1.11.07

Tarlen Handayani Dari Sepeda ke Tobucil

Republika, Minggu, 27 September 2007


'Kring, kring, kring.'' Tarlen kecil membunyikan sepedanya. Ia menghampiri rumah temannya yang berada di sekitaran rumah Tarlen di belakang Stasion Kereta Api Kosambi, Bandung. Ketika sampai di tempat yang dituju, tangan kecilnya menekan rem dan kakinya melepaskan sadel sepeda.

Ukuran sepeda itu sesuai dengan ukuran tubuhnya yang kecil. Namun, ada sesuatu yang beda dengan sepedanya. Di belakang sepeda disimpan kardus berisi buku-buku seperti komik, majalah, dan buku cerita anak lainnya. Buku tersebut rencananya akan disewakan. Sedangkan rumah yang membuatnya berhenti adalah rumah calon penyewa buku.

Tarlen Handayani waktu itu masih kelas tiga SDN Patrakomala III Bandung. Kecintaannya pada buku membuat hari-hari mainnya pun diisi dengan buku. Baginya buku seperti sebuah taman bermain, sama halnya ketika ia menyewakan buku dengan cara berkeliling menggunakan sepeda.

Saat itu, satu buku ia sewakan Rp 25 per hari. Perempuan kelahiran Bandung, 30 Maret 1977, menggunakan uang hasil menyewakan buku untuk membeli buku dan menambah koleksi bukunya. Selain dengan sepeda, Tarlen pun membuka taman bacaan di rumahnya.

Untuk menjalankan kegiatan ini, Tarlen dibantu oleh teman segengnya. Setiap hari, sekitar lima anak menjalankan jadwal yang sudah disepakati. Satu orang anak bertugas untuk berkeliling menyewakan buku dengan menggunakan sepeda. Sedangkan empat orang lainnya bertugas menjaga buku di taman bacaan.

Pembukuan pun dilakukan dengan sangat sederhana. Hanya menuliskan siapa yang meminjam dan mengembalikan buku. Meskipun yang meminjam adalah orang-orang yang sudah dikenal, namun ada pula buku yang tidak dikembalikan penyewa. ''Kalau buku tidak dikembalikan kami memberinya sanksi dengan memusuhinya dan tidak mengajaknya main, hingga ia mengembalikan buku,'' jelas alumnus tahun 2001 Jurusan Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung (Unisba) itu.

Kegiatan taman bacaan itu bertahan hingga ia duduk di kelas 6 SD. Mulai saat duduk di bangku SMPN 20 Bandung, temannya sudah berbeda. Bahkan, ketika duduk di SMAN 19 Bandung, Tarlen lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman sekolahnya di luar rumah. Meski demikian, kecintaannya pada buku tidak berubah. Semakin lama, koleksi bukunya pun semakin banyak.

Selain buku, yang tidak berubah dari Tarlen adalah geng. Saat kecil ia punya banyak geng, dan ia selalu menjadi ketuanya. Kini, ia masih bergelut dengan geng dalam pengertian yang lebih luas: Komunitas. Ia juga masih bergelut dengan buku, lewat Toko Buku Kecil (Tobucil) yang ia dirikan. Saat ini banyak komunitas yang berkembang di Tobucil, mulai dari klub baca, menulis, literacy, merajut, dan lainnya. ''Prinsipnya sederhana, ilmu itu semakin banyak diamalkan semakin baik,'' kata dia.

Menurut Tarlen, sejak awal berdiri, 2 Mei 2001, Tobucil berkomitmen mendukung gerakan literasi di tingkat lokal. Ada kegiatan membaca, menulis, apresiasi, dan pengembangan hobi. Literasi bagi Tobucil, kata Tarlen, mencakup kegiatan menulis dan membaca dalam arti yang luas. Termasuk kemampuan membaca lingkungan sekitar secara kritis, keberanian memahami diri sendiri sebagai individu yang mandiri dan memiliki potensi berkembang dan berkontribusi bagi perubahan.

Bekerja sama dengan Bandung Center for New Media Arts, Tobucil pun membentuk Common Room. Sebuah ruang kolektif untuk menampungberagam kegiatan. Ada diskusi, workshop, pameran, dan sebagainya. Tobucil pun lantas menjadi kantong budaya di Bandung, yang rajin menggelar beragam aktivitas kreatif. ''Itulah Tobucil, literacy in u're everyday of life,'' tegas Tarlen.

Partama di Bandung
Kesenangannya berkumpul menjadi konsep Tobucil. Pada dasarnya, Tobucil harus mengakomodasi kesenangan terhadap komunitas. Tobucil tak ubahnya sebagai ruang bermain seperti dirinya waktu kecil. ''Perlu trial and error yang panjang,'' ujar anak dari pasangan JB Soedharno dan Ifnaini Widarti ini.

Pasalnya, sejak Tobucil berdiri perpaduan antara komunitas dan toko buku merupakan pertama kalinya di Bandung. Karena itu diperlukan kesabaran untuk mencoba segala sesuatu sampai akhirnya menemukan bentuk pengaturan dari toko buku dan komunitas ini.

Namun, bukan Tarlen jika tidak melakukan improvisasi, trial and error. Keberaniannya ini sudah terlihat sejak ia kecil. Sejak SD, ia sering melihat ayahnya mengotak-atik mobil tuanya. Kesenangan ayahnya mencoba ini dan itu menurun ke Tarlen.

Misalnya, saat Tarlen melihat ibunya menjahit. Maka, setelah ibunya selesai, ia akan menempati tempat duduk ibunya dan menjalankan mesin jahit. Ia merasakan betapa susahnya mencoba menjahit saat itu. Beberapa kali jarumnya patah dan mesin jahit rusak. Hal itu dianggapnya sebagai proses yang harus dilaluinya.

''Saya tidak takut gagal. Karena gagal itu sebanyak kesuksesannya,'' ucap perempuan berambut pendek ini. Kegagalan itu sebanding dengan kesuksesan yang didapatkan. Tarlen yang saat di bangku SMA bercita-cita menjadi aktivis lingkungan dan ingin bergabung dengan Greenpeace itu tidak menyangka akan berkecimpung di dunia buku. Seiring berjalannya waktu, ia pun terseret ke dunia buku, kembali kepada kesibukan yang ia ciptakan di masa kanak-kanak.

Semua itu, bermula ketika pada 1999 ia bersama beberapa rekannya membentuk klub baca. Mereka membahas berbagai buku, diadakan secara berkeliling, karena belum punya tempat kegiatan yang menetap. ren

Tidak ada komentar:

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails