1.11.07

Semerbak Sastra di Mercusuar Jawa Barat

Republika online, Rabu, 28 April 2004

Laporan : Aminudin

Sejak zaman feodal dulu, Bandung dikenal sebagai tempat yang representatif bagi wisata rohani. Keindahan dan kesejukannya telah memberi nuansa tersendiri bagi sebagian orang, khususnya para seniman. Bandung merupakan sebuah cekungan raksasa yang cocok sebagai wahana kontemplasi gagasan/ide dengan ditunjang kondisi alam yang cantik.

Banyak seniman dan sastrawan mengakui bahwa Bandung telah memberi 'sumbangsih' dalam pengejawantahan ide-idenya. Para pendatang dianggap sebagai saudara sehingga jurang kecurigaan -apalagi SARA- seakan tak pernah tersentil. Tak heran banyak seniman dan sastrawan dari luar Bandung yang berhasil merintis sampai punya nama besar di Bandung. Dari hari ke hari, di Kota Kembang selalu muncul orang-orang baru yang memberi warna pada perkembangan negeri ini. Adalah khazanah kesusastraan yang layak untuk disoroti di Kota kembang ini.

Sastrawan-sastrawan dan seniman dari hari ke hari terus menggeliat dengan regenerasi yang padu. Ditilik dari segi kesejarahan, Bandung tempo doeloe selalu ingar-bingar dengan gempita sastra. Sebagai contoh, sekitar pertengahan 1970-an, Bandung terkenal dengan 'Pengadilan Puisi'-nya yang melambungkan nama Sutardji Calzoum Bachri. Atau, munculnya Yopi Tambayong alias Remi Silado dengan puisi-puisi mbeling dan Majalah Aktuil-nya. Tak lupa pula muncul penyair sekaliber Toto Sudarto Bachtiar dan kawan-kawan.

Peran Komunitas dan Regenerasi Sastra
Di Kota kembang ini banyak tempat yang kerap dijadikan tempat berkumpul, diskusi, nongkrong, atau arena perang gagasan dan argumen antarsastrawan. Tercatat sebuah pusat kebudayaan asing yang menjadi tumpuan para sastrawan dan seniman dalam mempertunjukkan hasil karyanya, yaitu sebuah tempat di Jalan Purnawarman bernama Cente Cultural Francais (CCF). Tempat kebudayaan asal negeri Napoleon Bonaparte tersebut telah memberi wahana bagi kelangsungan sastra di Bandung.

CCF hanyalah salah satu tempat yang kerap dijadikan tempat pertunjukan dan ajang pertemuan 'kaum' sastrawan Bandung selain Galeri Kita (Kantor Disbudpar Jawa Barat), Rumah Nusantara, Rumentang Siang, Goethe -Institut, Gelanggang Generasi Muda (GGM) Merdeka, Toko Buku Kecil (Tobucil), dan tempat sejenis lainnya. Simpul-simpul di sejumlah titik itu merupakan tempat menampung aktivitas sejumlah komunitas yang hadir dan berkembang di Bandung.

Masing-masing komunitas menampung sejumlah pembelajar muda tetapi ada juga yang diisi oleh para 'profesional' sastra. Tercatat nama-nama komunitas yang ada di Kota Kembang ini, yaitu Jendela Seni yang dimotori oleh Erwan Juhara, seorang pegiat sastra merangkap pengajar di sebuah SMA negeri. Komunitas ini terus-menerus melahirkan generasi baru bidang sastra lewat jalur siswa-siswa sekolah. Dari hasil didikan komunitas ini telah lahir penyair muda berbakat: Silvy Purnama Sari.

Ada pula Poros Sastra Muda yang anggota-anggotanya kebanyakan tercatat masih duduk di bangku kuliah. Komunitas yang dimotori Udjianto Sadewa, Iman Abda, dan kawan-kawan ini, intens melakukan pertemuan yang membahas dan membongkar masalah sastra. Tak luput pula komunitas yang muncul dari 'lorong' kampung semisal 'ASAS' yang berasal dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI); Bilik dari Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) maupun Gelanggang Seni Teater dan Film (GSSTF) Universitas Padjadjaran yang dahulu telah melahirkan aktor berbakat bernama Ade Kosmaya (alm).

Jejaknya masih diikuti oleh penerus-penerusnya dengan berdirinya basecamp GSSTF di kampus Unpad Jatinangor. Di daerah Jatinangor pun tercatat sebuah kedai buku yang kerap melangsungkan acara diskusi berkelas, dengan menghadirkan pembicara-pembicara berkompeten di bidangnya. Komunitas yang sekaligus nama kedai buku tersebut bernama Kelompok Belajar Nalar. Di tengah aneka ragam 'paham' yang diusung oleh komunitas-komunitas tersebut, tak ketinggalan yang membawa bendera keperempuanan.

Di antaranya, Komunitas Sastra Dewi Sartika" (KSDS) yang dinakhodai oleh Nenden Lilis dan Tetet Cahyati, Komunitas per-Empu-an (Unpad) dan komunitas Wanita Bermata Sastra (UPI). Keanakaragaman 'paham itu makin lengkap dengan munculnya Pasamoan Sophia dengan "imam" Bambang Q-Anees, dosen di IAIN Gunung Djati Bandung. Komunitas ini berkubang pada masalah filsafat. Hadir pula komunitas lain yang membawa unsur (bahasa) daerah Sunda, yaitu komunitas Rawayan yang dimotori Kang Tedi AN Muhtadin dan Dian Hendrayana.

Kavling komunitas sastra yang bersifat keagamaan (Islam) tumbuh pula di kota ini dengan adanya 'pabrik penulis cerita' yaitu Forum Lingkar Pena (FLP) Jawa Barat dan Bandung. Komunitas yang dipelopori oleh Helvy Tiana Rosa ini aktif menerbitkan kumpulan-kumpulan cerita pendek dan novel di penerbit As-Syamil, Mizan, Latifah, Intermedia, dan sebagainya. Dari komunitas ini lahirlah penulis-penulis andal yang tinggal di Kota Sangkuriang, semisal M Irfan Hidayatullah, Yus R Ismail, dan kawan-kawan. Ada juga Komunitas Malaikat yang dipimpin Ahmad F Imron di daerah Ciparay, Kabupaten Bandung.

Dari semua komunitas itu, ada hal yang patut diperhatikan, yaitu adanya pola regenerasi yang baik pada tiap-tiap komunitas. Regenerasi itu setiap tahun kerap memunculkan sastrawan dan penulis baru. Pola 'sang adik' belajar dan dibimbing 'sang kakak' terbukti telah membuat Bandung kontinyu melahirkan generasi 'penghuni' jagat sastra di Indonesia. Regenerasi itu dilakukan dengan adanya pertemuan rutin atau acara sastra. Komunitas-komunitas itu biasanya bertemu pula dalam ajang-ajang sastra yang diselenggarakan oleh suatu komunitas.

Tak heran para pegiat dan pembelajar tersebut selalu melek akan perkembangan sastra di kota Bandung dengan adanya pertukaran informasi kesusastraan. Di balik semua itu, ternyata masih ada ganjalan lain, yaitu kurangnya media untuk menampung hasil karya sastra dari tiap komunitas. Lebih spesifiknya adalah media lokal. Sekarang, media lokal yang masih konsisten giat 'menampung' para penggiat sastra tersebut adalah Pikiran Rakyat. Beberapa tahun terakhir, masih ada harian Galamedia, namun entah mengapa ruang untuk sastra tak terlihat lagi.

Dahulu pernah lahir harian Bandung Pos yang telah berjasa pada penulis-penulis sastra pemula. Ada juga Majalah Mangle yang masih konsisten dengan karya-karya sastra berbahasa Sunda. Tak ketinggalan pula peran pemerintah yang sepertinya kurang intens terhadap masalah sastra di Kota Bandung. Kapan ya...Bandung memiliki tempat selayak TIM yang dibangun waktu zaman Ali Sadikin dulu -- yang bisa menjadi ajang berkumpul sastrawan dan juga dan tempat pertunjukan seni 'bergizi dan bervitamin'.

Editor, alumni Sastra Indonesia Unpad, dan pemerhati komunitas sastra di Bandung

Tidak ada komentar:

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails