6.1.08

Origami Pat-pat Dilipat!

Pikiran Rakyat, 30 Agustus 2005


Malam Minggu, duit di kantong cuman ada sepuluh ribu perak. Buat nongkrong bareng temen-temen, nggak cukup. Apalagi dipake traktir gebetan. Hmm, jangan panik dulu dong. Belia bisa manfaatin duit sepuluh ribu perak tadi di Tobucil. Ngapain? Ikutan klab origami yang dijamin bakal bikin kamu lupa sejenak masalah-masalah yang ada. Dan pastinya, bikin tangan Belia jadi semakin terampil.

Sabtu (27/8) kemarin, belia sengaja ikutan klab origami di Jalan Kyai Gede Utama No.8 Bandung. Kelas yang biasa mulai pukul satu siang ini nggak cuman diikuti temen-temen seumuran Belia lho. Teman kursus belia kemarin, Danika (kelas 3 SD), Nisya (kelas 2 SD), dan Soko (mahasiswi) Jepang yang sedang belajar di Indonesia). Beragam banget. Menurut Dita dan Nia (instruktur origami), siswa SMP atau SMA malah jarang ikutan klab origami ini. Eits, jangan salah ya! Belia pas pertama kali coba seni melipat kertasnya orang Jepang ini, langsung jadi hobi mraktekkin beberapa teknik yang sudah diajarkan Dita dan Nia. Pengen tau? Yuks!

Hanya bermodalkan selembar kertas bujur sangkar, berbagai kreasi bisa Belia ciptakan. Burung kertas, kodok, kupu-kupu, modular, sampai bangun tiga dimensi bisa diciptakan dengan beberapa lembar kertas bujur sangkar. "Nggak pakai gunting atau lem. Origami hanya bermodalkan keterampilan melipat," tegas Tania Fitriyani, yang biasa dipanggil Nia.

Kertas yang dipakai untuk origami bukan kertas khusus. "Bisa pakai kertas apa aja sih. Kertas majalah bekas juga bisa dipakai. Asalkan beratnya nggak lebih dari 70 gram aja," tambah Dita. Dua orang instruktur origami di klab origami Tobucil ini mulai belajar melipat kertas secara serius mulai tahun 2002. "Awalnya ditawari untuk ngajar anak-anak di sebuah perkumpulan. Diajakin temen sih. Ya, akhirnya saya belajar sendiri dari buku cara-caranya," cerita Nia.

Origami yang berasal dari dua kata--"ori" yang berarti melipat, dan "kami" yang berarti kertas--sebenarnya sudah dikenal masyarakat Jepang sejak abad keenam. Sampai sekarang, origami berkembang nggak hanya di kalangan orang Jepang saja, tetapi sudah merambah sampai Amerika, Eropa, dan Asia.

Selain digunakan untuk melatih keterampilan tangan, origami juga dipakai sebagai simbol perdamaian. Tahun 2004 lalu, Perdana Menteri Thailand, Thaksin Shinawatra, meminta warganya untuk membuat burung bangau dari kertas. Burung bangau dari kertas ini adalah salah satu upaya untuk mengakhiri kekerasan dan pertumpahan darah yang terjadi di daerah selatan Thailand. Di negeri Sakura, origami berbentuk burung bangau ini mengandung arti doa semoga panjang umur. Di pintu kamar orang sakit, biasanya digantungkan origami burung bangau. Masyarakat Jepang berkeyakinan, semakin banyak burung bangau yang tergantung, semakin besar pula peluang orang sakit tersebut untuk sembuh.

Tentunya, belajar origami nggak hanya untuk menyetujui tradisi itu ya. Kayak yang dialami Nia, "Saya belajar origami hanya untuk kepuasan aja sih. Setelah membuat satu bentuk, rasanya gimana, gitu. Saya nggak pernah nyimpen benda-benda jadi tadi. Udahnya cuman jadi sampah," ujarnya sambil nyengir.

Belajar origami itu gampang-gampang susah. "Justru nggak susah sih ya. Udah banyak buku-buku yang nyediain teknik origami, dan semuanya itu gampang untuk diikuti koq," ucap Dita. Yups, setelah belia berhasil membuat burung, kupu-kupu, strawberry, dan satu kotak makanan, kerasa rada gampangnya. Origami ini hanya membutuhkan ketekunan dan kerapihan melipat. Bayangkan, betapa malunya belia ketika Nisya, berhasil membuat kotak makanan yang lebih rapi dari punya belia. Ketauan buru-burunya, hehehe...

Buat pemula, pembuatan origaminya juga disesuaikan. "Biasanya bentuk burung, kupu-kupu atau benda lain yang hanya pakai satu lembar kertas aja, bisa diajarkan kepada pemula. Setelah itu baru meningkat. Bikin benda yang terdiri dari beberapa lembar kertas," jelas Nia.

Soko, teman baru belia yang asli orang Jepang pun cerita kalau di negerinya, dia baru belajar bikin burung saja. Makanya, kali ini Soko semangat ikutan klab origami. Lipatan kertas Soko begitu mantap, lurus, dan rapi. "It's in her blood," gitu pikir belia. Hehe, sedikit frustrasi juga sih, karena sudah lima macam bentuk yang diajarkan Dita dan Nia, lipatan kertas belia nggak kunjung rapi. "Sabar. Butuh waktu dan proses," gitu hibur mereka berdua.

Awalnya, para pemula origami ini memang hanya bisa mencontoh bentuk-bentuk yang udah duluan muncul. Tapi seiring waktu, bukan nggak mungkin bisa menciptakan bentuk dan model sendiri. "Yang mesti diingat, origami ini nggak bisa berhenti terlalu lama. Bisa-bisa lupa gimana cara buat model yang sederhana. Saya juga sempat lupa setelah waktu itu sempet berhenti," kata Nia memperingatkan.

Oks deh. Lama-lama menyenangkan juga melipat kertas-kertas dan mengubahnya jadi benda-benda lucu. Well, banyak kertas nganggur di rumah Belia? Buruan ambil, gunting jadi bujur sangkar, dan mulailah melipat. Tapi, kalo kertasnya edisi Belia, mendingan dikliping ya, hehehe...***

tisha_belia@yahoo.com

Tidak ada komentar:

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails