6.1.08

JIFFest dan ScreenDocs Travelling 2006 Film Dokumenter, Masih Dianggap ”Berat”?

Pikiran Rakyat, Kamis 11 Mei 2006


Setelah berkeliling Medan, Padang, dan Lampung, kini giliran Bandung menikmati film-film dari Jakarta Internasional Film Festival (JIFFest) 2005. Gelaran JIFFest dan ScreenDocs 2006 ini mengambil tempat di beberapa kampus dan tiga ruang inisiatif di Bandung pada tanggal 9-11 Mei 2006.

Sekira 100 penonton memenuhi ruang auditorium Campus Centre ITB, Selasa (9/5). Selain ada pemutaran film, Orlow Seunke, Direktur JIFFest, yang juga sutradara dan penulis skenario, berdiskusi mengenai script writing di sini. Pada hari yang sama, sekira 50 penonton hadir di ITHB.

Animo penonton yang cukup tinggi terjadi di kampus kawasan Jatinangor. Rabu (10/5), ada sekira 300 peonton yang datang ke pemutaran film di PSBJ Unpad, Jatinangor. Bahkan banyak yang tidak kebagian tempat duduk. Di sini, diskusi tentang film dokumenter sebagai treatment of actuality bersama filmmaker Alex Sihar, pun digelar.

Yang menarik, JIFFest juga menggelar program pengembangan script. Siapa saja bisa apply untuk mengikuti workshop. Ide terbaik akan mendapatkan hadiah berupa pembiayaan film sesuai dengan script yang dibuat. Keterangan lebih lanjut bisa diakses di www.jiffest.org.

Menurut Djafar, koordinator acara, JIFFest dan ScreenDocs Travelling 2006 ini agak berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. "Filmnya lebih banyak dan variatif," katanya. Selain itu, temanya pun lebih beragam.

Tahun ini, film yang diputar berjumlah 25 buah, dengan komposisi, 11 film cerita dari beberapa negara seperti Prancis, Spanyol, Korea Selatan, Argentina, Islandia, Italia, Belanda, Rusia, dan Uruguay; 9 film dokumenter dari Kanada, Denmark, Amerika Serikat, Inggris, Australia, Irak, dan Belanda; dan 3 paket film dokumenter dari Indonesia. Paket pertama, disebut "In-Docs I" (Aceh) terdiri dari "Sejarah Negeri yang Karam" (karya Ronny Chandra dan Agus Salim), "Ubat Ate Ubat Sosah" (Alex Sihar), dan "Atjeh Lon Sayang" (Syaiful). Paket kedua, "In-Docs II" (Irian), terdiri dari "Lukas Moment" (Aryo Danusiri) dan "Kitorang Pu Mama" (Tonny Trimarsanto). Kemudian, "In-Docs III" (Metro Eagle Award 2005) terdiri dari "Kami Anak Indonesia?" (Shalahuddin Siregar), "Joki Kecil" (Yuli Andari dan M. Anton Susilo), dan "Rute Menentang Bahaya" (Ressi Dwiana dan Duma Yanti).

Dua film dokumenter lainnya, yaitu "In-Docs IV" (Tionghoa) terdiri atas "Anak Naga Beranak Naga" (Ariani Darmawan) dan "In-Docs V" (Keraton) terdiri dari "Ksatria Kerajaan" (Agus Darmawan dan Fajar Nugroho) dan "Pakubuwono 12: Berjuang Untuk Sebuah Eksistensi" (IGP. Wiranegara).

Kalau diperhatikan, jumlah film dokumenter yang diputar lebih banyak dibanding film cerita. Boleh jadi, ini pertanda bahwa film dokumenter tak lagi dianggap sebagai film yang "dibuat hanya untuk disimpan". Mungkin sudah saatnya, wacana pentingnya film dokumenter sebagai medium yang mempresentasikan sejarah dan nilai budaya diangkat tinggi.

Tarlen Handayani dari Common Room, mitra lokal penyelenggaraan, juga co-producer dan script writer film dokumenter "Anak Naga Beranak Naga", berpendapat bahwa kebanyakan orang di Indonesia masih menganggap film dokumenter itu "berat". Berbicara pentingnya mendokumentasi, bagi Tarlen, adalah upaya untuk mencatat apa yang terjadi hari ini. "Kita punya banyak bentuk kesenian. Tapi apa 50 tahun mendatang masih bisa dibuktikan? Kalaupun masih ada, apakah tetap sama dengan sebelumnya?" ucapnya.

Jika membandingkan film cerita dengan film dokumenter, Shinta, mahasiswa Jurnalistik Fikom Unpad 2002, yang hadir saat pemutaran film di ITB, punya pendapat. Menurutnya, membuat film dokumenter lebih banyak tantangannya dalam hal riset dan pengambilan gambar. "Kalau film cerita, semua bisa di-set. Tapi kalau dokumenter, harus cari moment yang tepat," kata Shinta.

Agar kesan "berat" luntur, pendekatan yang lebih menghibur dalam film dokumenter rasanya perlu dilakukan. "Di kita memang ada yang masih menganggap 'berat', tapi ada juga yang tidak. Poinnya, kita juga harus menyuguhkan yang enak ditonton," kata Djafar.

Sesudah Bandung, masih ada sebelas kota lainnya yang akan didatangi film-film JIFFest. Tujuannya adalah untuk memberi saluran apresiasi yang lebih luas dan memberi wadah untuk makin tumbuhnya bakat-bakat baru insan perfilman di daerah.***

dewi irma
kampus_pr@yahoo.com

Tidak ada komentar:

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails