1.11.07

Menjadi Pendongeng Terbaik

Kompas, Pustakaloka, Sabtu 24 Januari 2004


Kegiatan mendongeng tidak semata-mata berarti menceritakan tentang dongeng-yang bermuatan kisah rekaan ataupun khayalan-pada anak-anak. Lebih luas dari itu, mendongeng lebih berarti bercerita tentang apa saja pada anak-anak atau para penyimak lainnya. Bahan cerita bisa bersumber dari buku-buku (dongeng, cerita rakyat, fabel, dan sebagainya) maupun kisah karangan si pencerita sendiri.

Memang, dongeng bisa dinikmati siapa saja, namun sejauh ini anak-anak bisa dikatakan sebagai penonton atau sasaran utama. Umumnya, kegiatan mendongeng atau bercerita memang dekat dengan kehidupan anak-anak. Cerita-cerita yang dibacakan ataupun disampaikan umumnya dikemas sedemikian rupa agar dapat dicerna para penikmat cilik ini. Dengan kemampuan membaca yang rata-rata masih minim, penyampaian cerita secara lisan tepat ditujukan untuk anak-anak.

Pudentia MPSS, Ketua Asosiasi Tradisi Lisan, mengatakan, sebenarnya awal kegiatan mendongeng itu sebagai salah satu sarana hiburan maupun pengisi waktu luang. Apalagi di masa belum ada alternatif hiburan dari media lain seperti televisi, mendongeng menjadi hiburan dan sekaligus sarana komunikasi seseorang dengan anak maupun lingkungannya. Seiring perkembangan zaman dan teknologi, sama nasibnya dengan tradisi lisan lainnya, peran kegiatan mendongeng atau bercerita kemudian digantikan media lain. Menyusul munculnya tradisi tulisan, perkembangan industri percetakan, hingga masa multimedia seperti saat ini, cerita tidak harus dinikmati dari mendengarkan omongan seorang pencerita. Peran pencerita digantikan oleh banyak pihak dan banyak bentuk dalam industri media hiburan. "Sebenarnya tidak masalah jika terjadi secara alamiah, namun persoalannya kita tidak sadar ada yang berharga di situ," Pudentia menjelaskan.

Diakui, selain sebagai salah satu bentuk hiburan, kegiatan mendongeng mempunyai posisi yang "menguntungkan". Selain bertugas menghibur, kegiatan ini juga bisa menjadi sarana didaktis. "Melalui ekspresi, penjiwaan, dan komunikasi orangtua atau penutur, anak akhirnya bisa mempersonifikasi dan memilih unsur yang baik dari cerita," ungkap Pudentia. Henny Supolo, pemerhati persoalan pendidikan anak, juga mengungkap hal serupa.

Menurut Supolo, hubungan kegiatan mendongeng dengan pembentukan kepribadian anak terjadi saat anak mulai dapat mengidentifikasi tokoh. "Ketika anak ikut hanyut dalam cerita, ia segera melihat dongeng dari mata, perasaan, dan sudut pandangnya," jelas Supolo. Melalui pendekatan mendongeng, nilai-nilai kemanusiaan dapat ditanamkan pada anak tanpa terasa seperti digurui. Proses penyerapan cerita dan pesan-pesan di balik cerita, menurut Supolo, sangat berharga bagi proses belajar anak. Proses ini bahkan terus berlanjut setelah kegiatan bercerita tersebut selesai, melalui diskusi atau tanya jawab yang berlangsung pada anak.

DENGAN memandang kegiatan mendongeng tidak semata sebagai sarana hiburan, muncul pertanyaan, kualifikasi seperti apakah yang layak menjadi pendongeng atau pencerita yang baik? Sejauh ini memang tidak ada batasan ataupun persyaratan ketat bagi seseorang pendongeng. Namun, beberapa pengamat menganggap unsur kedekatan antara pendongeng dan pendengar menjadi unsur yang patut dipertimbangkan. Menurut Pudentia, misalnya, menganggap yang pertama dan utama menjadi seorang pendongeng bagi anak adalah orangtua. Tugas bercerita ini terutama sebaiknya dilakukan sang ibu yang sejak awal sudah memiliki kedekatan dengan anak. "Kegiatan mendongeng sebetulnya bisa mulai dilakukan sejak sang anak masih dalam kandungan," jelas Pudentia. Kegiatan mendongeng yang dimaksud di sini tidak berarti harus bercerita panjang lebar tentang sesuatu.

"Hanya dengan membunyikan sesuatu yang imajinatif secara singkat pun sebetulnya orangtua sudah masuk dalam dunia mendongeng," Pudentia menambahkan. Sayangnya, sejauh ini masih banyak orangtua yang belum terlalu sadar bahwa kegiatan yang mereka lakukan itu-sering kali secara naluriah-sesungguhnya sudah masuk ke area mendongeng. Padahal, bentuk hubungan orangtua dan anak yang secara dini seperti inilah yang perlu dikembangkan. "Banyak orangtua saat ini tidak punya waktu untuk mendongeng, lalu mengalihkan tugas tersebut kepada orang lain. Menyedihkan. Padahal sebetulnya, justru perlu ditumbuhkan dari keluarga, dan ini yang terbaik," keluh Pudentia.

Selain orangtua, belakangan memang bermunculan orang- orang yang secara khusus bercerita atau mendongeng bagi anak-anak. Di kalangan ini, ada yang kemudian benar-benar mengembangkan kemampuan mendongeng secara profesional dan dikenal sebagai seorang pendongeng atau story teller. Untuk menjadi para pendongeng yang sering kali tampil di atas "panggung" ini, sudah tentu diperlukan keahlian khusus. Hal ini diakui oleh Margareth Read MacDonald, seorang story teller asal Amerika Serikat. Menurut MacDonald, setiap orang bisa menjadi seorang pendongeng yang baik. Ia juga menjelaskan, tidak semua pendongeng harus identik bercerita dengan tampil di atas panggung. "Setiap orang bisa duduk di depan anak-anak dan bercerita dengan baik di mana saja," jelas MacDonald.

Namun, untuk menjadi pendongeng atau berprofesi sebagai pendongeng memang diperlukan keahlian tersendiri. Margareth Read MacDonald menganggap untuk menjadi pendongeng yang baik diperlukan tiga modal utama. Pertama, sang pendongeng harus mempunyai cerita yang bagus. Ia melihat kebanyakan cerita yang disampaikan seorang pendongeng bersumber dari buku. "Tidak semua cerita itu siap untuk disampaikan kepada anak-anak," jelas MacDonald. Sering kali cerita dalam buku terlalu panjang dan akibatnya dapat membosankan anak-anak jika disampaikan secara lisan. Cerita-cerita ini masih harus dikemas lebih lanjut. Cerita yang telah dikemas untuk disampaikan secara lisan inilah yang dimaksud MacDonald dengan cerita yang bagus. Kemudian, dua modal lainnya untuk dapat mendongeng dengan baik menurut MacDonald adalah sang penutur menyukai dan menikmati cerita maupun proses penyampaiannya. "Anak-anak bisa melihat hal ini dari sang pendongeng," jelas MacDonald.

Suyadi yang sering dipanggil Pak Raden dan juga dikenal sebagai seorang pendongeng berpendapat, mendongeng yang baik berkaitan dengan isi cerita dan cara bercerita. Menurut Suyadi, isi cerita yang baik harus mendidik atau memiliki pesan moral. "Pesan moral tersebut tidak harus disampaikan langsung, tapi disampaikan melalui ekspresi figur sikap dan suara seorang anak yang baik misalnya," ungkap Suyadi. Namun, ia mengakui, tidak harus selalu cerita yang disampaikan sarat dengan pesan moral. "Ada dongeng yang memang semata-mata untuk menyenangkan anak-anak atau menenangkan," jelas Suyadi lebih lanjut.

Selain itu, untuk bisa mendongeng dengan teknik yang baik juga diperlukan ikatan batin dengan anak-anak. Seperti layaknya ikatan batin antara seorang anak dan ibu, sudah pasti sang anak akan merasa senang jika tahu sang ibu berada di dekatnya. Ikatan batin ini dapat dicapai dengan berperilaku baik kepada anak-anak. "Perlihatkan kalau kita senang dengan mereka," Suyadi mengungkapkan. "Tidak perlu diungkapkan, cukup ditunjukkan dan dirasakan saja." Apabila ikatan batin itu sudah terjalin dan anak-anak merasa senang dengan pendongeng, hasilnya apa pun yang disampaikan pasti akan didengarkan.

DALAM praktiknya, para pendongeng profesional pun kini benar-benar memperhatikan kebutuhan dan keinginan penontonnya. Tidak jarang pula kini mereka menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Poetri Soehendro, misalnya, yang awalnya menggeluti kegiatan ini pada sebuah radio swasta mengungkapkan, seorang pendongeng juga harus memahami perkembangan anak-anak sesuai masa sekarang. "Mereka tidak hanya mendengar lagu-lagu Sherina dan Tasya saja, tetapi juga sudah mendengarkan Britney Spears dan Limp Bizkit," ungkap Puteri. Konsekuensinya, ia pada saat mendongeng harus bisa menyesuaikan diri dengan anak-anak. "Kita harus masuk ke gaya yang seperti itu, harus lebih funky," tambah Puteri. Dalam rangka inilah, Poetri Soehendro akhirnya mampu menempatkan diri sebagai sahabat mereka. "Saya harus menjadi the real person untuk mereka. Bisa mereka sentuh, peluk, bahkan jadi tempat mengadu," jelas Puteri lebih lanjut.

Agak berbeda dengan pendapat We Es Ibnoe Savy, pendongeng asal Yogyakarta. Bagi Ibnoe Savy, cerita yang paling baik adalah cerita yang berasal dari pengalaman batin pendongeng itu sendiri. Selain itu, ia menekankan, seorang pendongeng juga harus bersikap seperti apa yang disampaikan pada anak-anak, dengan kata lain sikap hidupnya harus menunjukkan suatu teladan. Ibnoe Savy menyadari bahwa dongeng merupakan media pendidikan yang sangat efektif bagi anak-anak. Oleh karena itu, kunci lain yang juga harus dimiliki seorang pendongeng adalah keseriusan. Akhmad Sutisna, pendongeng dalam bahasa Sunda yang juga dipanggil Uwa Kepoh, misalnya, amat meyakini bahwa mendongeng tidak bisa dilakukan secara sembarangan. "Harus dilakukan dengan serius," ungkapnya. Keseriusan yang dimaksud jelas-jelas membutuhkan wawasan yang luas, kondisi tubuh yang prima, serta konsentrasi yang tinggi yang harus dimiliki seorang pendongeng.

Menjadi bagian dari penonton, memiliki wawasan yang luas, dan menjiwai cerita merupakan bekal yang harus dimiliki dari dalam diri para pendongeng. Semua semakin lengkap jika diperkaya dengan kreativitas. Belakangan, para pendongeng tampaknya sadar betul akan hal ini. Tarlen Handayani, pengelola Toko Buku Kecil (Tobucil) di Bandung, mengatakan, kreativitas memang sangat diperlukan untuk membuat anak-anak mengerti cerita. Ketika mendongeng untuk anak-anak tuna netra, misalnya, pihak Tobucil harus menyediakan benda yang dapat diraba anak-anak tersebut. "Jika kami mendongengkan tentang kelinci, harus disediakan kelinci yang bisa mereka sentuh, raba, dan elus," jelas Handayani. (nca/bip/irn/sig/umi/wen)

Tidak ada komentar:

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails