1.11.07

Meramu Gaya Hidup Lewat Galeri Buku

Kamis, 04 September 2003
Oleh : Ishak Rafick

Toko-toko buku alternatif yang memberikan pelayanan personal semakin menjamur. Bagaimana mereka mendapatkan koleksi bukunya? Bagaimana pula mereka mengembangkan pasar?

Dulu bila bicara tentang toko buku, yang segera muncul di benak kita tentunya Djambatan, Gunung Agung dan Gramedia. Untuk toko buku yang berbau Islam muncul Walisongo dan Media Dakwah di Kramat Raya. Lalu, Maruzen, Kinokinuya, Karisma, Aksara dan QB untuk buku-buku impor. Toko-toko buku tersebut boleh dikata mendominasi penjualan buku dan pernak-pernik perbukuan lainnya. Terlebih, setelah toko-toko buku besar itu membuka gerai di mal, plaza dan pusat-pusat belanja, mengejar konsumennya.

Namun, kini di kota-kota besar semacam Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Surabaya hadir toko buku model baru. Mungkin yang ini boleh disebut toko buku alternatif dalam artinya yang paling positif, karena lebih kental pulasan gaya hidup modern. Toko buku jenis ini lebih mirip galeri, bersentuhan langsung dengan budaya kafé, luks, bergengsi, dengan pelayanan bersifat personal dan bercitarasa modern. Di Jakarta galeri buku ini diwakili oleh Quality Buyers (QB) World di Jalan Sunda, Menteng. Di kawasan Kemang ada Galeri Twilite Cafe, Limma Book Store dan Toko Buku Aksara.

Di Aksara, yang memiliki 30 ribu judul buku (70% impor), ruangan dirancang dalam konsep minimalis. Di satu sisi ada deretan kursi tunggal berdesain kontemporer dengan meja-meja kecil di sebelahnya. Di bagian lebih dalam ada satu set sofa kulit yang bisa diduduki dengan santai, menghadap taman batu kering. Di sisi lain ada satu pojok khusus berlantai kayu untuk anak-anak yang dilengkapi bantal-bantal kecil. Perangkat tersebut disediakan Aksara buat calon pembeli yang ingin membaca dulu sebagian isi buku.

"Kami memang ingin membangun Aksara sebagai toko buku yang merupakan bagian dari gaya hidup," kata Winfred Hutabarat, CEO Aksara. "Kami tak membuat toko buku konvensional, di mana orang datang mencari buku, lalu segera ke kasir dan pergi," tambah Laksmi Pamuntjak, Direktur Operasional Aksara. Dia mengakui, memang ada risiko buku rusak akibat sering dibaca. Atau orang yang datang, membaca berjam-jam, dan tidak beli. "Bagi kami itu tak apa-apa, cuma bagian dari risiko," Laksmi menegaskan.

Di QB lain lagi. Di toko dengan 50 ribu judul buku ini, ada kafe dengan kapucinonya yang enak. Orang bisa santai membaca buku sambil minum-minum dan bersosialisasi dengan komunitas yang terbentuk secara otomatis. QB mirip Lees Cafe di Leiden, Belanda, yang menggabungkan toko buku, perpustakaan dan kafe. Ketika kafe ini membuat terobosan baru dengan buka di hari Minggu, gereja-gereja langsung melompong karena peserta misanya lebih suka membaca sambil menikmati hari di Lees Cafe.

Atmosfer serupa juga muncul di Ku/bu/ku yang terletak di dalam Galeri Twilite Cafe. Menurut sang pemilik Amir Sidharta, Ku/bu/ku merupakan bagian dari kafe yang dirancang seperti jalan-jalan di Kota Paris. Di sana, sambil makan di kafe, orang bisa melihat-lihat di toko-toko buku, butik pakaian, toko cenderamata dan barbershop. "Saya membuat toko buku yang memberi kesempatan kepada orang untuk berada lebih lama di situ. Lihat saja di sini orang bisa membaca buku sambil menunggu makanannya datang," kata alumni Universitas Washington DC itu sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.

Berbeda dari Aksara, QB dan Ku/bu/ku, Limma berkonsep rumah tinggal dengan lima karyawan -- bukan toko. Limma dibuka 27 September 1996 dan mulai beroperasi 15 Oktober tahun itu juga. Modalnya cuma Rp 200 juta. Sebelum sampai ke bentuknya yang sekarang, Limma cuma menjual buku, terutama buku-buku asing. Kini pengunjung Limma dimungkinkan pula menjadi anggota perpustakaan. Jadi, mereka tak harus beli. Orang bisa pinjam saja buku yang diperlukannya dengan membayar sewa atau baca di tempat. Menurut Feliza Kamayata, pemilik sekaligus pengelola Limma, harga sewa dibedakan per kategori: dewasa dan anak-anak. Dewasa paper back Rp 30 ribu dan anak-anak (hardcover) Rp 22 ribu untuk peminjaman selama 30 hari. Selain itu, anggota Limma (yang tetap ada 100 orang) diharuskan membayar joining fee Rp 150 ribu (single) dan Rp 225 ribu (couple). Mantan VJ MTV Sarah Sechan, pembawa acara Dominique Sandra, dan sutradara Rizal Mantovani merupakan tiga di antara sekian banyak pelanggan setia Limma sampai sekarang.

Jumlah koleksi buku Limma kini lebih dari 2 ribu judul, dipesan langsung dari penerbit. Setidaknya ada 10 penerbit terkenal yang memasok buku ke Limma, antara lain Random House, Penguin Book dan Time Warner. Sistemnya? "Beli putus," jawab Feliza mantap. Dengan membeli langsung ke penerbit, katanya, ia bisa bebas memilih. Jika melewati pihak lain, toko buku misalnya, pilihan dibatasi. "Toko buku hanya mengambil judul yang mereka sukai, dan itu belum tentu kami cocok. Kalau langsung ke penerbit, semua judul buku yang diterbitkan bisa kami beli," tutur penyandang gelar Bachelor of Art bidang psikologi dari Oregon State University itu.

Feliza mengaku awalnya Limma tidak membidik segmen tertentu sebagai target pasar. Namun, seiring dengan perjalanan waktu, target pasarnya terbentuk sendiri, yaitu kalangan profesional, usia rata-rata di atas 40 tahun, sudah berkeluarga dan kebanyakan wanita. Yang wanita ini sebagian besar ekspatriat. Ini dapat dimaklumi karena mereka rata-rata tidak bekerja. Mereka lebih suka menghabiskan waktu dengan membaca. Wanita Indonesia, kata Feliza, lebih suka pasif menonton televisi di waktu luang.

Dalam mengembangkan pasar dan memasarkan produk, Feliza tak mau tinggal diam menunggu warung. Penyandang MBA dari Universitas Portland, Oregon ini bersemboyan: Book at your doorstep. Dia pun tak membuat aturan kaku dan formal. Tak ada istilah manajer operasional atau lainnya di Limma. Baginya, bisnis galeri buku sangat potensial, sebab belum banyak pelakunya. Pasarnya masih terbuka lebar. Untuk memperluas pasar, kini dia sedang merancang program inovatif member get member dan diskon. Selain itu, ia juga berencana membuat semacam kafe buku bernama Limma. "Saya mendambakan tempat di mana orang bisa membaca buku berlama-lama sambil menikmati makanan kecil. Mereka bebas membaca, meski tidak membeli makanan kami. Tentu, mereka tak boleh membawa makanan dari luar," ujarnya sambil tertawa. Kafe itu akan dibangun di rumahnya di Jalan Bangka, yang memang cukup strategis. Sasarannya? "Para pecinta buku kosmopolit, yang mencari kenyamanan sambil membaca," jawabnya pasti.

Cara lain yang dikembangkan Feliza untuk menjaring pelanggan adalah membuat katalog secara periodik tiga bulan sekali setebal 50 halaman."Siapa pun yang minta, kami kasih cuma-cuma dan kami antar, termasuk yang di luar Jawa," jelasnya. Buku yang dipesan diantar ke alamat tanpa dipungut biaya, kecuali di luar Jawa. "Prinsip kami simpel: free catalog, free delivery," ia menambahkan. Tentu saja, Limma tak sekadar mengirim katalog tanpa mengetahui siapa yang disasar. Sebelumnya, perusahaan ini telah meriset kantor-kantor di kawasan Segi Tiga Emas Jakarta. Dari riset ini, Limma mendapatkan seribu konsumen potensial: 80% profesional dan eksekutif, 20% ekspat. Konsumen potensial inilah yang dikirimi katalog. Mereka yang tertarik, tinggal pilih dan memesan lewat telepon, e-mail, dan mentransfer uang sesuai harga buku ke rekening Limma. Selanjutnya, buku diantar ke alamat oleh petugas. Pelanggan juga bisa melihat dulu koleksi buku lewat situs www.limma.co.id. Di Limma, orang juga dapat menyewa VCD atau DVD original. Feliza menolak menyebutkan omset Limma.

Berbeda dari yang di Ibu Kota, bisnis galeri buku di Bandung punya keunikan sendiri. Di Kota Kembang fenomena ini mulai terlihat pada 1999 lewat Klab Baca, yaitu sekelompok orang (jumlahnya 10 orang) membentuk kelompok yang bertujuan menjadikan membaca sebagai kegiatan yang santai dan menyenangkan. Kegiatan dari rumah ke rumah ini membahas karya-karya sastra dari dalam dan luar negeri. Kegiatan ini berjalan 1,5 tahun, lalu terhenti karena kesibukan masing-masing. Pada 2 Mei 2001 Connie Chisania, Rani E. Ambyo dan Tarlen mendapat kesempatan membuka toko buku kecil yang diberi nama Pasar Buku Bandung. Dari sini kegiatan Klab Baca berlanjut kembali. Setahun kemudian namanya berubah menjadi Toko Buku Kecil (Tobucil). Pada saat sama kegiatan Klab Baca terus berjalan, dan berbiak menjadi kelab-kelab lain. Yang pertama, Klab Baca Minggu Sore, lalu ada Klab Baca Pramoedya, Klab Dongeng, Ngobrol Bareng, Bahas Buku, Festival film, dan lain-lain. Dari sinilah Kota Bandung membangun komunitas pecinta buku yang semarak dan berlanjut sampai sekarang.

Tobucil sendiri berkembang menjadi toko buku gaya hidup yang bergengsi. Menurut pengelola Tobucil Tarlen Handayani, toko buku ini memiliki kerja sama publikasi sampai Desember 2003 dengan kelab baca di 102.3 RASE FM. Lalu 8 Juli 2003, dia menandatangani kerja sama dengan Delta FM. Klab Baca juga mengelola siaran Teras Buku yang dilakukan lewat kerja sama dengan penerbit wanita. Semua kegiatan itu dibiayai sendiri oleh Tobucil dengan menyisihkan Rp 250 dari setiap buku yang terjual. Buku-bukunya dipasok langsung oleh penerbit dengan sistem konsinyasi dan kredit, serta pelaporan tiap bulan.

Kini Tobucil memiliki cabang di Balikpapan, Denpasar (Bali), dan Rumah Buku di Cengkilung. Cabangnya ini dibangun dengan sistem waralaba, bermitra dengan pihak lokal. Buku-buku yang ditawarkan lumayan beragam, dari sastra, seni, budaya, sosial, politik, sampai filsafat, jurnal-jurnal ilmu sosial, teologi, zines komunitas dan anak-anak.

Tak seperti galeri buku di Jakarta yang elitis, Tobucil membidik mahasiswa dan siswa SMU sebagai target pasar. Sejak April 2003 Tobucil tak lagi beralamat di Jl. Ir. H. Juanda 139a, tapi telah pindah ke lokasi baru di Jl. Kyai Gede Utama 8. Di tempat baru ini Tobucil dan Klab Baca bermitra dengan Bandung Center for New Media Art sebagai pemilik tempat guna mengembangkan jaringan yang telah terbentuk. Tarlen tak bersedia menyebut omset Tobucil tiap tahun. "Yang jelas, tahun pertama dan kedua merugi karena banyak keluar biaya untuk membangun image. Tahun ketiga pendapatan meningkat 30%, biaya operasional tertutupi, dan ada untung meski tak banyak," jawabnya diplomatis.

Satu lagi yang unik dari Bandung adalah Rumah Buku, yang baru dibuka 29 Maret 2003. Menurut pemiliknya, Ariani Darmawan, bisnis Rumah Bukunya bermula dari koleksi pribadinya yang berjumlah 40-an judul. Kini koleksinya berkembang menjadi 500 judul lebih. Modalnya cuma Rp 40 juta dan seluruhnya dipakai buat beli buku. Gedung dan bangunannya yang bergaya kolonial seluas 150 m2 di Jalan Hegarmanah, Bandung, tidak dihitung sebagai investasi karena merupakan rumah keluarga. Rumah Buku menempati ruang tengah seluas 5x8 meter. Uniknya, selain menyediakan buku-buku baru, Rumah buku juga menyediakan buku bekas dalam kondisi bagus. "Buku-buku yang kami jual pun bisa kami beli kembali dengan harga lumayan tinggi," ujar Ariani sambil tersenyum. Untuk apa? "Dengan begitu, kami berharap buku-buku yang ada di Bandung khususnya dapat berputar dan sampai ke tangan orang-orang yang membutuhkannya," jawab lulusan Jurusan Arsitektur Universitas Parahyangan, Bandung itu.

Ariani mengaku buku-bukunya sebagian besar dipasok oleh penerbit lokal seperti Bentang Buku, Jendela, Indonesia Tera, Metafor dan Asoka Bandung untuk buku baru. Sistemnya sebagian konsinyasi dan sebagian lagi beli putus. Yang bekas, sebagian didapat dari penjual buku bekas, sebagian lagi titipan teman-teman. Koleksi buku-buku asingnya didapat lewat perburuan di Internet, bisa sampai 10 judul tiap bulan.

Selain menjual buku, Rumah Buku juga menyewakan koleksinya. Biaya sewanya, kata Ariani, cuma 5% dari nilai buku. Namun, tak sembarang orang bisa menyewa buku di situ. Sebelumnya mereka mesti menjadi anggota dulu. Mereka juga harus membayar uang deposit yang bisa ditarik kembali kalau berhenti menjadi anggota. Besaran deposit Rp 70 ribu untuk buku yang harganya di bawah Rp 200 ribu, dan Rp 125 ribu buat buku-buku di atas Rp 200 ribu.

Ariani mengaku omsetnya per bulan belumlah banyak, cuma Rp 2 jutaan. Toh, dia tidak kecil hati. Potensi pasarnya, kata dia, masih besar. Untuk merebut lebih banyak pelanggan, ia berencana mengadakan acara-acara presentasi, antara lain pembacaan karya-karya pengarang terkenal dan bedah buku.

Reporter: Herning Banirestu, Abraham Susanto
Riset: Vika Octavia

(swa)


Tidak ada komentar:

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails