1.11.07

Pergeseran Pembaca Karya Sastra di Indonesia

Pikiran Rakyat, Sabtu 26 Februari 2005


UNTUK membicarakan pergeseran pembaca karya sastra di Indonesia perlu dijelaskan terlebih dahulu apa sebenarnya yang dimaksud dengan karya sastra, pergeseran apa yang terjadi, dan pembaca yang mana yang melakukan pergeseran itu. Kalaulah memang ada pergeseran itu apa saja faktor-faktor yang menjadi daya dorong terjadinya pergeseran tersebut. Adakah pula pengaruhnya terhadap perkembangan karya sastra di Indonesia.

Pertanyaan-pertanyaan ini cukup menarik untuk digali. Terlebih ketika semakin banyaknya para penulis dalam menuangkan gagasan-gagasannya dalam bentuk novel ataupun antologi cerpen. Sehingga muncullah penamaan-penamaan yang cukup variatif untuk sebuah karya sastra seperti sastra islami (seperti yang dikembangkan kelompok Forum Lingkar Pena atau FLP), sastra feminis (yang dikembangkan kelompok Ayu Utami dan Djenar Maesa Ayu), sastra ckicklit (sastra perempuan), dari kata ckick (perempuan) dan lit (literatur), ataupun sastra tenlit yang muncul kemudian.

Uniknya, meskipun umumnya para penulis tidak mempedulikan apakah karya mereka termasuk kategori sastra berat (serius) yang dinobatkan para "paus sastra" ataupun sastra populer yang masih selalu sulit dikategorikan sebagai karya sastra, realitas kebergairahan ini notabene sudah menjadi fenomena bahkan sudah menggiring para pembacanya untuk melakukan "hijrah" ataupun pergeseran dalam memilih jenis ataupun sumber bacaan yang dibacanya. Dan dalam perkembangan berikutnya telah melahirkan para penulis serupa sebagai epigon-epigon dengan gaya yang tentu saja berbeda.

Menurut catatan Tarlen dari Tobucil, pergeseran ini muncul secara alamiah manakala seorang pembaca selesai dengan satu novel yang dibacanya. Bila pembaca novel tersebut pada awalnya memilih novel sejenis ckicklit maka kemudian, setelah "rasa kesastraannya" terpuaskan, pembaca tersebut pun akan beralih dan memilih jenis novel yang berkadar lebih "berat" dibandingkan dengan bacaannya semula. Seperti memilih novel-novel karya Seno Gumira Ajidarma, Ayu Utami, ataupun karya-karya novel lainnya sekelas Pramudya Ananta Tour, Budi Darma, Danarto, dll. Tarlen menyebutnya pembaca kelas basic yang kemudian mengarah menjadi pembaca kelas advance.

Meski demikian, perkara "berat" atau tidaknya sebuah karya sastra, Tarlen mengaku sulit untuk berkomentar. Karena menurutnya, ia bukan pakar ataupun ahli sastra. Terlebih kata dia, apapun jenisnya, karya sastra selalu memikat dan melahirkan kontemplatif-kontemplatif tersediri bagi pembacanya. "Saya tidak bisa mengatakan bahwa pembaca novel populer tidak mendapat makna yang 'lebih' dari cerita yang dibacanya dibandingkan dengan pembaca novel-novel serius. Karena di dalamnya tentu saja ada pemaknaan-pemaknaan dari setiap cerita yang disampaikannya," ujar dia.

Tapi bahwa ia menemukan sebuah fenomena "hijrah" dari para pembacanya, memag iya. Bahkan, dengan 5.000 koleksi buku yang diminatinya, Tarlen mengaku, kini mulai mengarahkan orientasinya pada pembaca remaja. Ini cukup beralasan karena rating pembelian tertinggi mengarah pada novel-novel jenis tersebut. Bukan itu saja, yang melakukan pergeseran dalam membaca karya sastra pun, kata Tarlen, umumnya adalah pembaca seperti mereka. Pembaca yang justru bukan berlatar belakang sastra atau pembaca yang wawasan sastranya sudah terbentuk. Tetapi pembaca awal sehingga selain ada rasa ingin tahu yang tinggi, mereka pun lalu mencari, membaca, menemukan, memilih, untuk kemudin bahkan mencoba membuat karya-karya serupa.

Untuk itulah, Tarlen juga sempat mempertanyakan, apakah kriteria ataupun definisi sebuah karya sastra (novel) baru dapat dikatakan bermutu jika sudah masuk kategori "sastra serius". "Pemahaman ataupun pandangan seperti ini tampaknya mesti ada diskusi tersendiri. Karena justru seringkali akhirnya mengundang pertanyaan, apakah seorang pembaca novel populer tidak lebih intelek dibandingkan pembaca karya sastra serius," tanyanya.

**

FENOMENA serupa diakui Iit dari Omunium (Omu). Menurutnya, dari lebih kurang 2.000 koleksi buku yang tersedia di gerainya, memang lebih variatif dan tidak hanya diarahkan pada jenis buku-buku sastra seperti novel. Sebab pasar Omu memang lebih beragam, mengingat toko buku ini digabung dengan distro yang pasarnya lebih heterogen.

Meski demikian, menurut data yang ada di Omu, umumnya para pembaca buku sastra melakukan proses pergeseran tersebut. Walaupun mungkin si pembacanya sendiri menurut Iit, tidak menyadari proses itu terjadi. Karena biasanya, proses itu berlangsung alamiah. "Biasanya, awalnya mereka pinjam. Kemudian membaca. Setelah itu membeli. Baru kemudian setelah membeli, mereka memilih dan pada saat memilih itulah, walau tidak kentara, pergeseran itu tampak," jelas dia.

Dikatakan, jika para pembaca ini -- entah bosan atau apa-- pada satu jenis novel tertentu, biasanya akan memilih jenis novel yang lainnya. "Jadi mengapa kita harus panik bahwa pembaca karya sastra kita itu cenderung populis semua, atau ckicklit's semua. Sebab toh nanti pun proses itu akan terjadi. Mereka akan beralih pada jenis bacaan lain yang mungkin dikatakan orang lebih serius," ujar Iit.

Dan siapa bilang, lanjut Iit, kalau fenomena ini tidak memberi andil cukup besar pada perkembangan sastra. Hal ini dapat dilihat dari berbagai faktor, seperti persaingan toko buku yang makin bagus. Selain itu, penerbitan-penerbitan pun makin banyak mencari para penulis serupa. Sehingga dampak berikutnya adalah menggairahkan dunia penulisan. Di mana siapa pun yang memang punya potensi dalam penulisan sastra akan mencoba membuat karya-karya seperti penulis-penulis yang karyanya mereka baca. "Apa ini tidak positif?" tanya Iit retoris.

Apalagi, seperti dikatakan Tarlen, proses pergeseran ini sama sekali bukan karena ada tugas dari sekolah. Dan itu justru sama sekali tidak ada hubungannya. Bukan juga karena pengaruh dari sebuah acara bedah buku, karena justru pihaknya (Tobucil) menghindari pola-pola apresiasi semacam itu. Tetapi proses itu terjadi karena semakin dekatnya proses kreatif seorang penulis novel ataupun karya sastra dengan pembacanya.

Dari kegiatan temu penulis inilah, Tarlen mengaku sempat dibuat sibuk. Karena acara temu pengarang yang digelarnya dengan mendatangkan Seno Gumira Ajidarma dikunjungi ratusan pembaca novel Seno. Itu artinya, kata Tarlen, pembaca tidak sekadar membaca, menikmati, ataupun menangkap pesan dari karya-karya yang ditulis Seno, tetapi mereka ingin mengetahui secara lebih jauh proses apa yang terjadi di balik penciptaan karya sastra yang pernah dibacanya.

"Saya pikir ini bukan main-main. Bolehlah mereka sepertinya hanya memilih novel populer tetapi bagaimana dengan proses yang mereka lakukan ini? Saya kira, ini sebuah pergeseran yang sangat bagus," ujarnya.

Kenapa bagus? Karena menurut Tarlen, jika era sebelumnya pembaca dengan penulis begitu terpisahkan oleh jarak. Maka kini justru jarak itu runtuh. Sehingga kedekatan para pembaca dengan proses kreatif kepenulisan itu pun pada tindak selanjutnya menjadi mediasi bagi apresiasi mereka terhadap karya-karya penulis yang mereka baca.

Baik Tarlen maupun Iit mengaku, fenomena ini terjadi karena adanya promosi dalam penerbitan sebuah buku. Termasuk semakin banyaknya media yang dapat diakses para pembaca berkaitan dengan informasi-informasi terbaru dari dunia perbukuan. Sehingga kegairahan yang terjadi pun bertambah, di mana koran, majalah, internet, radio, teve, ataupun media lainya menjadikan informasi terbaru tentang novel sebagai bagian dari pelayanan yang harus diberikan.

"Mungkin kenyataan ini berawal di mana penulis novel juga berprofesi sebagai artis. Sehingga banyak media terutama TV yang menyiarkan sisi lain dari kehidupan para penulis. Yang kemudian sepertinya tidak ada jarak lagi antara penulis dengan pembacanya. Tetapi kemudian hal ini berlanjut pada novel-novel yang juga ditulis oleh penulis biasa yang bukan berprofesi sebagai artis," ujar Tarlen.

**

TERLEPAS dari semua itu, apakah realitas ini dapat dikatakan sebagai arah perubahan bagi kehidupan karya sastra (novel) di Indonesia? Lalu mengapa para kritikus ataupun akademisi masih saja memandang "sebelah mata" terhadap sastra populer yang berkembang saat ini? Atau jangan-jangan pertanyaan saya ini terlalu "kolot" untuk sebuah perubahan yang sedang terjadi. Di mana "pembaptisan" karya sebagai satu hal yang fenomenologis dan akan dimasukkan sebagai -- angkatan ataupun apa pun namanya yang berpengaruh dalam sejarah kesastraan Indonesia -- setelah dibicarakan oleh para kritikus ataupun kalangan akademisi? (Eriyanti Nurmala Dewi/"PR")***

Tidak ada komentar:

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails