1.11.07

Toko Buku dalam Manajemen Anak Muda

Kompas, Jumat 28 Januari 2005

Rak-rak penuh buku tersusun dengan rapi. Di ruang yang luasnya hanya sekitar 20 meter persegi itu, terdapat satu meja kayu kecil. Sementara di halaman rumah terdapat sepasang tempat duduk yang lebar.

DI meja baca yang sempit atau di kursi yang lebar itu para pengunjung boleh membaca buku sesukanya. Tidak seperti toko buku besar yang menyegel sebagian besar buku yang dipajang, di toko buku itu pengunjung boleh baca buku sampai habis, lalu pergi tanpa membeli. Tidak ada kewajiban membeli buku di sana. Meski demikian, pemilik toko memberi fasilitas membaca dengan sangat terbuka.

Di tempat yang diberi nama Tobucil atau Toko Buku Kecil itu, pemilik toko juga sering mengajak pengunjungnya untuk berdiskusi dengan penulis buku, menonton film, atau melakukan hobi bersama.

Hal ini tidak hanya terjadi di Tobucil. Toko-toko buku alternatif lain di Kota Bandung memiliki gambaran seperti itu. Toko buku tidak hanya jadi tempat menjual buku, tapi sekaligus sebagai perpustakaan dan tempat bertemu teman sehobi. Entah hobi membaca, menulis, menonton film, atau merajut sekalipun.

Di toko buku alternatif banyak hal bisa dilakukan. Pemiliknya sebagian besar orang-orang muda yang usianya belum sampai kepala tiga. Di Kota Bandung, toko buku seperti ini tersebar di berbagai tempat, dan kini jumlahnya sudah sekitar 20 toko.

AFNALDI alias Sangdenai (29), salah seorang pemilik Warung Buku Lesehan yang baru dibuka Juni 2004 menyatakan, pihaknya sengaja menggunakan nama warung untuk toko bukunya di Jalan Imam Bonjol, Bandung. Afnaldi ingin pembeli tidak hanya bertransaksi tapi juga berinteraksi seperti yang terjadi di sebuah warung.

Bilven (26) memosisikan toko bukunya untuk kumpul-kumpul para aktivis kampus yang juga teman-temannya. Toko buku yang ia namakan Ultimus itu dibuka dari pukul 09.00 hingga larut malam. Larut malam ini tidak terbatas, bisa pukul 24.00, bisa juga lebih dari itu.

Aturan tidak jelas untuk tutup buku ini sengaja dipakai agar para pengunjung yang tidak bisa tidur dan masih ingin membaca atau berdiskusi di toko bukunya tetap bisa melanjutkan kegiatannya. "Daripada ditutup, terus mereka nongkrong tidak jelas, lebih baik tetap di toko saja," ujar Bilven.

Sementara, Kiki Andrianti (22), pemilik toko buku dan perpustakaan Das Mutterland yang menyediakan buku-buku tua terutama yang berbahasa Jerman berharap, pengunjungnya adalah orang-orang yang tertarik pada buku-buku berbahasa Jerman, dan mereka bisa membentuk sebuah komunitas di sana.

Keakraban merupakan ciri yang ingin diangkat oleh anak-anak muda itu di toko bukunya. Tarlen Handayani (28), pemilik Tobucil-singkatan dari Toko Buku Kecil-sejak remaja membayangkan bisa memiliki toko buku yang nyaman, akrab, dan memiliki klub baca seperti yang ia lihat dalam serial televisi Allen The Generous yang ia tonton di awal tahun 1990.

IA bertambah menggebu untuk bisa punya toko buku sendiri setelah menonton film You've Got Mail yang bersetting sebuah toko buku di mana penjualnya bisa berakrab-akrab dengan pembelinya.

Tahun 2001, Tarlen yang di masa kecilnya sudah biasa keliling ke rumah-rumah untuk menyewakan buku, mulai mewujudkan mimpinya. Ia bekerja sama dengan dua temannya. Untuk modal awal Tarlen dan teman-temannya mengumpulkan modal Rp 1,5 juta.

Uang digunakan untuk menata toko buku. Sementara untuk toko buku, Tarlen mendapat pinjaman tempat dari temannya, sedangkan untuk pasokan buku ia bekerja sama dengan penerbit buku. Toko milik Tarlen berada di Jalan Kyai Gede Utama, Bandung.

Sementara itu, Riki mengaku awal membuat toko buku karena ia senang mengoleksi buku-buku lama hasil perburuannya di pasar buku bekas seperti Palasari dan Cihapit, Bandung.

"Karena koleksi sudah banyak, sebagian besar berbahasa Jerman, teman saya mengusulkan agar saya membuat toko buku dan perpustakaan saja," ujar pemilik toko buku di Jalan Cihampelas, Bandung.

Riki menanggapi usul temannya. Dengan modal pemberian orangtuanya sebesar Rp 24 juta, ia pun membuka toko buku yang dilengkapi kafe kecil, ruang baca, dan ruang pameran sekaligus diskusi, serta untuk memutar film.

SEMENTARA itu, Bilven bersama teman-temannya berhasil mendapatkan utangan Rp 25 juta untuk membuka toko buku. Kini keuntungan yang ia dapat dari penerbit yang bekerja sama dengannya ia pakai untuk membayar utang dan meluaskan usaha.

Ultimus dan Warung Buku Lesehan menyediakan buku-buku sastra, filsafat, sosial, dan politik. Tobucil memiliki koleksi yang sama, namun ia juga menambahkan novel dan buku-buku ilmiah populer serta majalah. Sedangkan Das Mutterland selain memasang buku-buku populer, juga buku-buku lama berbahasa Jerman terbitan tahun 1700-an.

Untuk persediaan buku, seluruh toko buku tersebut bekerja sama dengan beberapa penerbit. Dari penerbit, Tobucil mendapat diskon 30 persen; yang 10 persen dijadikan diskon untuk pembeli.

Sementara, Ultimus dan Warung Buku Lesehan bisa mendapat diskon dari penerbit hingga 50 persen. Dua toko buku ini bisa memberi diskon bagi pembeli hingga 30 persen.

Das Mutterland selain bekerja sama dengan penerbit, juga memasang buku koleksi pribadi pemiliknya dan juga koleksi keluarga beberapa pengelolanya. Di antara buku-buku yang dipajang ada yang boleh dipinjam dan dibawa pulang, ada juga yang hanya bisa dibaca di sana. "Bisa juga saya jual jika harga yang ditawarkan pembeli cukup baik," tutur Riki tentang buku koleksinya.

SEJAK berdiri tahun 2004, Warung Buku Lesehan sudah memiliki pelanggan yang berusia belasan hingga 70-an tahun. Sementara Tobucil berhasil menembak pasar usia 15 tahun hingga 35 tahun. Tobucil kini memiliki sekitar 1.000 pelanggan dengan omzet per bulan Rp 10 juta hingga 12 juta.

Tarlen yang kini telah menjadi pemilik tunggal Tobucil, mempekerjakan lima karyawan dengan upah Rp 12.500 per 4,5 jam. Ultimus dan Warung Buku Lesehan dikelola oleh seluruh pemilik toko. (y09)

Tidak ada komentar:

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails