1.11.07

Wajah Mereka Cerah Melihat Buku

SEORANG wanita berusia paruh baya duduk di pojok sebuah kafe di Plaza Senayan, Jakarta. Ia sepertinya tengah menunggu seseorang, sambil membaca buku. Tak lama kemudian, datang wanita lain, lebih kurang seusia dengannya, dengan membawa buku yang sama. Disusul munculnya dua wanita lain lagi, semuanya tampak membawa buku yang sama. Mereka rupanya kelompok membaca yang akan mendiskusikan buku yang sama-sama mereka baca. Kelompok membaca ini menyebar dari semua lapisan sosial, umur, dan lain-lain. Buah dari kebebasan?

SEJAK tumbangnya Orde Baru tahun 1998, salah satu yang tampak berkembang mencolok adalah aktivitas di seputar dunia perbukuan. Muncul penerbit-penerbit baru, baik di kota-kota besar maupun di kota-kota kecil, seperti Magelang, Jawa Tengah. Mereka menerbitkan berbagai buku, dari buku agama sampai ke buku-buku sosial politik yang beberapa di antaranya "ditabukan" pemerintah zaman Orde Baru, sampai ke berbagai buku sastra dengan berbagai eksperimen kesusastraannya.

Selain penerbitan, juga toko-toko buku, yang menempatkan diri bukan hanya sebagai penjual (kadang kala disertai penjaga toko yang ogah-ogahan), melainkan sekaligus menjadi pusat berbagai aktivitas, baik diskusi maupun kegiatan kreatif lain. Toko buku dan aktivitasnya, berikut munculnya kelompok-kelompok baca, semuanya seperti menjadi muara dari kegairahan orang untuk berekspresi, menyuarakan diri-buah paling nyata dari apa yang sering disebut orang sebagai "reformasi".

SOAL bertumbuhnya penerbitan buku bisa dilihat contohnya di Yogyakarta. Julius Felicianus, dari Penerbit Galang Pers (Galang Pers sendiri tiga tahun usianya), memang melihat adanya korelasi antara era reformasi dengan dinamika perbukuan nasional. Di Yogyakarta, kata dia, sebelum reformasi terdapat 42 penerbit saja, dan 32 di antaranya anggota Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi). Setelah era yang disebut reformasi, jumlah penerbit di Yogyakarta meningkat drastis menjadi 101 penerbit, dan 42 di antaranya menjadi anggota Ikapi.

"Dulu memang penerbit berusaha menjadi anggota Ikapi karena dalam keanggotaan itulah penerbit bisa memperoleh proyek-proyek dari pemerintah. Sekarang, penerbit-penerbit tidak berpikir itu lagi. Mereka beridealisme untuk mencetak buku yang mereka pilih sendiri, kemudian memasarkan sendiri. Karena itu, dalam Ikapi Yogyakarta sendiri orientasinya berubah. Kalau dulu bisa membagi proyek, sekarang lebih mengutamakan pembinaan, bagaimana menerbitkan buku berkualitas, bisa dijual, dan bisa bermanfaat bagi masyarakat. Jadi, kalau kita lihat penerbit sekarang lebih beridealisme, karena kebebasan memilih buku lebih terbuka dan kreatif menciptakan pasar," kata Julius.

Sementara Johan Budhi Sasa, dari penerbit Bayu Media, Malang, berkomentar, pada masa Orde Baru boleh jadi orang memang kurang bersemangat mendirikan penerbitan. Itu dia alami, meski dia tahu bahwa di kotanya, Malang, yang dikenal sebagai "kota pendidikan", nyaris belum ada penerbit buku yang memadai. Pada masa Orde Baru, kata dia, izin mendirikan penerbit tidak gampang. "Di samping rasa takut jangan-jangan buku yang diterbitkan dibredel pemerintah waktu itu," ujar Johan.

Pada era ini, izin sudah tidak menjadi kendala lagi. Penerbitan Bayu Media, kata dia, lebih dikarenakan dorongan untuk menghidupkan Kota Malang. Katanya, "Lewat penerbitan ini kami ingin mengangkat penulis atau intelektual Malang." Usia penerbitan ini baru empat bulan, namun mereka telah menerbitkan 29 buku, sementara 31 buku dalam proses akan terbit.

KEGAIRAHAN penerbitan buku itu kemudian bermuara ke toko buku. Richard Oh, Direktur Toko Buku QB di Jakarta, mengamati betapa bergairahnya orang jalan-jalan ke toko buku itu sejak tiga tahun lalu. Ini berjalan seiring dengan usaha penerbitan.

"Orang-orang tiba-tiba bergairah menulis. Topik apa pun mereka berani tulis dan tidak takut-takut, termasuk soal seks, perselingkuhan. Orang-orang pun jadi bergairah lagi membaca dan membeli buku. Alangkah membanggakan melihat wajah mereka cerah melihat buku," tutur Richard Oh.

Di Jakarta, toko buku yang aktif menyelenggarakan kegiatan semacam diskusi bukan hanya QB, tapi juga Aksara. Biasanya, Aksara menyelenggarakan acara diskusi bekerja sama dengan lembaga yang memiliki hubungan dengan buku, dari penerbit sampai kelompok, seperti Teater Utan Kayu. Pada dasarnya, Aksara terlibat dalam penyediaan tempat karena mereka belum memiliki klub membaca.

Membahas buku di toko buku, di kafe, boleh jadi cocok dengan gaya hidup dan mobilitas kalangan atas kota besar. Betapapun, pasti bukan hanya kalangan itu yang bergiat dengan kegiatan perbukuan. Azwina Aziz Miraza dengan proyek Rumah Baca RCTI membuka rumah baca di mana-mana, di daerah-daerah miskin dan terbelakang di Indonesia, dari Malingping (Banten), Mauk (Tangerang), sampai desa-desa di Jateng, Madura, dan Flores.

Di Desa Ciloang, Kabupaten Serang, Banten, ada Pustakaloka Rumah Dunia yang dibangun di tengah kebun buah-buahan seluas 500 meter persegi. "Idenya dari Gola Gong, tapi dalam pengoperasian sehari- hari, saya yang melaksanakan," kata Tyas Tatanka (32), pengelola Pustakaloka Rumah Dunia, yang juga istri Gola Gong.

Gola Gong sendiri, yang kini bekerja di RCTI, dulu adalah penulis yang cukup dikenal di kalangan remaja. Bersama istrinya, ia punya koleksi buku cukup banyak, sekitar 3.000 buku dengan beragam jenis. "Kami berpikir, sayang sekali kalau buku-buku ini hanya dibaca oleh kedua anak saya. Lalu, ada ide mendirikan perpustakaan desa. Ide itu akhirnya terwujud bulan Maret 2002. Perpustakaan ini betul-betul beroperasi pada Juli 2002," cerita Tyas.

DI tengah suasana yang praktis memang lebih bebas ini, beberapa orang mewujudkan mimpi-mimpinya, seperti pasangan Gola Gong dan Tyas. Mereka geregetan melihat kondisi Banten yang iklim membacanya di kalangan anak-anak maupun masyarakat pada umumnya sangat kurang. Itu juga dikarenakan minimnya sarana dan prasarana, misalnya perpustakaan. "Tak mungkin kami bisa mengubah Banten dalam sekejap. Kami bersiasat, memulainya dari rumah dan menularkannya ke lingkungan tempat kami tinggal," ujar Tyas.

Mereka punya keyakinan, dari Pustakaloka Rumah Dunia ini akan tumbuh sebuah generasi baru yang memiliki kapasitas tinggi dan mempunyai hati nurani. Kata Tyas, "Mas Gola Gong ini berbuat sesuatu untuk Banten. Pustakaloka Rumah Dunia adalah mimpinya, membuat anak-anak bangsa lebih cerdas."

Perkembangan usaha itu membuat mereka berbesar hati. Pada Pesta Buku Jakarta 30 Mei lalu, misalnya, sejumlah anak Pustakaloka Rumah Dunia tampil dalam kolaborasi pembacaan puisi dan drama satu babak berjudul Nyanyian Anak Jalanan.

Anak-anak ini memang diajak melakukan berbagai kegiatan, termasuk menulis. Mereka diajak menulis tentang keluarga, rumah, keseharian di sekolah dan kampung, pokoknya apa saja yang ada di dalam hati. Tulisan bisa dalam bentuk prosa maupun puisi. Karya anak- anak desa itu bahkan sudah diterbitkan dalam buku antologi puisi, Salam dari Rumah Dunia 1. Kini, tengah dipersiapkan antologi puisi kedua. Itulah salah satu kegiatan mereka.

Individu-individu ini, dari bara dan kegemaran yang mereka jalani sendiri, memercikkan api pada lingkungannya. Di Bandung, ada toko buku Kecil, milik Tarlen Handayani. Toko buku Kecil dengan kegiatan klub bacanya yang cukup aktif, didirikan Tarlen karena kegemaran membaca dia sendiri. "Selain itu, saya juga ingin membuktikan bahwa minat baca masyarakat Bandung cukup baik. Kalau untuk baju saja rata-rata remaja Bandung bisa membelanjakan Rp 75.000 per bulan, masak untuk buku tidak bisa? Selain itu, saya juga ingin membentuk komunitas melalui klub baca ini," kata Tarlen.

DENGAN berbagai corak ragamnya, toko-toko buku menjadi pusat-pusat kecil berbagai kegiatan budaya, kelompok-kelompok baca menjadi pusat pemberdayaan. Ada tukang becak yang kemudian kembali ke desanya ikut mengelola perpustakaan, seperti diceritakan Azwina, anak jalanan yang berpuisi seperti di komunitas Gola Gong, sampai ibu-ibu yang berdiskusi mengenai buku-artinya mereka tidak hanya menonton telenovela.

"Kebebasan memilih dan membaca buku itu menjadi hak dan kedaulatan manusia. Setelah buku bebas beredar, hak dan kedaulatan itu semakin besar," kata Richard Oh. (KSP/OKI/TOP/CAN/NMP/BRE)

Dimuat di Kompas, Minggu 8 Juni 2003

Tidak ada komentar:

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails