6.1.08

Menulis tanpa Mimpi Jadi Penulis

Pikiran Rakyat, Jumat 12 Juni 2007


"Saya sudah menulis dua novel dan sekarang sedang nyelesein novel ketiga," ujar Riana (22) ringan. Lalu mahasiswi sebuah perguruan tinggi di Bandung itu, bla bla bla nyeroscos menceritakan isi novelnya.

Dari caranya bercerita, tak ada sedikitpun terkesan bahwa menulis novel itu sesuatu yang luar biasa. Sesuatu yang tak diniatkan untuk disebut sebagai novelis. Semuanya karena senang saja. Dan novel-novel itu memang tidak diterbitkan, tapi hanya beredar di antara teman-temannya dalam bentuk fotokopian. "Atau saya ubah jadi cerita bersambung dalam blog saya. Banyak banget pendapat yang masuk," katanya

Bukan tidak pernah, gadis penggemar berat pengarang Seno Gumira Adji Darma ini, mengirimkan karya novelnya ke sebuah penerbit atau mengikuti sebuah lomba.

Tapi kenyataan bahwa novelnya tidak menarik perhatian pihak penerbit atau juri lomba, tampaknya bukanlah itu yang menjadi tujuannya menulis. Pendek kata, semua tidaklah lantas menyurutkan gairahnya untuk terus menulis.

"Saya menulis untuk keperluan mengungkapkan dan mengekspresikan apa yang rasakan dan apa yang saya pikirkan. Bukan untuk terus ingin disebut penulis," akunya. Bersama beberapa temannya di kampus, ia kerap berkumpul dan berdiskusi.

"Ada juga yang suka puisi, cerpen, atau nulis artikel. Pokoknya apa saja yang ada hubungannya dengan dunia tulis-menulis, tanpa ngebayangin kita-kita ini ingin jadi penulis. Kami ngebahas karya atau tulisan masing-masing, dan siapa aja boleh gabung. Ada juga temen yang sedang nulis novel tentang komunitas punk di Indonesia, mungkin dia terinsipirasi oleh novel Gideon Sams," kata Riana sambil memperbaiki letak kaca matanya.

Inilah fenomena menarik sejak awal tahun 2000-an. Sebuah kegairahan baru untuk mengekspresikan berbagai pengalaman dan pemikiran dalam bentuk yang lain, yakni melalui tulisan. Apakah tulisan itu bermutu secara sastrawi atau tidak, tampaknya bukan itu yang dituju dan dipermasalahkan. "Itu urusan orang-orang sastra, dong! Buat kami menulis itu bikin enjoy, dan kami tidak pernah menyebut diri penulis. Malah kalau perlu kami kirim-kirim puisi lewat SMS," ujar Wina (37).

Ibu dua anak dan karyawati di sebuah bank swasta di Jakarta ini menuturkan, hampir dua minggu sekali ia berkumpul bersama teman-temannya di sebuah kafe di kawasan Kemang Jakarta. Mereka semua suka membaca dan menulis. Sambil makan dan minum menikmati musik dan suasana kafe, mereka membacakan puisi para penyair yang mereka sukai yang mereka hafal di luar kepala, dari mulai sajak-sajak Rabindranat Tagore, Rendra, Sapardi Djoko Damono, sampai Joko Pinurbo.

"Kami rata-rata enggak ngerti, apa makna dan arti puisi-puisi itu. Tapi kami suka saja membacakannya sambil santai. Apalagi puisi-puisi cintanya Rendra itu, waduh!" tutur Wina yang dengan fasih menyebutkan sejumlah buku karya penyair Indonesia yang jadi koleksi di rumahnya.

Lain halnya dengan Wina, bagi Dr. Tetet Cahyati, menulis merupakan sarana untuk melatih intelektual. Dalam pandangan pelukis terkenal (alm) Popo Iskandar yang telah menulis sejak di bangku SMP ini, dengan menulis ia bisa mewujudkan apa yang dipikirkan, digelisahkannya, juga apa yang jadi imajinasinya.

"Tidak hanya buat persoalan pribadi, tapi menulis juga bisa jadi sarana untuk menuangkan ide-ide tentang permasahan sosial di sekeliling saya," ujar perempuan yang telah menerbitkan sejumlah novel dan kumpulan cerpen ini.

Tentang teknik menulis Tetet menyebutkan bahwa mendapatkan semuanya dari kesukaannya membaca sejak kecil. Demikian pula ia tak punya waktu khusus untuk menulis. Semua terjadi secara spontan, dan dalam satu bulan selalu saja ada tulisan yang ia lahirkan.

**

MESKI menulis adalah kesibukan perseorangan, tapi menulis juga membentuk kebersamaan.

Mereka yang doyan membaca dan gila menulis kerap berkumpul dalam obrolan yang tak jauh dari dunia mereka, mendiskusikan buku terbaru atau saling membaca karya mereka masing untuk lantas saling memberi komentar.

Pertemuan biasanya berslangsung dalam suasana santai, dan siapa saja boleh berkomentar, tanpa ada seorang pun yang dianggap sebagai mentor atau guru. Meski umumnya mereka adalah anak-anak muda atau mahasiswa, namun tak jarang juga terdapat ibu rumah tangga atau bahkan karyawan sejumlah perusahaan.

Di Bandung terdapat sejumlah komunitas dan klub menulis dengan berbagai bentuk aktivitasnya. Dari mulai diskusi buku hingga pertemuan dan obrolan tentang dunia tulis-menulis, hingga yang menjadi klub menulis.

Umumnya, kegiatan itu menjadi bagian dari agenda program yang terdapat di sejumlah toko-toko buku alternatif, seperti Toko Buku Kecil (Tobucil) dan PotLuck di kawasan Dago, Toko Buku Ultimus, atau juga yang diadakan di beberapa kampus.

Tarlen dari Tobucil mengemukakan, klub menulis yang terdapat di situ berawal sejak tahun 2003 yang difasilitasi oleh seorang dosen psikologi Unpad, dengan tujuan menulis sebagai kegiatan terapi.

Namun dalam perkembangannya, sejak tahun 2004, klub menulis itu bergeser ketertarikannya pada penulisan fiksi. "Mereka yang datang umumnya bukan sejenis orang yang tadinya berani memperlihatkan karyanya pada orang lain. Mereka malu-malu. Mereka ikut klub menulis juga untuk melatih keberanian buat sharing, minimal dibagi dengan teman-teman yang datang," ujar Tarlen.

Lain halnya dengan Mnemonic. Komunitas anak-anak muda penulis ini terbilang unik karena mereka kerap menggelar berbagai pertemuan dan diskusi di taman-taman kota. Sama halnya dengan Tobucil, komunitas yang berdiri tahun 2004 ini tidak mengenal keanggotaan. Asal punya minat yang sama siapa pun boleh datang dan bergabung, tak terkucuali hanya untuk mendengarkan diskusi.

"Kami berasal dari latarbelakang yang bermacam-macam. Ada yang kuliah, ada yang tidak. Sebagai orang yang susah tidur malam, saya sering mendiskusikan karya teman-teman. Akhirnya kami secara tak langsung saling belajar, sampai lantas timbul ide mengapa kami tidak membahasnya saja. Ketika itu muncul juga perhatian pada kenyataan bagaimana taman-taman di Kota Bandung ini kurang dimanfaatkan, layaknya tempat yang mati. Mengapa tidak dimanfaatkan untuk diskusi?" Ujar Denai dari Mnemonic.

Tobucil dan Mnemonic, hanyalah dua dari berbagai ruang kebersamaan, ketika menulis telah menjadi sejenis kebutuhan sebagian orang untuk mengartikulasikan pengalaman dan pemikirannya.

Itulah yang agaknya lebih penting, lebih dari sekadar kelak bermimpi menjadi penulis besar, seperti pengakuan Wina, "Pokoknya saya suka saja menulis, dan bukan mau jadi penulis!". (Ahda Imran)***

Tidak ada komentar:

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails