5.11.07

"Semua Orang kan Penulis"

Belia, Pikiran Rakyat, Selasa 19 Oktober 2004

Jarum jam sudah mengarah ke angka 3. Beberapa orang mulai berdatangan memenuhi tempat duduk di teras Toko Buku Kecil. Di dinding ada spanduk merah dengan tulisan besar "Sharing Pengalaman Menulis Bersama Seno Gumira Ajidarma". Tidak heran mengapa sore itu banyak orang berdatangan untuk bertemu salah satu penulis senior yang dimiliki Indonesia.

Baru saja tadi malam ia memenangkan Khatulistiwa Award atas bukunya yang berjudul Negeri Senja. Beruntung sekali belia bisa bertemu dengannya.

Ia langsung bercerita pengalamannya menulis yang dia rintis sejak SMA. Mas Seno pun bercerita pengalamannya ketika menjadi wartawan juga penulis puisi, essay, cerpen, skenario teater dan film bahkan menulis naskah untuk komik. Ia pun sering menulis di media-media cetak berupa cerpen ataupun artikel.

"Apapun yang ada di kepala kalian, tulis!" katanya tegas ketika ditanya apa kiat dirinya dalam menulis.

Walaupun tulisan Mas Seno ini sudah banyak sekali. Ia mengaku tulisannya beberapa kali pernah ditolak oleh beberapa media cetak, tapi ini sama sekali tidak membuatnya berhenti menulis.

Jadi jangan takut untuk mulai menulis. Apapun yang ada di pikiran kamu tuangkan ke dalam sebuah tulisan. Tulisan apapun, entah itu berupa puisi, essay, cerpen, atau sebuah jurnal harian.

Apa kita harus sekolah khusus untuk belajar menulis? Adakah teori yang harus dipelajari supaya bisa menulis?

"Menulis itu nggak usah pakai teori. Pokoknya sering-sering nulis. Masa tulisan kamu yang ke 1000 belum bagus juga? Biasakan menulis. Tulis apa yang kamu suka dan jangan takut untuk bergulat dengan pemikiran yang ada," jelas Mas Seno.

Bacalah! Itu pesan Mas Seno pada belia kali ini. Nah, kalau Belia ingin bisa menulis pertama yang harus dilakukan adalah membaca buku yang banyak. Hal terpenting dalam menulis adalah dorongan. Apapun itu dorongannya.

Kalau Belia mengidolakan salah satu penulis lokal atau luar, jadikan ia sebagai panutan. Meniru gaya tulisannya sah-sah saja. "Makin sering kita menulis lama kelamaan gaya khas penulisan kita akan keluar dengan sendirinya," lanjut penulis buku Kitab Omong Kosong ini.

Seperti yang dilakukan Tarlen Handayani, pemilik Toko Buku Kecil ini mengaku ia memulai menulis sejak SD. Tau nggak apa yang ia tulis? Cerita To Liong To. Jadi saking senengnya dengan serial kung fu berbau roman klasik ini, Tarlen dengan semangat menceritakan kembali episode-episode To Liong To yang baru saja ia tonton.

Nah, mungkin belia bisa memulai dengan menuliskan jalan cerita dengan dialog-dialog yang kamu ingat dari film-film yang menarik dan tidak ingin dilupakan. Tidak harus mirip sekali dengan filmnya. Kamu juga bisa berimajinasi sedikit dan menuangkan kata-kata atau bahkan cerita belia sendiri sehingga bisa jadi muncul cerita yang lebih seru. "Kalau nggak nulis, saya tuh bisa gila!" ujar Tarlen sambil tertawa ketika ditanya kenapa dia suka sekali menulis.

Ia mengaku menulis itu merupakan salah satu jalan untuk refleksi diri. Terkadang dari refleksi itu muncul ide-ide baru.

Penyuka buku-buku John Steinback dan Pramoedya A. Toer ini punya pengalaman menarik dalam menulis. Ia pernah berkorespondensi dengan sepupunya tetapi ia sendiri menjadi orang lain. Tarlen berpura-pura menjadi sosok pribadi yang lain dan mereka pun saling surat-suratan. Ide yang cukup unik dan menarik bukan? Kamu bisa menggunakan daya khayalmu dalam menulis. Sebebas mungkin.

Terkadang tulisan itu dibuat dengan maksud untuk menyampaikan ide atau pikiran kita. Belia pengen donk orang yang membaca tulisan kita tergerak dengan apa yang kita pikirkan.

Belia bisa ikutan kegiatan Klab Nulis di Tobucil, tiap hari Senin. Klab ini dimaksudkan sebagai wadah untuk orang-orang yang suka menulis. Tiap minggunya ada topik yang berbeda. Kita bisa menulis bersama di klab ini lalu dibaca bareng-bareng. "Jadi tiap minggu yang ikutan klab nulis tau kemajuan menulisnya sampai dimana," kata Mirna, pengasuh klab ini.

Lebih asyik lagi kalau tulisan kita ternyata dibaca dan disukai banyak orang. Pasti bangga donk! Tapi kalau ga ada media yang mau menerbitkan tulisan kita, gimana?

"Terbitkan sendiri. Kalian bisa dengan modal sendiri menerbitkan dan menjualnya ke masyarakat!" jelas Mas Seno.

Belia tau kan sekarang banyak banget zine-zine atau majalah indie di Bandung. Nggak ada salahnya kalau tulisan kita diterbitkan secara sederhana, sekedar hanya foto copy-an dengan layout minimalis. Yang penting ide dan pikiran kita terbaca.

Di internet pun media untuk menulis udah banyak banget. Belia bisa menuangkan tulisan di blogger (www.blogger.com atau www.myspace.com) ataupun situs-situs yang menyediakan fasilitas diary online gratis (www.mydiary.com). Untuk konsumsi lokal, belia bisa mengunjungi situs http://penulis.relawan.net atau www.penulislepas.com. Di situs ini terdapat tempat khusus untuk tulisan-tulisan belia. Tinggal buat account dan upload tulisan, seketika tulisan kamu bisa dibaca oleh semua orang lewat internet. Mudah kan?***

1 komentar:

kaos oblong mengatakan...

menulis memang berat jika tidak dipaksakan yang lebih brat lagi
jika kita tidak punya komunitas penulis kerana menulis itu butuh daya imajinasi tinggi tanpa imajinasi mustahil kita akan bisa membuat tulisan. dengn adanya tobuil saya berharap saya bisa menulis tentang imajinasi saya, jika tuhan mengizinkan saya akan bergabung dengan klab tobucil setelah lebaran, harapan saya saya bisa membuat buku mengenai tulisan saya dengan tema SEMUA TENTANG IMAJINASI. AMIIN. WASSALAM

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails