6.1.08

Apresiasi, Literasi, dan Resistensi Pergulatan Komunitas Literer Bandung

Pikiran Rakyat, 29 September 2005

Karya sastra tidak dapat berdiri sendiri. Soal ini boleh menjadi debat tersendiri di kalangan sastrawan dan pemerhati sastra. Namun, pahami saja secara sederhana, karya sastra tanpa dibaca masyarakat baik secara literer, auditif, maupun audio visual tak lebih dari selembar kertas kosong.

Melalui novel, pembacaan puisi, pementasan teater, dan pemutaran teater, sastra berbicara pada masyarakat. Di situ sastra menjadi ajang refleksi yang memantulkan wajah masyarakat. Paling tidak katarsis dan tidak melulu hiburan.

Pantulan ini perlu menampar masyarakat. Apalagi, hari-hari ini terasa kuat saja desakan terhadap tamparan itu. Media massa memampang anarkisme baik aksi massa yang destruktif maupun aksi komunalisme yang represif. Ini mencerminkan kepekaan dan reaksi yang dangkal dan naif masyarakat terhadap persoalan kemanusiaan. Lepas dari provokator atau dimainkan oleh “dalang”, masyarakat sendiri memang mentah.

Niscaya kalau sastra tampil serius dengan tema-tema dasar kehidupan manusia. Kemelut menjadi stimulasi kreativitas. Bukankah kreativitas biasanya terpompa ketika seorang seniman terimpit oleh kenyataan hidup yang keras? Para sastrawan lantas menjadi tukang kata yang berkutat merumuskan pergulatannya. Manakala rumusan itu mampu merumuskan apa yang mau dirumuskan, kata-kata tersebut disebut indah. Tak jarang juga tidak mudah dicerna.

Mau tak mau apresiasi sastra terbentang. Apresiasi ini tidak sekadar ajang bedah karya sastra yang memang bisa berguna demi pendekatan ilmiah terhadap sastra atau demi sumbangan untuk menumbuhkan dan memelihara iklim sastra. Sastra juga dapat turut membangun kepribadian matang manusia. Caranya jelas: dibaca.

Media televisi sebenarnya dapat tampil sebagai institusi populis yang dapat mencuatkan impuls terhadap apresiasi sastra. Produk tayangannya dapat menjadi jembatan antara kultur yang sangat dangkal dan kultur yang terlalu tinggi. Nyatanya televisi tampil setengah hati. Rating menjadi ukuran program. Muncullah tayangan ala Cinderella yang meninabobokan dan tayangan misteri yang rajin membangun mitos-mitos di era modern dan (katanya) rasional ini. Harus diakui itu pembodohan. Ironisnya, selera mayoritas masyarakat akhirnya juga terbaca di situ.

Penerbitan menjadi salah satu harapan. Di dunia Barat apresiasi begitu meluas lantaran ditunjang oleh penerbitan. Sulit melepaskan kenyataan bahwa di sana bukan hanya apresiasi sastra menjadi maju, melainkan akses publik ke arah pengetahuan pada zaman Renaissance juga dimungkinkan oleh penerbitan buku. Dampaknya luar biasa. Orang jadi mampu menggunakan akal sehatnya.

Terima kasih perlu disampaikan pada Johann von Guttenberg. Mungkin dia tidak membayangkan bahwa mesin cetaknya menjadi peletup gerakan resistensi dan kemudian reformasi. Sebelumnya buku dikuasai hanya oleh kaum biarawan dan kalangan kaum bangsawan. Tapi sejak Renaissance —ketika kaum borjuis mencetak dan menerbitkan buku sendiri— semua orang tiba-tiba punya akses untuk membaca, berpikir, merenung, menulis, dan seterusnya sehingga kecintaan pada karya-karya literer terbentuk. Itu lima ratus tahun lalu.

Di Indonesia itu baru terjadi hari-hari ini dan langsung menghadapi problem tumpang-tindih paradigma. Ketika paradigma membaca belum juga tumbuh, kita langsung disikat oleh paradigma audio visual yang seperti mengembalikan kita pada pola-pola lisan. Menonton itu kebutuhan lisan.

Kalau membaca itu tidak betul-betul dipacu, budaya literer kita bisa abortif. Persoalannya ternyata sedemikian ruwet. Entah dari mana mesti diurai. Namun, kita tahu ada tiga hal yang mesti tumbuh: tumbuhnya minat baca sendiri, tumbuhnya kemampuan refleksi, dan tumbuhnya infrastruktur. Bermunculannya toko buku yang mengadaptasi konsep komunitas dua tahun terakhir di Bandung merupakan kabar gembira dari sisi infrastruktur. Setidaknya ada indikasi meningkatnya aktivitas literasi di kota ini.

**

Editor Jalasutra, Anwar Holid dengan apik memaparkan komunitas dan toko buku alternatif serta literasi dan resistensi gaya hidup di Kota Bandung dalam tulisan bertajuk “Membuat Ruang, Mencari Peluang”.

Berdasarkan kecenderungan pasarnya, toko buku di Bandung bisa dibagi dalam empat tipe, yaitu umum, diskon, alternatif, dan eksklusif. Pasar umum memiliki Gramedia dan Gunung Agung sebagai pusat; diskon dengan Palasari sebagai model; alternatif direpresentasikan sejumlah toko buku kecil yang hidup sebagai bagian sebuah komunitas; sementara yang eksklusif bisa diwakili oleh QB. Dominasi toko buku besar dan sistem ekonomi perbukuan yang sangat dikuasai distributor adalah keadaan yang ingin dipecahkan toko buku alternatif. Sebenarnya apa makna istilah alternatif itu?

Dilihat dari perkembangannya, istilah itu mengacu pada upaya resisten terhadap bentuk toko buku umum yang menganggap calon pembeli sebagai mangsa, siap dirogoh kantungnya. Di toko buku seperti itu relasi manusia yang personal, ramah, dan melayani tak ditemui.

Keadaan itu ingin dibalik oleh hampir semua toko buku baru. Mereka menyediakan kursi, sofa, meja, dan bahkan komputer; membolehkan buku dibuka-buka dulu; sering memberi saran bacaan, diskon, dan pengetahuan buku mereka yang mengagumkan. Mereka hadir sebagai teman dan toko ingin tampil sebagai rumah tempat segala sesuatu bisa dibagi dengan nyaman termasuk menyediakan minuman. Malah gratis.

Mereka tak hanya menjual komoditas cetak, melainkan juga mengadakan diskusi, pameran, workshop, pergelaran musik, dan menjadi pusat pertemuan kawan sebaya. Buku bukan alasan satu-satunya orang datang ke toko. Toko menjadi ruang publik yang bisa dijadikan alasan baik untuk eksis atau beraktualisasi. Ketika berkumpul, gagasan-gagasan bersosialisasi, berinteraksi, menjadi pikiran bersama dan tampaknya ingin bisa melawan sesuatu yang umum, masif, berlaku bagi semua orang.

Simak pemahaman Tarlen dari Tobucil mengenai literasi dalam diskusi “Literasi dan Resistensi” antarkomunitas literer Bandung yang dipromotori komunitas Dipan Senja di Bale Pustaka, Jln. Jawa No.6, Sabtu (24/6). “Literasi buat saya bukan sekadar membaca dan menulis, tapi seperti ungkapan ‘Iqra’. Literasi itu bagaimana kita membaca makna apa-apa yang ada di hadapan kita.”

Tarlen menambahkan bahwa alih-alih tidak fokus, berbagai klab dan bentuk kegiatan oleh Tobucil-Common Room merupakan mediasi. “Kami mengundang orang dari komunitas musik untuk masuk lewat pergelaran musik, misalnya.”

Achmad Bukhori, mahasiswa School of Education, Boston University, AS, dan dosen Universitas Pendidikan Indonesia, dalam tulisan “Menciptakan Generasi Literat” (Pikiran Rakyat, 26 Maret 2005) punya gagasan serupa. Secara sederhana, literasi berarti kemampuan membaca dan menulis atau melek aksara. Dalam konteks sekarang, literasi memiliki arti yang sangat luas. Literasi bisa berarti melek teknologi, politik, berpikiran kritis, dan peka terhadap lingkungan sekitar.

Kirsch dan Jungeblut dalam buku “Literacy: Profiles of America’s Young Adults” mendefinisikan literasi kontemporer sebagai kemampuan seseorang dalam menggunakan informasi tertulis atau cetak untuk mengembangkan pengetahuan sehingga mendatangkan manfaat bagi masyarakat.

Sementara itu, Holid juga mengungkapkan bahwa salah satu kekurangan toko buku alternatif adalah terbatasnya judul yang mampu mereka sediakan. Ini diakibatkan kekurangan, terutama deposit yang tidak mampu mereka upayakan untuk mendapatkan judul yang lebih banyak dari penerbit atau distributor. Padahal, sebuah judul laris memungkinkan mereka mendapat bagian keuntungan dan menambah penghasilan. Akibatnya mudah dicurigai bahwa secara ekonomi pun komunitas belum mampu memenuhi kebutuhan sendiri. Di sisi lain dalam diskusi antarkomunitas literer terungkap bahwa pengunjung lebih suka meminjam.

Buruknya manajemen dan cara menghadapi kondisi realistik pasar di sekitar komunitas merupakan salah satu penyebab runtuhnya komunitas, toko buku, dan membuat agenda gerakan literasi tidak efektif. Di Bandung sudah ada beberapa toko buku/komunitas yang kolaps, sementara keinginan mereka untuk hidup dan mengembangkan diri sebenarnya terus ada.

Maka, alih-alih sebagai pemberontakan, perlawanan, atau isolasi, Deni dari Dipan Senja melihat resistensi sebagai pemberdayaan. “Resistensi bagi kami adalah upaya survival,” katanya. Dalam diskusi digagas upaya identifikasi masalah dan upaya praktis. “Kalau kita bikin workshop tentang manajemen praktis seperti cara ngatur cash flow atau hal-hal seperti itu, itu akan bermanfaat sekali,” usul Tarlen. Soal kontribusi terhadap publik dipandang taken for granted: ketika kinerja baik, maka publik dengan sendirinya terlayani.

Mengembangkan literasi, mempertahankan bisnis, memberi sumbangan terhadap sistem perbukuan, dan mendukung komunitas merupakan pekerjaan yang cukup sulit tanpa idealisme dan profesionalisme. Bila belum mapan dan mampu memperlihatkan kinerja mengesankan, toko buku alternatif akan tetap berada dalam ketegangan membangun bisnis dan melakukan literasi sekaligus.

Untungnya, diskusi serupa yang diharapkan disusul aksi akan terus digelar. “Saya tidak mau diskusi ini cuma sebatas omong-omong saja, tapi juga ada aksinya,” tegas Deni. Setidaknya aksi peluncuran peta komunitas literer v.01-09.05 bisa menjadi sebuah awal.***

Ricky Yudhistira
kampus_pr@yahoo.com

Tidak ada komentar:

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails