1.11.07

Tarlen Handayani: Literasi Dalam Keseharian

Pikiran Rakyat, Kamis 13 September 2007

ADA yang berbeda dalam perayaan Hari Literasi Internasional yang diperingati setiap 8 September, di Toko Buku Kecil (Tobucil), 8-9 September 2007 lalu. Bukan (hanya) berfokus pada buku, gelaran acara itu justru bertajuk ”Crafty Days, Let’s Get Crafty”. Dari mulai workshop merajut sampai penampilan prakarya needle work dan paper work seperti frame, manik-manik, lampu, handmade t-shirt, patchwork, sulam pita, aksesori, dsb., ada di sana.

Sudut pandang memahami bahwa literasi bukan hanya baca tulis teks, dikembangkan oleh lulusan Jurnalistik Fikom Unisba ini. Pendekatan yang ia lakukan berupa toko buku berbasis komunitas, saat Tobucil berdiri tahun 2001, terbilang sebuah tawaran baru bagi dunia literasi di tanah air. Alih-alih tidak fokus, berbagai kegiatan dan klab hobi oleh Tobucil merupakan mediasi. Mengundang kalangan dari komunitas musik untuk masuk ke perbukuan, bisa lewat pergelaran musik, misalnya.

Sempat berlokasi di Jln. Dago, sekitar April 2003, Tobucil pindah ke Jln. Kiai Gede Utama No. 8. Di sini, Tarlen bersama beberapa teman, membentuk ruang inisiatif Common Room, sebuah payung semua kegiatan yang digelar oleh Tobucil-Bandung Centre New Media Arts (BCNMA). Sampai akhirnya Juli 2007 lalu, ia mengundurkan diri dari Common Room, dan lokasi Tobucil pun pindah ke Jln. Aceh No. 56.

Pada September 2005, Tobucil dan Dipansenja sempat merilis peta komunitas literer yang diberi nama v.01-09-05 (versi 01, September 2005), yang berisi 40 titik komunitas literer di Bandung dan sekitarnya. Tentu saja itu kabar gembira dari sisi infrastruktur perbukuan.

Namun dua tahun setelah itu, banyak toko buku/taman baca yang kolaps meski keinginan mereka untuk mengembangkan diri sebenarnya tetap ada. Dituturkan Tarlen, jika berdasarkan peta tersebut, kira-kira kurang dari 10 komunitas saja yang kini tersisa. ”Banyak yang bertahan hanya sepajang umur kontrakan. Tobucil pun mengalami masalah, tetapi bertahan karena kengototan,” ucapnya. Membincangkan soal pandangannya tentang literasi sampai bagaimana menghadapi kondisi bergugurannya berbagai komunitas literer,berikut obrolan Kampus dengan perempuan kelahiran Bandung, 30 Maret 1977 ini.

Mengapa merayakan literasi dengan isu ”craftivism”?

Kalau dipikir-pikir, rajut dan buku nggak ada hubungannya (tertawa), tapi ya tergantung sudut pandang. Saya sih ingin mengajak orang-orang untuk mengalami literasi itu sendiri. Bahwa kamu nggak usah membayangkan bahwa literasi itu buku-buku dari pengarang besar, wacana tinggi, dsb., tetapi kamu juga bisa mengalami literasi, dari hal remeh-temeh yang sering kali dianggap nggak penting. Craftivism gerakan sosial baru di kalangan anak muda dunia, diusung oleh Betsy Geers.

Pendekatan literasi yang dilakukan semacam ”entry point” sebelum ke menu utama?

Ya, bagaimana dukungan dan pendukungnya terinternalisasi dalam kehidupan sehari-hari? Saya sendiri menerapkan konsep literasi lewat hal-hal sederhana. Semenjak pindah, moto Tobucil jadi berubah ”Literacy in Your Everyday Life”, karena kita percaya perubahan dimulai dari hal kecil. Saya memahaminya sebagai Iqra, bukan hanya membaca teks, tetapi juga membaca dan memahami apa yang terjadi di sekeliling kita.

Tahun 2005 tercatat 40 titik komunitas literer, namun kini berguguran, mengapa?

Ya, kini di Bandung mungkin tinggal sekitar 6, yang punya aktivitas pemberdayaan literasi, seperti Ultimus, Rumah Buku, Tobucil, Omuniuum, dan Reading Lights. Saya sedih atas hal ini. Sebenarnya persoalan klasik, yaitu tempat. Biaya sewa yang tinggi, dan tidak memikirkan strategi bertahan hidup, akhirnya hanya bertahan seumur kontrakan. Dunia perbukuan juga sudah antiklimaks ya karena dipegang oleh pemain-pemain besar. Berbeda dengan pebisnis murni, kalau komunitas kayak gini, tarik-menarik antara kepentingan bertahan hidup dan idealis tuh selalu penuh dengan ketegangan. Akan tetapi, saya ada kritik juga pada keseluruhan komunitas ini. Dari yang saya perhatikan di milis-milis, komunitas ini ternyata mayoritas hanya bisa nyuruh doang. Harusnya gini-gitulah. Lalu, sok atuh bantuin. Tapi responsnya sibuklah, dsb. Karakter komunitas yang masih belum dewasa,

Bisa cerita jatuh bangunnya Tobucil?

Sewaktu ditinggal dua teman saya di awal dulu, saya sempat down juga. Belum lagi ada seorang teman yang melakukan penggelapan uang, tidak membayar tagihan ke penerbit selama setahun, waktu itu hutang sampai Rp 80 juta! Waktu itu saya sampai tidak bisa bangun selama 5 hari, pokoknya stres berat. Tapi saya mikir, kalau saya berhenti di titik ini, saya tidak akan bisa meraih yang lebih jauh dari ini. Untung kakak dan teman-teman juga banyak membantu. Setelah bergabung dengan Common Room, saya mulai menata diri lagi. Di situ saya mulai bangkit dari kesalahan, salah satunya ketidaksadaran manajerial.

Soal kesadaran manajerial itu sepertinya kurang disadari ketika memulai. Lalu bagaimana solusinya?

Kita tidak punya panduan. Tetap saja kita harus menemukan sendiri resepnya, setelah uji coba dan trial error yang mahal dan panjang, dan butuh tenaga besar. Yang jelas, tempat-tempat seperti itu harus selalu dijaga supaya tetap cair. Banyak yang udahan juga karena itu, termasuk Common Room, perbedaan cara mencapai itu padahal tujuannya sama.

Solusinya, bisa dengan orang yang mampu itu membantu. Misalnya, orang yang mampu secara finansial, membantu orang yang punya program.

Soal rendahnya minat baca dan karena diskriminasi bacaan seperti yang kamu bilang, maksudnya bagaimana?

Saya teh melihat sikap itu, dalam berbagai komunitas literer secara umum. Klaim-klaim genre yang ada sebenarnya bisa membuat orang malas untuk mengenali dunia itu. Kalau saya ingin memulai dari teenlit, nanti saya dibilang dangkal. Kalau mau mulai dari yang nyastra, sebenarnya mah nggak keotakan (tertawa). Jadi jaim akhirnya. Padahal yang namanya literasi itu proses mengenali diri sendiri. Itu tuh intimidatif. Orang-orang yang mulai baca dimulai dari yang ringan, jadi takut gitu lho. Belum apa-apa udah dihina nggak penting bacaannya. Itu kan sebenarnya mematikan gerakan literasi itu sendiri. ***

dewi irma
kampus_pr@yahoo.com

Tidak ada komentar:

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails