6.1.08

Menulis Itu Asyik

Pikiran Rakyat, 15 Mei 2005


DI beberapa rubrik konsultasi di majalah atau tabloid keluarga, banyak pembaca perempuan yang bertanya kira-kira kegiatan apa yang dapat dilakukannya di rumah dan bisa menghasilkan pendapatan tambahan.

Rata-rata jawaban pengasuh rubrik hampir seragam, menulis! Itu anjuran yang disarankan. Selain itu memang ada anjuran lainnya seperti membuka toko, usaha katering dan lain sebagainya. Namun anjuran untuk menulis tidak pernah tertinggal.

Contoh perempuan yang menjadi kaya raya karena karya tulisnya adalah J.K. Rowling, pengarang novel anak-anak fenomenal "Harry Potter". Dari seorang janda miskin yang harus mengantri untuk sekadar mendapatkan popok gratis dan uang tunjangan negara,tahun 2003 kekayaannya ditaksir melebihi harta milik Ratu Elizabeth II.

Apakah sudah begitu menjanjikannya profesi penulis ini di Indonesia ? Secara jujur Koordinator Klab Menulis Tobucil, Mirna mengatakan, walaupun menulis secara lepas di media massa dapat menghasilkan uang, tetapi pemasukan itu belum bisa menjamin untuk hidup dari hanya sebagai penulis. Kecuali ia seorang penulis yang benar-benar produktif. Mirna yang juga merupakan penulis sekaligus penerjemah untuk salah satu penerbit besar di Indonesia, mengatakan harus ada jalan lain untuk mendapatkan pemasukan yang layak.

Menurut penulis buku "Catatan Kasih Bunda: Pengalaman Mengasuh Bayi Dengan Cinta", Alfiah Kalsum Ananda, ada yang lebih memuaskan ketimbang imbalan materi yang diterima oleh seorang penulis, yakni kepuasan batin. Dengan menulis buku, ide-ide dalam otak dapat tersalurkan dan mendatangkan kepuasan yang tidak bisa diukur dengan materi. Efek menulis melahirkan kegiatan sampingan seperti diundang menjadi pembicara pada berbagai pertemuan.

"Mencari uang dari honor atau royalti kegiatan menulis termasuk kecil. Biasanya royalti diterima penulis sekitar 10 persen dari besarnya penjualan. Jika tujuannya untuk aktualisasi diri dan berbagi ilmu kepada orang lain, maka nilai honornya tidak terhingga. Honor atau royalti sebagai passive income akan mulai terasa jika kita sudah menerbitkan lebih dari tiga buah buku. Atau buku kita termasuk buku laris," jelas Alfiah yang buku keduanya, "Hikmah Mempesona dari Anakku" sedang dalam proses cetak. Sedang dua buah buku lainnya sedang dalam proses penyelesaian.

Uang hanya salah satu dari banyak tujuan. Banyak penulis menulis dengan tujuan lain seperti untuk aktualisasi diri, memengaruhi orang hingga sebagai terapi diri. Menulis bahkan bisa memberi dampak dasyat. Misalnya saja tulisan-tulisan R.A Kartini kepaa sahabatnya Ny. Abendanon, membuka kran pendidikan bagi kaum perempuan Indonesia. Seorang tokoh politik Wei Jingseng yang di penjara bertahun-tahun dapat bertahan hidup berkat tulisan-tulisannya yang diselundupkan keluar penjara. Bahkan lewat tulisan itu juga dunia bersimpati kepadanya dan meminta negara melepaskannya dari penjara.

Namun ketika seseorang di suruh menulis, beribu alasan terlontar. "Waduh, dari pada disuruh menulis, mending saya disuruh pidato dua jam saja deh," ujar seorang rekan.

"Saya sama sekali tak ada bakat menulis," tambahnya." Harus dari mana memulai", "Apa yang harus saya tulis?", "Menulis itu susah" dan masih beribu alasan lainnya. Begitu tidak sukanya orang Indonesia menulis, sehingga secara bergurau dikatakan bahwa orang Indonesia memang lebih jago "ngomong" daripada menulis. Bukan di masyarakat dengan pendidikan rendah saja, bahkan masyarakat yang berada di lingkup perguruan tinggi pun disinyalir mengalami kesulitan untuk menulis makalah atau tugas dosen.

Alfiah menegaskan betapa kuatnya antara minat membaca dengan kemahiran menulis seseorang. "Dengan sering membaca, kita akan mendapatkan informasi dan ide untuk membuat tulisan. Tulisan akan lebih kuat maknanya jika kita membaca lebih banyak," tegasnya.

Sayangnya minat baca di masyarakat Indonesia, khususnya di kalangan perempuan sangat menyedihkan, terutama di kalangan ibu rumah tangga berekonomi rendah. Alfiah yang lulusan Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga IPB Bogor, pernah melakukan penelitian tentang "Gizi, psikososial dan kesehatan serta dampaknya terhadap tumbuh kembang anak". Sejumlah rumah yang di surveinya ada yang sama sekali tidak memiliki buku bacaan. Kalaupun ada hanya sebagian kecil yang mempunyai buku. Tetapi jumlahnya kurang dari sepuluh untuk semua anggota keluarga. Ketika itu, saya jarang menemui ibu yang sedang membaca ketika saya berkunjung ke rumahnya," tuturnya prihatin.

Minat membaca yang cukup tinggi ditemui di kalangan perempuan yang berprofesi sebagai dosen dan politisi. "Bacaan mereka sesuai dengan bidang yang digeluti. Sedangkan bagi perempuan yang bekerja di perkantoran minat bacaannya tergantung dari pengalaman membaca sejak kecil dan motivasi dari lingkungannya sekarang."

Alfiah yang sudah menulis sejak SMP dan senang mengumpulkan berbagai kata mutiara sejak kelas 5 SD ini memandang kebiasaan senang membaca bukanlah sesuatu yang muncul tiba-tiba.

"Orang tua yang senang membaca dapat membentuk dan mendorong seorang anak untuk senang membaca. Jadi, kalau banyak ibu-ibu sekarang yang kurang senang membaca, yakinlah itu sudah tertanam sejak dulu. Ibu adalah madrasah pertama dan utama bagi anak," yakin Alfiah.

Tips Menulis

- Tetapkan jenis tulisan yang akan dibuat. Menurut penulis Josip Novakovich, tulisan terbagi menjadi dua, fiksi dan non fiksi. Jika akan menceritakan kejadian berdasarkan fakta tanpa mereka-reka, menambah atau memperindah tulisan berarti tulisan yang akan dibuat adalah non fiksi. Namun jika dalam tulisan itu kita ingin menambah, mengubah berbagai hal, membesar-besarkan, mempercantik atau menciptakan sesuatu yang baru yang tidak ada hubungannya dengan bahan yang ada, jenis tulisan yang akan kita buat adalah tulisan fiksi.

- Tetapkan tujuan yang akan di capai dengan tulisan. Apakah untuk meyakinkan pembaca, menghibur, menceritakan suatu persitiwa secara kronologis dan sebagainya. Dengan penetapan tujuan ini, tulisan akan lebih terarah.

- Kumpulkan data dan mencari contoh-contoh tulisan sejenis. Semakin banyak bahan bacaan yang dibaca, kian kaya dan beragam informasi yang diperoleh. Hal ini mempengaruhi ketajaman materi dan memperkaya kosa kata. Juga, semakin memperkuat tulisan yang dihasilkan.

- Persiapkan out line atau kerangka pikiran. Pada saat menuangkan pikiran ke dalam tulisan kita dituntut untuk dapat berpikir secara sistematis. Dengan demikian tulisan dapat dicerna pembaca. Dalam menyusun kerangka pikiran ini kita akan "dipaksa" mengeluarkan konsep, ide , dan contoh dalam kata yang tepat dan susunan yang benar. Bagi pemula, mungkin ini akan sulit. Tetapi dengan latihan berulang-ulang dan menjadi kebiasaan selanjutnya proses ini akan menjadi hal yang mudah.

- Ketika tulisan selesai, jangan langsung berpuas diri. Tahap akhir yang harus dilakukan adalah mengoreksi tulisan. Dan yang terpenting, jangan masukan tulisan ke laci meja. Cobalah kirimkan ke media masa, jurnal atau buletin yang mungkin cocok dengan jenis tulisan Anda. Jika belum juga dimuat, coba dan coba lagi. Karena semakin banyak menulis, tulisan akan semakin baik.

Uci

Tidak ada komentar:

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails