6.1.08

Baca+Tulis= Buku

Pikiran Rakyat, 18 Mei 2004

PERNAH punya cita-cita jadi jurnalis atau penulis? Eits, jangan mengernyitkan dahi dulu dan langsung berpikir kalo dua pekerjaan tadi adalah pekerjaan yang membutuhkan skill luar biasa sekaligus kapasitas otak lebih dari orang-orang pada umumnya. Atau malah berpikir kalo menulis dalam hal ini adalah tulisan berupa artikel, feature, bahkan novel sekalipun, merupakan wadah untuk orang dewasa dalam pengertian umur? Wah, pikiran kayak gitu tuh salah besar!

Nggak percaya? Coba deh Belia main-main ke toko buku. Di sana pasti Belia bakal nemuin nama-nama penulis Indonesia yang mungkin masih dirasa asing untuk telinga. Tapi kalo Belia hobinya baca, nama-nama kayak Djenar Maesa Ayu, Ayu Utami, Asma Nadia, Dinar Rahayu, Dewi Lestari, Fira Basuki, Rachmania Arunita, Nukila Amal, bahkan mungkin sampai Sri Izzati, pemegang rekor MURI sebagai penulis termuda pun Belia tahu. Mereka yang disebut tadi adalah penulis-penulis yang walaupun usianya nggak belia lagi (kecuali Sri Izzati), tapi karya mereka bisa membantu meningkatkan minat baca untuk masyarakat Indonesia.

Kalau remaja era '80-an sampai '90-an awal, sempat "ditemeni" Hilman "Lupus" Hariwijaya, Zara Zettira, Liestyo Suwito, Gola Gong, Adra P. Daniel, dan sederet penulis lainnya, nama-nama yang disebut sebelumnya, boleh dibilang, "teman" bagi remaja masa kini.

Lain dulu lain sekarang. Tema yang dikeluarkan oleh penulis-penulis muda atau penulis yang concern sama dunia anak muda mulai beragam. Supernova miliknya Dewi "Dee" Lestari misalnya, bertemakan fiksi ilmiah. Atau tema percintaan dengan bumbu sedikit "nakal" yang coba ditawarkan oleh Fira Basuki atau Djenar Maesa Ayu.

Penggemar sastra pun dimanjakan dengan hadirnya novel-novel karya Ayu Utami. Lalu, mana yang bisa dikonsumsi secara ringan oleh remaja? Novel Eiffel I'm in Love karya Rachmania Arunita yang diadaptasi jadi film layar lebar boleh jadi favoritnya Belia. Tapi, nggak ada salahnya kalo Belia pun membaca novel-novel yang rada berisi agar juga punya wawasan yang lebih oke.

Mengarang, menulis, tatabahasa, dan pelajaran bahasa Indonesia barangkali merupakan pelajaran paling memuakkan bagi Belia. Nggak heran jika penulis dan jurnalis pada akhirnya bukan merupakan sebuah karier yang dicita-citakan oleh banyak anak Indonesia, kalah jauh dibandingkan dengan insinyur, dokter, pilot, atau mungkin jenderal.

Dari banyak pengamatan sehari-hari, tampaknya orang Indonesia lebih suka menyampaikan ide dan pendapatnya secara oral, berpidato, berbicara di hadapan umum. Ini misalnya, bisa dilihat dari lebih banyaknya belia yang berminat menjadi seorang penyiar ketimbang menjadi seorang penulis atau jurnalis. Padahal, berbeda dengan pembicara, seorang penulis melalui tulisan dan bukunya, dapat membuat pembaca menuai ide dan ilmu yang kita sebarkan kapanpun. Hal ini menyebabkan dampak sebuah buku dan tulisan menjadi jauh lebih dahsyat daripada dampak sebuah ceramah dan pidato.

Nggak harus berawal dari membaca

Menulis sesuatu, entah itu untuk tugas pelajaran mengarang di sekolah atau ingin coba-coba masukin karya tulis ke surat kabar, nggak perlu diawali dengan membaca, kok. "Saya mulai menulis karena dulu saya sering mengkhayal," ungkap Mbak Dewi Lestari yang novel Supernovanya meledak di pasaran. Khayalan Belia tentang apapun, entah itu berawal dari mimpi atau sesuatu yang ingin Belia wujudkan, bisa dicoba dituangkan dalam bentuk tulisan.

"Diary itu awal yang bagus untuk mulai menulis," ujar Mbak Dee lagi. Buku harian merupakan sarana untuk latihan mengungkapkan sekaligus mengartikulasikan pemikirian ke dalam bentuk tulisan. Lain lagi ceritanya Rachmania Arunita yang sempat menjadi plagiator. "Hehe, dulu pas sekolah di Prancis, guru saya ada yang nyuruh bikin karangan. Karena saya belum paham bener bahasa Prancis, jadinya nyontek karangan kakak kelas saya, deh," ceritanya sambil tertawa.

Aksi Rachmania yang akrab dipanggil Nia pun ketauan sama gurunya. Akibatnya, dia harus mengulang tugas mengarangnya. "Dari situ saya mulai suka nulis." Berbeda dengan yang diungkapkan Mbak Dee dan Nia, penyiar radio OZ yang bakal nerbitin bukunya akhir bulan ini, Nisha Rahmanti justru bilang kalo hobi menulisnya diawali dengan hobinya membaca. "Saya hobi banget baca, dari buku-bukunya Enid Blyton sampai Chiclit, semua saya baca," ceritanya.

Membaca memang merupakan sarana tepat untuk menggali informasi. Bahkan ada quotes yang bilang gini, kemampuan menulis seseorang tergantung dari apa yang dia baca.

Zaman sekarang, di mana TV dan radio menjadi pilihan banyak anak muda, mungkin agak susah untuk menumbuhkan minat baca. "TV itu sudah seperti gelombang, karena emang masyarakat kita pada dasarnya adalah berkultur lisan, media elektronik menempa kultur tersebut sampe jadi semakin kuat," urai Dee yang mantan personel Rida Sita Dewi ini.

Untuk mengubah kultur lisan tadi, banyak pakar pendidikan yang mengusulkan untuk mengubah kurikulum pendidikan. Seperti dialog dengan Ibu Kartini Nurdin, General Manager Yayasan Obor Indonesia yang menerbitkan banyak sekali buku-buku bermutu untuk pengembangan ilmu pengetahuan di Indonesia, yang dikutip dari www.perspektif.net., "Untuk membuat anak bisa menulis, tentu dia harus membaca. Untuk bisa membaca tentu harus ada buku. Untuk menyuruh membaca buku, guru harus tahu terlebih dahulu."

Dengan membaca kita membuka ide-ide dan mungkin kita bisa menulis. Orang bisa menulis kalau sudah bisa menyelami dan mempunyai informasi yang banyak, sehingga bisa menuangkan dalam bentuk tulisan. Daya beli rendah terhadap buku memang salah satu penyebabnya, tapi bukan berarti nggak bisa diatasi. Banyaknya perpustakaan keliling yang dikelola oleh LSM atau warga masyarakat, dan berjamurnya taman bacaan di kota kita ini merupakan langkah awal untuk menumbuhkan minat baca.

Nah, bila membaca sudah menjadi budaya, bukan nggak mungkin dalam beberapa tahun ke depan nanti, Belia sudah menjadi salah satu penulis yang karyanya meramaikan dunia buku nasional. Masih nggak yakin? Belia boleh gabung dengan Klab Nulis yang dibikin sama Tobucil. Pengen bikin buku kayak Supernova atau Eiffel I'm in Love? Nggak masalah, tuh! (tisha/belia)***

Tidak ada komentar:

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails