1.11.07

Ruang Baca Menolak Terkucil

Gatra, Nomor 47, Senin, 3 Oktober 2005

TAK puas dengan hubungan sebatas penjual dan pembeli, para pegiat toko buku di Bandung kini menawarkan sajian lain. Toko Buku Kecil yang terletak di Jalan Kiai Gede Utama 8, Bandung, misalnya, menawarkan beragam kanal untuk memikat pengunjung. Di sana kini ada klab menulis, klab diskusi, klab nonton, dan klab hobi. “Siapa saja bisa gabung. Modalnya cuma minat dan semangat,” ujar Tarlen Handayani, sang pemilik.Toko Buku Kecil, yang biasa disebut Tobucil, menggalakkan kegiatan-kegiatan itu dengan tujuan menggairahkan literasi lokal. “Intinya, mengajak orang gemar membaca,” kata Tarlen kepada M. Herri Ardi dari Gatra. Untuk mencapai tujuan itu, banyak jalan ditempuh, dari kegiatan yang berhubungan erat dengan buku sampai hal-hal yang tampaknya tak terkait dengan buku sama sekali.

Kata literasi, bagi Tarlen, tak sekadar diartikan sebagai baca-tulis teks, melainkan juga tentang bagaimana seseorang memahami fenomena di sekitarnya serta berinteraksi di dalamnya. Oleh sebab itu, untuk menjaga komunitas pembacanya, Tabucil tak sungkan menggelar kegiatan seperti apresiasi musik jazz, konser kecil, dan mendatangkan band-band lokal.

Semua kegiatan itu digarap Tobucil bersama Bandung Centre for New Media Art. Untuk mempermudah koordinasi, menurut Tarlen, Tobucil dan Bandung Centre membangun sebuah ruang publik yang diberi nama “Common Room”. Common Room adalah payung bagi semua kegiatan Tobucil-Bandung Centre, yang didirikan untuk mempermudah orang ikut ambil bagian dalam berbagai kegiatan yang digelar.

Tarlen memberi contoh, diskusi buku awalnya dilakukan dengan kumpul bareng. “Namun kini juga lewat e-mail, sehingga terbentuklah komunitas dunia maya,” katanya. Perubahan pendekatan memang segera dilakukan karena sebagian besar anggota komunitas baca Tobucil adalah kaum muda. Karakteristik mereka, kata Tarlen, tanggap dengan perkembangan teknologi. Kalau tak adaptif, bisa dipastikan, Tobucil pasti terkucil.

Dengan pendekatan itu, Tobucil yang berdiri pada 2001 mampu menarik minat kaum muda. Omset divisi bukunya mencapai Rp 10 juta per bulan. Untuk melayani pengunjung, tiap empat bulan digelar diskon gede “Books Day Out”. Untuk kegiatan ini, Tobucil juga menggandeng toko buku alternatif lain, seperti Omuniuum di Jalan Sultan Agung 9, Bandung, dan Rumah Buku di Hegarmanah 3, Bandung.

Menurut Tarlen, acara bersama itu, selain jadi ajang saling promosi, juga ajang memperkenalkan komunitas masing-masing. Bahkan, September lalu, Tobucil mengeluarkan peta komunitas literer Bandung, judulnya Urban Kartografi Project versi 01. Untuk versi 02, Oktober ini, isinya lebih variatif, yakni berupa pemetaan komunitas kreatif Bandung, dari komunitas distro, musik, hobi, sampai buku.

Tahun depan, menurut Tarlen, Urban Kartografi akan memuat kompilasi beberapa komunitas yang tumbuh di Bandung. Yang hendak direkam adalah pergerakan anak muda kurun 1995-2005. Pencatatan ini penting untuk melihat geneologi, corak, problem, dan pergulatan yang muncul. “Kami ingin denyut komunitas muda Bandung meninggalkan jejak tertulis dan bisa menjadi inspirasi generasi muda,” katanya.

Ajang Common Room yang disponsori Tobucil dan Bandung Centre ternyata tak hanya bersifat lokal. September lalu, mereka punya gawe berupa Asia-Europe Art 2005. Pesertanya mahasiswa dari 20 negara di Asia-Eropa. Kegiatannya, selain pentas seni rupa, juga lokakarya dengan narasumber dari sembilan negara. Dalam rangka membangun jaringan, Common Room juga menghadiri acara Insomnia 48 di Singapura.

Tahun lalu, Common Room juga menjajaki Simposium Elektronik Art di Helsinki, Finlandia. Sedangkan tahun depan sudah berencana membawa proyek Urban Kartografi ke San Jose, California, Amerika Serikat.

Program lain Common Room yang sempat menuai reaksi positif adalah Diary Project 01, yang bertemakan kisah hidup sebulan. Tujuan proyek ini adalah membiasakan orang menulis dan tak terpaku pada tema besar yang justru membebani penulis. Hasilnya, menurut Tarlen, dari 250 orang yang mendaftar ikut proyek penulisan itu, separonya menyetorkan tulisan secara online.

Kini tengah berlangsung Diary Project 02. Temanya lain lagi, yaitu “Forgiven Not Forgotten”. Gagasan intinya adalah rekonsiliasi. Tema ini dipilih, menurut Tarlen, karena banyak persoalan pribadi, keluarga, dan masyarakat yang tak pernah selesai tuntas, lantaran ketidakmampuan orang berdamai dengan pengalaman terburuknya. Setiap peserta diminta menulis pengalaman paling buruk dan bagaimana mereka mengatasinya. “Pengalaman mereka diharapkan menginspirasi orang lain,” kata Tarlen.

Menyelenggarakan kegiatan, menampung obrolan, dan membangun jaringan seperti yang dilakukan Tobucil juga dikerjakan toko buku alternatif lain. Selain Tobucil, Omuniuum, dan Rumah Buku, kini juga muncul toko buku seperti Ultimus, Malka, Bambu, dan Gubug Dongeng.

Ultimus yang berdiri pada Oktober 2003, misalnya, berawal dari niat beberapa mahasiswa STT Telkom Bandung untuk mendirikan perpustakaan. Namun membuat toko buku tampaknya lebih menarik. Menurut Hakim, salah seorang pendiri, para mahasiswa membuka toko buku di Jalan Karapitan cukup dengan bermodal Rp 25 juta. Kini Ultimus menetap di Jalan Lengkong Besar 127, di depan Universitas Pasundan, Bandung.

Untuk membentuk komunitas pelanggan Ultimus, Hakim menawarkan fasilitas yang selama ini tak mereka dapatkan di toko buku konvensional, yakni diskon minimal 10%. Tak salah bila akhirnya di kalangan orang muda Bandung, Ultimus disebut sebagai toko buku diskon. “Tiap bulan secara rotasi kami mengusahakan diskon dari penerbit hingga 50%-70%,” kata Hakim kepada Franky Tarigan dari Gatra. Kini, Ultimus yang menyediakan 3.000 judul buku humaniora seperti filsafat, seni, agama, sastra, dan politik yang mampu meraup laba bersih mencapai Rp 5 juta hingga Rp 8 juta tiap bulan.

Toko buku alternatif lain, seperti Malka di Jalan P.H.H. Mustofa, Bandung, punya kiat lain untuk menjaring pelanggan. Malka yang dibuka Agustus 2004 mengkhususkan diri pada buku sastra. Menurut pemiliknya, Daniel Mahendra, Malka sebenarnya berdiri sejak 2001. “Waktu itu fokus ke penerbitan dan distribusi buku, bukan ke toko buku dan perpustakaan seperti sekarang ini,” katanya.

Untuk memberikan nilai lebih pada pembaca, Malka tak hanya menawarkan diskon, melainkan juga membentuk komunitas baca Pramoedya dan komunitas menulis cerpen. Kini, beberapa alumni komunitas ini sudah siap meluncurkan kumpulan cerpennya. Meskipun di Bandung terdapat belasan toko buku alternatif, persaingannya tak mencolok. Pasalnya, selain punya ciri berbeda, posisi mereka pun secara geografis jauh.

Kebanyakan menyebar mendekati kampus-kampus tertentu, seperti Bambu yang memilih Jalan Kayu Agung 1, Buah Batu, Bandung, sebagai markas. Kawasan Bandung Tengah, di mata pengelola Toko Buku Bambu, sangat potensial, baik dari segi bisnis maupun aspek edukasi. “Sejumlah universitas swasta berdiri di wilayah ini,” ujar Sarah Nadia, seorang pengelolanya.

Untuk membentuk komunitas, Bambu menyelenggarakan beberapa program seperti klab jurnalistik, klab anak, bedah buku, dan afternoon reading setiap Sabtu. Untuk mengenalkan diri, Bambu yang usianya baru lima bulan berusaha aktif. Selain ikut dalam kegiatan di kampus-kampus, Bambu juga memasang gerai di lobi sebuah hotel bintang empat di Bandung. Para pelancong tak luput dari sasaran Bambu.

Tak Hanya di Bandung, toko buku yang mencoba bersinergi dengan komunitas pembaca juga tumbuh di Solo, Jawa Tengah. Salah satunya adalah Toko Buku Bumi Manusia yang terletak di Jalan Punk Rock 5A, Jebres, Solo. “Di sini pembeli buku bisa duduk dan berdiskusi dulu sambil menikmati es teh,” kata Nurul Khawari, pemilik Bumi Manusia.

Selain menjual buku, Bumi Manusia yang berdiri pada Agustus 2003 juga memiliki perpustakaan dengan koleksi buku bahasa Indonesia maupun Inggris. “Ada buku koleksi kami yang tak bisa dibeli, tapi cuma bisa dipinjam,” tutur Nurul. Kebanyakan adalah buku kuno. Untuk memasok buku-buku lawas, Bumi Manusia menggandeng sejumlah kolektor buku kuno.

Toko Buku dan Rumah Baca Bumi Manusia juga mensponsori kegiatan yang terkait dengan bidang sastra, seperti bedah buku dan pelatihan menulis bagi anggota komunitas. Pelanggannya kebanyakan mahasiswa dan puluhan pegiat seni yang mukim di Solo dan sekitarnya.

G.A. Guritno, Wisnu Wage Pamungkas (Bandung), dan Mukhlison S. Widodo (Solo)

Tidak ada komentar:

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails