6.1.08

Lebih Cerdas dengan Televisi

Pikiran Rakyat, 24 Juli 2007

Siapa yang enggak mengenal televisi? Kotak ajaib bernama televisi bisa dibilang sebagai sahabat baik manusia. Televisi adalah jembatan manusia untuk mengetahui kabar manusia di belahan lain dunia. Tapi, televisi, seperti penemuan lainnya, enggak selalu membawa efek positif. Mungkin Belia pernah mendengar kasus pembunuhan, pemerkosaan, dll yang pelakunya mengaku sering nonton tayangan pornografi, kriminalitas, sampai mistis.

Berangkat dari keprihatinan tadi, sejumlah institusi mencanangkan aksi yang punya ngaran "Hari Tanpa TV" atau "Turn Off TV Day", Minggu (22/7) yang diadain berdekatan dengan Hari Anak Nasional. "Gerakan ini bukan gerakan memusuhi televisi," tegas Santi Indra Astuti, dari Bascomms (Bandung School of Communication Studies), Kamis (19/7). Hal ini diungkapkan dalam "Workshop Bedah Iklan" di Tobucil, lebih lanjut Mbak Santi bilang kalau aksi ini tujuannya lebih ke upaya mendorong industri televisi dan semua pihak yang terkait untuk memberikan program yang mendidik.

Denger niat kayak gitu, siapa sih yang enggak setuju?

Berdasarkan literatur yang Belia baca, setiap harinya sekitar 60 juta anak Indonesia menonton televisi selama berjam-jam. Firda, pelajar SMP, mengaku menghabiskan waktunya di rumah dengan menonton televisi. "Bisa lebih dari enam jam sehari, biasanya sih nonton sinetron atau kartun," ujar cewek chubby ini. Menonton televisi sebenarnya sah-sah saja, asalkan dibarengi dengan penyaringan (label/rating) dan pengawasan orang tua.

Pelabelan di sini berarti setiap bentuk tayangan telah lolos dari sensor sehingga kita bisa tahu apakah tayangan tadi aman untuk, misalnya, Belia SMP atau hanya untuk usia 17 tahun ke atas. Contohlah, industri hiburan luar negeri yang melakukan pelabelan seperti G (General, untuk semua umur), PG (Parental Guidance Suggested, harus diawasi), PG-13 (Parents Strongly Cautioned, tidak untuk anak di bawah 13 tahun), dst. Majalah dewasa pun di luar sana tidak boleh dijajakan di sembarang tempat, apalagi dibeli oleh anak-anak di bawah umur. Wuuih!

Bukan tanpa alasan kalau belia bilang keadaan di negeri kita dan negeri maju bagaikan bumi dan langit. Iya sih, beberapa televisi sudah mulai melakukan pelabelan Bimbingan Orang Tua (BO), DW (dewasa), dll untuk tiap tayangannya. Sayangnya, sampai hari ini, aturan masih tidak bergerak ke mana-mana, soalnya belum ada standar baku dan kesadaran sendiri. Enggak jarang kita bisa menemukan orang tua membiarkan anaknya menonton apa pun yang dia mau. Ya, masih dalam tahap basa-basi.

Misalnya Ari Prasmana, Belia kelas VIII ini mengaku pada belia kalau sehari-harinya dia menonton televisi lebih dari 6 jam. "Nonton Cinderella, uhm apa lagi yah? Pokoknya banyak deh nontonnya," ujar pelajar SMP Pasudan 6 ini. Teman-temannya pun mempunyai kuantitas menonton televisi yang hampir sama. Malah, mereka sering menonton tayangan kriminalitas dan dewasa dengan bebas. Duh .…

Masih inget dengan tragedi "Smack Down" beberapa waktu lalu yang memakan korban jiwa adik-adik kita yang masih duduk di bangku TK dan SD? Kalau enggak pengen kejadian seperti itu terulang, ya harusnya, selain melakukan pelabelan tayangan televisi, semua pihak juga melakukan upaya pencerdasan bagi semua khalayak dalam memilah-milah tayangan. "Kalau kita lihat di sinetron-sinetron kan, tidak ada abu, yang ada hanya hitam dan putih. Tokoh yang jahat dibuat sangat jahat, yang baik dibuat sangat baik," urai Mbak Ariani Darmawan dari Kineruku pada workshop yang sama.

Televisi memang hanya benda mati, tapi jangan salah nih … dia bisa mem-brain wash pola pikir kita, apalagi anak-anak atau remaja. Ya, televisi bisa menentukan bagaimana si anak akan berperilaku di masa depan. "Televisi di Indonesia tidak ramah dengan perkembangan psikologis anak, terlalu banyak kekerasan," ujar Rendy AK, aktivis “Turn Off TV Day” dalam situs Global Voice Online.

Contohnya aja, tayangan kriminilitas, kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak bisa wara-wiri dengan bebas di siang bolong. Waktu di mana anak-anak baru aja pada pulang sekolah. Gawat, kan? Padahal menurut teori katharsis dari Fesbach, diambil dari psikoanalisis Sigmund Freud, dengan menonton adegan kekerasan dalam televisi bisa mengurangi kendali moral penonton dan menumpulkan perasaan mereka (Rakhmat, 2002:246). Serem, kan?

Bukan hanya sinetron, iklan juga perlu diwaspadai secara cermat. Biar pun durasinya lebih pendek, tapi iklan yang ditayangkan berulang-ulang bisa mencuci otak Belia. "Orang yang tidak merokok begitu melihat iklan rokok yang gagah, pasti terpengaruh untuk merokok, padahal sama sekali enggak ada gambar orang merokok. Atau orang menjadi yakin tidak akan terkena osteoporosis karena meminum susu kalsium, padahal dia kan harus olah raga juga," papar Mbak Ariani.

Contoh lainnya seperti ini, idiom kalau cewek cantik pasti berkulit putih, padahal kan, kebanyakan cewek Indonesia berkulit sawo matang. Belia jadi penasaran … kenapa sih, kebanyakan iklan kosmetik selalu menggunakan model cantik, jenjang, langsing, dan berkulit putih? Via Oktiva dari Publicis-Metro, perusahaan advertising, beralasan bahwa pemilihan karakter tadi sudah melalui riset konsumen. "Kulit putih dianggap lebih aspirasional dan ini berasal dari konsumen sendiri," ujarnya.

Nah, lantas kenapa sih banyak iklan yang sebenarnya enggak memerlukan model perempuan, tapi selalu memasangnya bahkan dengan baju ketat dan rok mini? "Itu sih lebih ke target marketnya. Misalnya iklan pompa air, kenapa dia memakai cewek seksi? Karena targetnya kan pekerja bangunan. Biasanya kalau orang bikin rumah, nanya pompa mana yang cocok. Biar menarik perhatian target tadi, dipakailah model cewek, jadi kalau ditanya, dia akan menjawab merek tadi," ujar Kurnia Bayu, dari Euro RSCG Adwork. Lebih lanjut Via bilang kalau cewek seksi dalam iklan memang bisa menarik perhatian lebih banyak konsumen. “Tapi, ada juga kan brand yang lebih menonjolkan kepribadian yang kuat, jadi semua tergantung brand image-nya,” ujar cewek berambut panjang ini.

Di sinilah posisi gate keeper diperlukan, selain kita sendiri ada juga lembaga berwenang yaitu Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Meskipun baru didirikan, tapi lembaga ini lumayan getol mengawasi tayangan televisi. Beberapa tahun lalu, sebelum lembaga ini ada, televisi dipenuhi tayangan mistis lalu pas konsumen jenuh, berganti dengan sinetron religi yang maknanya bergeser 180 derajat. Kalau sudah begini, bukannya maju dan mendapatkan pengetahuan baru, malah bisa membodohi penontonnya.

Tapi, KPI juga enggak gerak sendiri, kita pun harus aktif membantu KPI. Kalau ada tayangan yang dirasa tidak sesuai, kita bisa ngasih tahu KPI. "Sesuai dengan peraturan, kita memberitahukan pada stasiun televisi tersebut adanya pelanggaran. Lalu KPI memberikan teguran 1 sampai 3, kalau belum menurut juga program bisa dihentikan," jelas Pak Dadang. Kalau stasiun televisi tadi bisa membuktikan tayangannya berubah, maka stasiun televisi tadi bisa melakukan klarifikasi. Talk show "Empat Mata" atau "Smack Down" bisa jadi contoh nyata.

Hasilnya? Menurut Pak Dadang Rachmat Hidayat, Ketua KPID Jawa Barat, pelanggaran stasiun televisi lokal tahun ini berkisar antara 3%, sementara untuk stasiun televisi nasional sekitar 8-9%. "Secara kualitatif, tayangan mistis dan pornografi berkurang walaupun masih ada tayangan kekerasan seperti di berita dan sinetron," ujar dosen Fikom Unpad ini.

Pengurangan ini sedikit banyak bisa membuat kita bernapas lebih lega, terlebih dengan adanya fakta bahwa stasiun televisi sudah mulai kooperatif dengan peneguran atas pelanggaran yang mereka lakukan. "Terutama stasiun televisi lokal, ya! Mudah-mudahan saja mereka bisa membuat tayangan yang menjadi alternatif baik untuk ditonton," urai Pak Dadang pada belia. Semoga ke depannya lebih baik, ya.

Nah, berteman dengan kotak ajaib bernama televisi memang menyenangkan. Tapi akan jauh lebih menyenangkan, kalau kita bisa cerdas dengan tayangan televisi. Banyak, kan… kegiatan mengasyikan selain menonton televisi seperti membaca, berolah raga, bermusik dan lain-lain. Yuk, ah… bareng-bareng kita lebih kritis dan pintar memilah-milah tayangan televisi. Jangan asal beli kucing di dalam karung aja. Setuju? ***

astrid_belia@yahoo.com

2 komentar:

Blogger mengatakan...

Did you know that you can earn cash by locking selected pages of your blog or site?
All you need to do is open an account with CPALead and embed their Content Locking widget.

Blogger mengatakan...

Are you making money from your exclusive shared links?
Did you know that Mgcash will pay you an average of $0.50 per file download?

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails