6.1.08

Bandung, Kota Kampus dan Hiburan!

Pikiran rakyat, 15 Juni 2006


AWALNYA adalah sebuah hutan. Kini, Bandung sudah menjadi salah satu kota terpadat di Indonesia. Tidak kurang dari 2 juta jiwa mendiami kota ini. Grafik penduduk pun makin bertambah seiring kebijakan pemerintah kotanya untuk menjadikan Bandung sebagai kota jasa. Salah satunya jasa pendidikan.

SETIAP orang datang ke Bandung, paling awal mereka memberi pernyataan bahwa kota ini adalah kota yang sejuk, banyaknya makanan, pusat perbelanjaan, dan pemandangan cantik para kaum hawanya.

Setidaknya, pikiran itu melekat pula di benak Yogi. Pemuda asal Bali ini datang ke Bandung karena mengira dirinya bisa berkuliah dengan tenang, jauh dari polusi suara dan udara seperti Jakarta. ”Sebenarnya keluarga meminta saya untuk kuliah di Jakarta. Tetapi saya menolak,” ujar pemuda dengan logat Bali yang kental ini.

Pernyataan yang tidak jauh berbeda disampaikan pula oleh Roni kepada Kampus. Remaja asal Lampung ini meneguhkan niatnya datang ke Kota Bandung demi mengejar cita-cita menjadi sarjana ekonomi. Ia menilai, Bandung memiliki beberapa perguruan tinggi dengan kualitas bagus dibanding daerah asalnya. ”Wah, di sini banyak kampus yang sudah memiliki nama besar,” katanya.

Yogi dan Roni sepakat bahwa Bandung memang memiliki banyak alternatif pilihan perguruan tinggi. Hal ini tidak terlepas dari fungsi Kota Bandung, yang sejak awal berdirinya, berfungsi sebagai pusat pemerintahan, pusat perekonomian, dan pusat pendidikan, khususnya untuk daerah Priangan, Jawa Barat.

Diawali dengan berdirinya sekolah pendidikan calon guru pribumi, yaitu Hollandsch Inlandsche Kweekschool, disingkat HIK. Sekolah ini didirikan atas desakan beberapa tokoh masyarakat yang menaruh perhatian besar terhadap pendidikan pribumi, antara lain Raden Haji Muhammad Musa, Penghulu Kepala di Limbangan (Garut) dan K.F. Holle, seorang humanis Belanda. Sekolah tersebut berlokasi di Merdekaweg (Jln. Merdeka) dan disebut ”Sakola Raja”.

ITB didirikan pada 1920, dengan nama Technische Hooge School (THS) de Bandoeng. ITB juga merupakan tempat di mana Presiden Indonesia pertama, Soekarno, meraih gelar insinyurnya dalam bidang arsitektur. Keberadaan ITB pun mendorong munculnya sekolah-sekolah tinggi, universitas, dan institut. Hingga 2006, telah berdiri 16 universitas, 62 sekolah tinggi, dan 4 institut. Banyaknya perguruan tinggi mengakibatkan Bandung talenta berbakat di berbagai bidang.

Tapi sebelum 2006, pemerintah Provinsi Jawa Barat telah menetapkan bahwa Bandung bukan lagi kawasan pendidikan. Hal itu tertuang di Surat Keputusan Gubernur Jabar Nomor 593/3590/1987, tentang perubahan fungsi Jatinangor menjadi kota pendidikan tinggi. Alasannya, Bandung mulai kewalahan menampung kegiatan pendidikan tinggi yang semakin marak.

Marak hiburan

Antropolog Unpad, Budi Rajab, mengatakan, situasi Kota Bandung saat ini berbeda dengan tahun 1970. Masa itu, kampus-kampus seperti Unpad, ITB, dan Unpar merupakan tempat yang nyaman untuk belajar. ”Sekarang, kampus ada yang dekat dengan mal, pasar, dan tempat sampah,” ujarnya.

Sementara Ahmad Tardiana, dosen Arsitektur ITB, mengatakan, kini Bandung makin tidak memiliki arah pembangunan kota yang jelas. Sebagai kota pendidikan, kota ini nyaris tidak memiliki infrastruktur sarana pendukung pendidikan. Bandung makin kekurangan taman kota yang bisa dipakai belajar, minim perpustakaan kota, dan akses informasi.

Ahmad menjelaskan, di Amerika, kampus banyak dibangun di pinggir-pinggir kota. Pembangunan fisik kampus tidak menghilangkan unsur lingkungan yang hijau. Karena, mereka mengira keberhasilan pendidikan terwujud jika berinteraksi dengan lingkungan yang bersih.

Di Bandung, kampus hijau hanya ada beberapa seperti di Universitas Pendidikan Indonesia dan ITB.

Kota Bandung, sebenarnya memiliki beberapa perpustakaan. Di antaranya adalah Perpustakaan Provinsi Jawa Barat, Perpustakaan Umum dan Arsip, Perpustakaan Museum Konferensi Asia Afrika, dan Perpustakaan Museum Sri Baduga. Khusus untuk Perpustakaan Daerah Provinsi (Bapusda) Jabar, memiliki 160 ribu eksemplar buku yang terdiri atas 70 ribu judul.

Fasilitas yang dimiliki Bapusda, antara lain ruang baca yang meliputi ruang baca buku-buku teks umum, ruang baca buku rujukan dan terbitan pemerintah, serta ruang baca terbitan berkala baik untuk anak-anak, remaja maupun dewasa. Di samping itu, disediakan juga ruang audio visual untuk lab. bahasa, CD-ROM, VCD, dan pemutaran film.

Sayang, Bapusda masih belum memenuhi kebutuhan masyarakat, terutama kalangan kampus. Mereka sulit menemukan buku-buku terbitan baru minimal 4 tahun sebelumnya dan sarana bacaan lain yang tergolong mutakhir. Perpustakaan umum di beberapa daerah, termasuk Bapusda Jabar Soekarno-Hatta, kebanyakan hanya memajang buku-buku terbitan lama yang kondisi kertas dalamnya sudah lecet dan cover-nya sudah copot atau hilang.

Sebagai kota yang mengaku sebagai pusat pendidikan, Bandung malah lebih memperbanyak kawasan perbelanjaan, kafe, dan diskotek. Tak ayal, banyak mahasiswa yang melarikan aktivitas karikatif dan hura-hura. Alasannya, mereka jengah dengan kehidupan kampus yang banyak membebani tugas.

Mahasiswa yang datang ke tempat hiburan malam, jumlahnya cukup besar. Data yang dilansir dari salah satu tempat hiburan malam di Kota Bandung, menyebutkan, tidak kurang dari 500 mahasiswa menghabiskan waktunya setiap malam dengan berjingkrakan di lantai diskotek. Jika jumlah ini dikalikan dengan 10 tempat hiburan malam, maka 5.000 mahasiswa sedang menghabiskan satu gelas tequila.

Tidak cukup ”cum laude”

Apabila Kota Bandung, saat ini ”menawari” mahasiswa untuk joget di diskotek atau tenggelam di kampus, itu sebuah pilihan. Akan tetapi, ironis jika meninggalkan Bandung hanya berbekal bekas tiket masuk diskotek atau disayangkan pula jika hengkang dari kota ini hanya bermodal ijazah semata, tanpa berbekal kemampuan lain.

Mengapa demikian? Sebenarnya, meski Bandung dinilai masih minim akses pendidikan, ada beberapa tempat yang bisa memberi kesempatan kepada mahasiswa membuat karya-karya kreatif. Fasilitas itu bukan disediakan pemerintah kota, tetapi kreasi mandiri para generasi mudanya.

Sebut saja seperti Tobucil, Ultimus, Malka, Rumah Buku, Baca-Baca, dan Lawang, adalah beberapa contoh ruang alternatif dalam bentuk toko buku. Tempat-tempat tersebut bukan saja menyediakan bahan bacaan, tetapi juga sebagai tempat menghasilkan karya-karya kreatif.

Unit-unit yang terdiri dari berbagai jenis kegiatan itu dapat memberi bekal keterampilan hidup seperti berkomunikasi, bekerja dalam tim, menyusun konsep kerja, dan menambah jaringan pertemanan dan relasi dengan pihak luar.

Arsitek Baskoro Tedjo, menyebut hal ini sebagai kebudayaan kreatif. Kebudayaan ini lahir dari iklim Bandung dan sekolah-sekolah seni. Tata ruang Bandung juga mendorong proses kreatif. Secara psikologis, tata ruang Bandung telah memberi stimulus orang saling berinteraksi dan menghindari sifat individualisme. Ruang kota dibikin sangat intim dan memberi kesempatan masyarakat saling kontrol.

”Ini adalah konsep kota yang memberi kenyamanan untuk belajar. Kotanya masih manusiawi. Perbandingannya bisa dengan Jakarta yang cenderung individual,” ujar dosen Arsitektur ITB ini.

Sekadar diketahui, belajar di perguruan tinggi tidak cukup dengan terus menerus belajar di dalam kelas. Cara belajar seperti itu memang akan menghantarkan mahasiswa meraih nilai ujian yang tinggi, dengan predikat cum laude. Tetapi, banyak testimoni yang menyebutkan, mahasiswa tidak siap dengan dunia kerja. Banyak dari mahasiswa yang terbentur organisasi kerja, cara membuat proposal, atau keahlian dalam berinteraksi sosial.

Hal itu bisa dihindari jika sejak awal mahasiswa terbiasa bergabung dengan unit-unit kegiatan di luar kampus dan di dalam kampus. Khusus di luar kampus, dalam kurun waktu enam tahun terakhir, generasi muda Bandung banyak yang mendirikan ruang-ruang alternatif untuk kegiatan seni, wacana, bisnis, atau campuran ketiganya.

agus rakasiwi

kampus_pr@yahoo.com

1 komentar:

Juragan609 mengatakan...

------------------------------------------
Infonya mantap Gan. Thank for your sharing.
Ikutan sharing juga Gan. Ada info hot yang lumayan menarik!
------------------------------------------

CEWEK-CEWEK ABG MULAI SENANG DI LELANG

Sekarang zaman mulai berubah. Cewek-cewek ABG mulai banyak yang suka di "Lelang HOT". Sekarang banyak situs lelang online yang mengalami peningkatan jumlah anggota lelang dari kalangan ABG, dari hari ke hari jumlahnya terus bertambah.

Kalau Agan mau ikutan lelang, coba aja KLIK DI DINI. Di situs lelang tersebut sedang ada HOT PROMO. Kalau Agan registrasi bakal dapet point gratisan yang bisa dipakai buat ikutan lelang.

Enjoy the Game Gan!

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails