6.1.08

MMembangun Toko Buku, yang Penting Komitmen!

Pikiran Rakyat, 13 April 2006


Kini sudah a
da 30-an toko buku alternatif di Bandung dan sekitarnya. Ada yang baru muncul, ada juga yang sudah berdiri namun dalam kondisi megap-megap. Sebenarnya dari mana kita harus memulai usaha toko buku?

Saat ini, membangun toko buku menjadi sebuah fenomena tersendiri di Kota Kembang ini. Selain murni untuk kepentingan bisnis, banyak juga para pengelolanya yang berangkat dari minat pada perbukuan. Namun demikian, membangun toko buku tentu tidak sekadar trend atau euforia.

"Oke, banyak yang sekarang mulai pada bikin. Tapi yang saya lihat, kebanyakan hanya euforia. Mereka juga harus punya komitmen untuk menerapkan manajemen dengan baik," ucap Deni Rachman, pengelola agen literasi Dipan Senja. Beberapa permasalah yang sering muncul misalnya, laporan yang tidak on-time kepada penerbit, penjualan yang amburadul, dsb. Penerapan manajemen sangat penting agar teman-teman yang baru buka, usahanya tidak kolaps.

Oleh karena itu, Dipan Senja bekerja sama dengan perpustakaan Balepustaka membuat ruang manajemen dengan menggelar kegiatan bertajuk "Workshop Buku 5 in One". Workshop toko buku (periode pertama) digelar diskusi "Dari mana kita memulai usaha toko buku?", Sabtu (8/4) di Perpustakaan Balepustaka. Setidaknya, kendala-kendala semacam modal dan tempat dalam usaha toko buku, banyak disuarakan. "Yang paling penting itu komitmen. Menurut saya, buku masih merupakan bisnis yang lumayan, selama masih ada sekolah dan pembaca," kata Adde, pengelola Zoe Bookstore.

Dalam hal ini, bisnis perbukuan boleh jadi agak berbeda dengan bisnis lainnya. Terdapat misi memajukan minat baca dan hal-hal lainnya, dalam kerangka mencerdaskan bangsa. Di sinilah pentingnya komitmen.

Adde juga mengatakan bahwa persaingan toko buku di Bandung itu smooth. Karakternya lemah lembut, berbeda dengan Yogyakarta. Di Yogya, dalam satu jalan bisa berdiri 4 hingga 5 toko buku, bahkan bersebelahan. "Kalau di Bandung, seringnya suka ngomong 'diskonnya jangan terlalu besar, tidak enak sama yang itu'. Urusan lokasi, di Bandung juga masih berpikir, 'wah, di sini sudah ada.' Kenapa berpikir seperti itu? Buka mah buka saja. Kan yang ditawarkan itu buku," tutur Adde.

Meski semakin banyak yang tertarik untuk membuka toko buku, misalnya Nur Afifah dan Anggi, mahasiswa Jurusan Perpustakaan UI angkatan 2001, yang juga hadir dalam diskusi, para pendatang baru tersebut tidak dijadikan sebuah ancaman. Justru hal ini dijadikan sebuah kekuatan untuk benar-benar membangun kultur minat baca di tanah air. Toh, dari persaingan, daya kompetisi dan kreativitas pun akhirnya dipacu.

Dalam meningkatkan daya saing, sejak awal toko buku harus menetapkan apa fokus buku-buku yang akan dijual. Ini penting bagi penerbit dan positioning. Paling tidak, 30% buku-buku yang dijual harus tersegmentasi, namun demikian 100% segmented juga tidak disarankan. Studi kelayakan secara sederhana juga sebaiknya dilakukan. Adde mengatakan, lihatlah 5 km dari usaha kita itu apa atau siapa? "Penerbit juga jangan terlalu banyak dulu. Jualan belum, tapi buku sudah menumpuk," kata Adde.

Dari kegiatan di bawah ruang manajemen ini, diharapkan terbentuk jaringan perbukuan yang sehat, mampu bersaing dan maju. Lebih dari itu, terjalin komunikasi antarpegiat buku, dari mulai pengusaha toko buku, calon pebisnis buku, penerbit, distributor, perpustakaan/taman bacaan, dan penulis. "Ini juga merupakan review dan autokritik bagi yang sudah membangun," ujar Deni.

Masih dalam workshop toko buku (periode pertama), diskusi terdekat yang akan digelar adalah "Bagaimana membangun kerja sama dengan pihak luar?" Sabtu (22/4). Selanjutnya kegiatan workshop akan diteruskan dengan workshop distributor (periode kedua), workshop penerbitan (periode ketiga), workshop perpustakaan/taman bacaan (periode keempat), dan workshop penulisan/pasca naskah (periode kelima).

Kegiatan ini melibatkan toko buku alternatif di Bandung dan Jatinangor meliputi toko buku Batu Api, Potluck, IF Venue, Awi Apus, Zoe Bookstore, Ultimus, Das Mutterland, Rumah Buku, Tobucil, Amaldi, Pustakalana, Baca-Baca, Malka, Nalar, Taman Bunga, Cahaya Media, Omuniuum, Bamboe, Eat & Read, Papirus, Reading Lights, Jaringan Buku Alternatif Pasar Suci, Soemardja Bookstore, toko buku Sunda Kaseundeuhan, dan para pegiat dan calon pegiat buku lainnya.***

dewi irma
kampus_pr@yahoo.com

Tidak ada komentar:

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails