan

DI dua pendopo berukuran 4 x 5 meter dan 3 x 5 meter beratap daun kelapa di tengah-tengah kebun buah seluas sekitar 500 meter persegi, Ipah (10) bersama sekitar 10 anak lain seusianya tengah asyik membaca. Di sana, di Pustakaloka Rumah Dunia di Kampung Ciloang, Serang, Ipah memiliki buku favorit, yaitu seri Goosebumps karya RL Stine. "Buku ini kegemaran saya," tutur Ipah yang berkulit gelap.

BILA Ipah sekarang sudah bisa mengatakan memiliki buku favorit, lebih setahun lalu murid kelas III SD Sumber Agung, Desa Ciloang, Kabupaten Serang, Banten, itu masih kesulitan membaca. Setiap kali dia harus mengeja kata demi kata. Setelah ikut dalam kegiatan membaca di Pustakaloka Rumah Dunia, perlahan-lahan kemampuan membaca Ipah meningkat. Kini, hampir tiap hari Ipah dan juga teman-teman sebaya lainnya rajin datang ke Pustakaloka Rumah Dunia.

Di Kota Bandung, klub baca mulai bermunculan. Salah satunya yang bahkan memiliki kelompok diskusi dalam situs Internet adalah klub baca yang digagas toko buku Kecil. Dimulai bersamaan dengan berdirinya toko buku itu pada tahun 2001, klub baca ini awalnya memiliki anggota hanya 15 orang, terdiri dari kalangan dosen, pensiunan, karyawan, mahasiswa, sampai siswa sekolah menengah umum. Sekarang, klub baca ini telah tumbuh dengan membentuk sebuah klub khusus membahas buku-buku karangan Pramoedya Ananta Toer dan dinamai klub Pramoedya, dan satu lagi berupa klub khusus untuk menulis yang usianya baru satu bulan.

Di Jakarta, kelompok-kelompok membaca sudah tumbuh cukup lama dan penggagasnya individu-individu atau perusahaan. Ada yang ditujukan untuk kelompok bawah dengan membuat perpustakaan sederhana, tetapi ada juga yang terdiri dari sekelompok individu yang memang memiliki kebutuhan sama, yaitu menambah pengetahuan melalui bacaan.

"Saya sudah ikut kelompok diskusi buku sejak 12 tahun lalu, anggotanya kebanyakan orang asing yang tinggal di Indonesia. Yang bertahan dari jumlah itu saya sendiri. Selebihnya selalu berganti, terutama pada tahun-tahun 1997-1998," tutur Ditta Amahorseya, Corporate Affairs Head, Citibank Indonesia.

Sementara Arianita, sekretaris sebuah perusahaan konsultan yang berkantor di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, mengaku baru sejak lima tahun lalu aktif berdiskusi mengenai berbagai hal yang menjadi isu di masyarakat. "Kami dulu biasanya berkumpul di News Café setelah pulang kerja. Masing-masing kami sudah membawa buku yang sedang kami baca," tutur Arianita.

Kelompok-kelompok baca juga diprakarsai oleh perusahaan. Citibank misalnya, punya kegiatan peningkatan minat baca anak melalui program Citibank Peka sejak lima tahun lalu, bekerja sama dengan Yayasan Pustaka Kelana yang memiliki sejumlah lokasi baca di Jakarta. Begitu juga stasiun televisi RCTI bekerja sama dengan jaringan rumah makan Hoka Hoka Bento menyelenggarakan Rumah Baca RCTI. Kegiatan ini telah tersebar di 14 daerah tertinggal di Jawa, Madura, dan Flores.

Bila belakangan terasa ada peningkatan kegiatan yang berhubungan dengan membaca hingga ke pelosok-pelosok, tidak bisa tidak itu adalah sebuah pertanda telah munculnya semangat zaman baru di Indonesia. Reformasi sedikit banyak ikut menyumbang pada suasana yang lebih terbuka dan menumbuhkan inisiatif masyarakat sehingga, misalnya, klub baca Kecil di Bandung bisa membentuk klub khusus untuk mendiskusikan buku-buku karangan Pramoedya Ananta Toer-sesuatu yang rasanya mustahil dilakukan pada masa lalu.

Hal lain adalah banjirnya informasi dari berbagai tempat, kemudahan mendapatkan buku karena adanya informasi melalui Internet, serta munculnya penerbit-penerbit baru, dan lahirnya toko-toko buku baru memungkinkan tumbuhnya minat baca pada kalangan yang lebih luas. Ditta Amahorseya misalnya, mencari informasi buku- buku baru melalui jaringan Internet, kadang-kadang memesan pula melalui Internet atau memesan melalui toko buku seperti Quality Buyers (QB) World, Aksara, atau Kinokuniya.

APA saja yang dilakukan klub baca-klub baca tersebut? Tarlen Handayani, pemilik toko buku Kecil dan penggagas klub baca yang terbuka untuk umum itu menyebut pada klub baca yang pertama kali dia dirikan, anggotanya yang berjumlah sekitar 15-an orang berkumpul setiap hari Minggu sore. "Karena pesertanya sangat umum, apa pun bisa dibicarakan di sini. Pernah kami membahas bukunya Milan Kundera, tetapi juga pernah membahas buku cerita bergambar seperti Tintin dan Lucky Luke," kata Tarlen tentang klub bacanya yang diadakan di toko buku "Kecil" di Jalan Kyai Gede Utama Nomor 8, Bandung.

Supaya klub baca ini tetap bisa menarik minat anggota, Tarlen sengaja mempertahankan suasana informal, santai, dan akrab sehingga setiap orang bisa saling berbicara tanpa khawatir ada kesenjangan pengetahuan, umur, dan wawasan. "Ketika membahas cergam Tintin misalnya, pernah ada peserta yang berusia 73 tahun sampai yang berusia lima tahun. Kami sempat kebingungan bagaimana mengobrolnya. Akhirnya, ya kami mulai dengan pertanyaan apa yang masing-masing anggota sukai dari cerita Tintin. Dari situ semua ikut berbicara, juga anak kecil yang umurnya lima tahun tadi," kata Tarlen yang mendirikan klub baca setelah lulus pada tahun 2001 dari Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung.

Pada klub buku Ditta Amahorseya, ada komitmen di antara anggota yang semuanya perempuan untuk bertemu sekali setiap bulan membicarakan buku dengan judul sama yang telah ditentukan sebelumnya. Mereka bertemu sebulan sekali di rumah salah satu anggota dan tiap anggota diminta untuk aktif memberi komentar.

"Bukan hanya memberi komentar, setiap anggota juga diminta untuk mengusulkan satu judul buku yang akan kami baca selama sebulan berikut. Karena minat kami dan pekerjaan kami juga beragam, judul-judul yang ditawarkan juga menjadi beragam. Tetapi, itu justru memberi saya tambahan pengetahuan karena saya jadi dipaksa membaca buku-buku yang tadinya tidak terpikirkan untuk saya baca. Misalnya, ada anggota yang menawarkan topik tentang perang, ada yang suka dengan tema yang sangat menekan. Siapa yang kebagian mengajukan buku untuk dibahas, biasanya juga menyediakan buku untuk semua anggota," kata Ditta lagi yang anggota klubnya terdiri dari berbagai bangsa itu.

Anggota klub baca yang cukup serius ini menetapkan syarat buku yang diajukan untuk dibaca dan didiskusikan anggotanya itu berusia paling lama tiga tahun sejak tahun penerbitan, dan merupakan buku yang memenangkan penghargaan seperti Pulitzer atau Booker Prize. Kalaupun tidak mendapat penghargaan, dia termasuk buku yang paling laris dalam daftar misalnya New York Times.

Lain lagi klub baca yang diikuti Arianita. Kelompok ini berawal dari kegiatan kumpul- kumpul sepulang kantor sambil menunggu kemacetan jalan menuju rumah masing-masing berkurang. "Daripada hanya ngobrol dan duduk-duduk, akhirnya kami memutuskan untuk mengisi dengan yang lebih berguna," tuturnya. Akhirnya, mereka mendiskusikan perihal yang bersinggungan dengan kejadian sehari-hari. "Dari buku sampai berita di koran," tambah Ari yang kelompoknya berisi 4-5 anggota.

Belakangan kelompok ini semakin jarang bertemu karena masing-masing anggota bertambah sibuk, rata-rata baru selesai kerja setelah pukul 20.00. Padahal, pada waktu itu band di kafe sudah mulai memainkan musik sehingga pasti tidak mungkin lagi ada diskusi. "Sekarang diskusi kami lakukan lewat Internet. Ya, misalnya kami berdiskusi tentang novel karya-karya Fira Basuki atau buku apa pun yang sedang kami baca," jelas Ari. Meskipun dengan cara ini anggota tetap bisa berkomunikasi mengenai apa yang mereka baca, tetapi Ari mengetahui keakraban yang terbentuk melalui pertemuan di antara sesama anggota jadi berkurang.

DI Desa Ciloang, Serang, Ipah bersama Ayin (12), Nike Narasati (9), Wahyudi (11), dan Abdul Goni (12) bersama sekitar 400-an anak lainnya menjadi anggota Pustaka Loka Rumah Dunia yang didirikan atas inisiatif Gola Gong yang pernah dikenal sebagai penulis remaja. Di sana mereka tidak hanya disediakan buku-buku yang jumlahnya 3.000 buah, tetapi mereka juga diajar membaca dengan benar. "Setelah ikut Pustakaloka, Ipah yang sebelumnya selalu membaca dengan mengeja kata demi kata, dalam waktu satu bulan sudah bisa membaca dengan lancar," jelas Tyas Tantaka (32), istri Gola Gong yang menjadi pengelola Pustakaloka Rumah Dunia.

Di sini, anak-anak juga diajak untuk mengekspresikan perasaan dan pikiran mereka dengan mengarang, membaca puisi, bermain teater dan drama, juga diajak mendongeng. Semua kegiatan di sini tidak dipungut bayaran alias gratis.

Anak-anak itu datang tanpa alas kaki, tetapi mereka tampak menikmati kegiatan ini. Gola Gong sengaja memasukkan karya anak-anak tersebut secara rutin ke dalam mailing list di Internet yang peduli dengan kepustakaan, yaitu Pasarbuku, 1001buku, Forum Lingkar Pena, dan lain-lain. Melalui mailing list itu datang berbagai tanggapan dari berbagai belahan dunia. Salah satunya dari seorang mahasiswa Indonesia program S-2 yang sedang belajar di luar negeri yang memberi motivasi agar mereka rajin belajar dan bukan hal mustahil di antara mereka nantinya ada yang bisa belajar ke luar negeri.

"Kami tidak punya mimpi muluk-muluk. Anak-anak datang, membaca buku, dan mengikuti kegiatan yang kami selenggarakan, itu yang terpenting," kata Tyas mengenai kegiatan yang dimulai resmi sejak 2 September 2002. Kegiatan ini bermula dari keinginan membagikan kebahagiaan yang didapat dari membaca buku, sementara Tyas dan Gola Gong memiliki koleksi buku sejumlah 3.000 buku.

Menurut Gola Gong, untuk membantu kegiatan di sana, selain Tyas, Rumah Dunia juga dibantu oleh 12 sukarelawan lain yang membantu mengajar mendongeng, membaca dan menulis puisi, hingga membantu penerbitan jurnal kegiatan Rumah Dunia di Koran lokal Harian Banten. Perpustakaan dan klub baca yang didirikan di rumah pasangan Gola Gong dan Tyas Tantaka ini selain mengandalkan batuan sukarelawan, juga menerima sumbangan berupa buku bacaan, buku untuk menggambar, pensil berwarna dan alat tulis lain, ataupun uang tunai untuk melanjutkan kegiatan ini.

Sementara itu, Rumah Baca RCTI awalnya merupakan kegiatan individu yang digagas Aswina Aziz Miraza, yaitu ketika dia menyelenggarakan lomba baca abang becak. "Itulah awalnya," tutur Ina, panggilan Azwina, mengenai kegiatan yang berlangsung tahun 2002 itu. Kegiatan itu yang semula dikira akan "memberdayakan" abang-abang becak seperti dilakukan oleh Urban Poor Consortium, kemudian mulai menarik perhatian orang. Beberapa pihak ingin mendukung Ina karena kegiatan ini sebetulnya ingin mengajak para abang becak itu kembali ke kampung untuk kehidupan yang lebih baik di kampung.

Dari dukungan beberapa pihak dia bisa mendirikan sebuah perpusatakaan di Grobogan, Jawa Tengah. Perpustakaan itu dikelola abang becak yang kembali ke kampungnya dari Jakarta. Keterlibatan abang becak itu, yang kemudian disusul beberapa temannya, selain mengelola perpustakaan juga menyelenggarakan beberapa aktivitas untuk anak-anak.

Belakangan RCTI tertarik dengan proyek yang ditangani Ina, dan kemudian bekerja sama dengan rumah makan Hoka Hoka Bento menyelenggarakan Rumah Baca RCTI. "Sebenarnya inti dari proyek ini adalah pemberdayaan," tutur Ina. Dia mengenang, ketika membuka rumah baca di Demak, Pak Bupati menyempatkan diri membuka rumah baca itu meskipun untuk mencapai lokasi rumah baca itu harus naik ojek karena memang tidak ada jalan mobil untuk menuju ke sana.

Dari rumah baca, kegiatan lalu berkembang ke kegiatan lain. Desa Banteng Mati di Demak misalnya, sejak lama dikungkung oleh mitos bahwa siapa pun pejabat di sana akan dipecat, tidak akan naik pangkat, dan lain-lain. Pokoknya, celakalah kariernya. Barangkali mitos itu berasal-usul karena desa itu terpencil, tidak ada akses jalan. Karena mitos itu, tidak ada pejabat bahkan pegawai negeri biasa yang mau ditempatkan di sana. Akibatnya, tidak ada akses berupa jalan yang memadai ke sana. Sekolah pun tidak ada di sana.

Setelah Ina membuka kelompok bacanya, pemerintah mulai menaruh perhatian atas ketertinggalan daerah itu. Kini, turun dana Rp 850 juta untuk membangun jalan menuju Desa Banteng Mati. Rencana lebih lanjut menurut Ina, pemerintah akan membangun sekolah di sana. Dengan kata lain, kelompok baca itu bukan hanya membukakan penduduk desa terhadap informasi dari luar, tetapi secara fisik juga membuka isolasi desa itu. "Dalam globalisasi ini kita harus bisa mengejar segala ketertinggalan," kata Ina.

BUKU adalah jendela dunia, begitu kata pepatah. Untuk Ditta, manfaat buku harus ditambah lagi: mengaktualkan pengetahuan dan merangsang intelektualitas. Kenapa anggotanya semua perempuan? "Karena yang laki-laki lebih senang nonton bola daripada baca buku, ha-ha-ha…," tutur Ditta bercanda.

"Kami membacai buku-buku baru jenis fiksi atau nonfiksi, dan yang sedang menjadi pembicaraan. Dari membaca dan diskusi seperti ini saya mendapat pengetahuan hal-hal baru yang sebelumnya tidak pernah terpikir," tutur Ditta yang merasakan juga manfaat pertemuan ini sebagai ajang sosialisasi.

"Kesulitan saya hanya satu, mencari teman Indonesia yang mau ikut klub baca ini tapi dengan komitmen. Biasanya mau ikut, tetapi ketika datang saat diskusi belum selesai membaca bukunya. Katanya satu buku dalam satu bulan terlalu banyak," tutur Ditta. "Mungkin karena kita belum punya kebiasaan membaca."

Dien Fikri Iqbal, dosen psikologi di Universitas Padjadjaran, Bandung, juga merasakan manfaat yang dirasakan Ditta dengan bergabung di dalam klub baca. "Sudah lama saya suka buku-buku Pram (Pramoedya Ananta Toer). Suatu ketika saya iseng datang ke toko buku Kecil dan mendengarkan diskusi mengenai buku Pram. Ternyata ada beberapa info yang tidak ada di buku tetapi terus digali oleh peserta. Info itu berguna karena kajian psikologi saya berkaitan dengan kajian linguistik," tutur Iqbal. Klub baca ini akan menyelenggarakan lomba baca cerpen-cerpen Pram.

Setahun bergabung dengan klub baca itu, Iqbal kini melangkah menjadi sukarelawan motivator di klub menulis, yang menurut Tarlen ke depannya akan menjadi semacam terapi terutama untuk anak-anak SMA. "Mereka bisa menjadikan buku harian sebagai bagian dari terapi atas permasalahan yang mereka hadapi," jelas Tarlen.

Tambah Iqbal, "Keberanian menulis-apa saja, bisa puisi, cerpen, buku harian, naskah, novel-sangat penting karena dari sisi psikologis bisa menjadi bagian dari terapi menghadapi berbagai persoalan hidup." (KSP/OKI/CAN/BRE/NMP)

Dimuat di Kompas, Minggu 8 Juni 2003

Tidak ada komentar:

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails