6.1.08

Sudahkah Kamu Membaca Buku?

Pikiran Rakyat, 9 Januari 2007

Pernah kebayang nggak kalau Belia hidup tanpa buku? Enggak bisa bikin pe-er, enggak bisa menikmati jutaan kata yang dirangkai sedemikian rupa oleh sang penulis, enggak bisa tahu apa dan gimana gambaran detail misteri Da Vinci-nya Dan Brown, enggak bisa tahu isi chicklit atau teenlit terbaru... Huu, kalau benda ajaib ini enggak ada, bisa dipastikan setengah penduduk bumi ini kehilangan lahan untuk berkreasi, dan parahnya lagi enggak ada teman untuk sharing informasi.

Mungkin hanya setengah yang ngerasa rugi kalau enggak baca buku. Setengahnya lagi? Ada yang enggak peduli dengan keberadaan buku -- berpikir toh masih ada media lain pengganti buku, enggak adanya minat membaca, atau parahnya lagi masih banyak yang buta aksara.

Di tahun 2006 lalu, beberapa temen pengelola toko buku alternatif di Bandung, bikin satu gerakan yang dinamakan Literacy Movement. Komunitas yang dikembangkan di Common Room berasal dari Tobucil, sebagai lembaga patron, yang bersama-sama Bandung Center for New Media Arts mendirikan Common Room. Dengan misi supporting local literacy movement, sejak pertama kali didirikan, tahun 2001, Tobucil menghadapi tantangan: pengembangan program literasi (membaca, menulis, dan apresiasi). “Kegiatan-kegiatan rutin yang diselenggarakan menggunakan nama Klabaca (dengan konsep kegiatan clubbing dan membaca). Kegiatan rutin pertama yang diselenggarakan diberi nama Klabaca Minggu Sore, sebuah kegiatan di setiap hari Minggu, membahas bahan bacaan tertentu dengan menekankan pada proses sharing pengalaman membaca dan memahami,” ujar Tarlen, pengelola Tobucil.

Promosi kegiatan dilakukan secara online dalam bentuk mailing list satu arah dan masih berjalan hingga kini dengan nama Klabaca, beranggotakan sekitar 3.500 alamat e-mail. Ketika Common Room terbentuk, komunitas dalam format klab dikembangkan lebih lanjut di bawah koordinasi Common Room. “Aku lebih suka bilang kalo Tobucil menawarkan pendekatan yang berbeda untuk gerakan literacy bukan hanya di Bandung tapi juga di Indonesia,” kata Tarlen lagi. Dukungan untuk literacy movement ini emang enggak dikhususkan untuk remaja, tapi diharapkan remaja lah yang bakal mengusung gerakan ini kelak. Namun, enggak semua remaja suka untuk membaca.

“Gua sih enggak begitu suka baca buku. Jarang bangetlah baca, apalagi beli. Mendingan baca majalah,” kata Dave, dari SMAK 1 BPK Penabur. Majalah memang jadi solusi alternatif buat mendorong minat baca remaja kayak Belia. Tampilan majalah yang lebih rame dan berwarna, bikin mata yang baca enggak bosen. Lain dengan buku yang penuh dengan deretan teks, apalagi tanpa ilustrasi. “Meski majalah punya kelebihan dengan foto-fotonya, tetep aku lebih milih baca buku daripada majalah. Majalah lebih bersifat temporary dibanding buku yang bisa terus dibaca walaupun itu terbitan tahun 1900an,” ujar Cindy yang mengaku kalau di kamarnya lebih banyak buku dibanding dengan pakaian.

Keberadaan buku pastinya enggak lepas dengan penulis dan penerbitnya ya. Apalagi sekarang, dengan munculnya tren penulis chicklit dan teenlit. Belia bisa lihat ratusan karya mereka dipajang dengan manisnya di rak-rak toko buku. “Kalau gua bilang, sih, gara-gara muncul chicklit beberapa tahun lalu, terus responsnya bagus dan emang gampang dibaca, jadi banyak orang yang latah kepengen ikutan nulis juga. Mungkin mikirnya gini kali ya, ‘cerita gitu doang mah, gua juga bisa bikin’, jadilah, sekarang chicklit-teenlit itu banyak banget,” ucap Iit Sukmawati, pemilik dari Ommunium Bookstore kepada belia.

Kemajuan teknologi juga bikin penulis-penulis muda ini seakan berlomba untuk bikin karya. Padahal menurut Benny Rhamdani -- redaktur dari penerbit Mizan yang juga menerbitkan berbagai genre dari novel ringan -- sekarang draft cerita yang lolos untuk diterbitkan enggak banyak. “Dari ratusan draft yang kami terima dalam sebulan, paling yang lolos untuk sampai diterbitkan itu hanya satu atau dua saja. Banyak banget cerita yang enggak layak untuk diterbitkan. Selain idenya enggak orisinil, jalan cerita biasanya klise,” ucapnya.

Setuju banget. Kebanyakan tema cerita yang disodorkan oleh penulis-penulis muda ini dengan gampangnya bisa ditebak sebelum membaca bab terakhir dari novelnya. “Biasanya juga, penulis yang udah ngetop duluan, suka meng-endorse penulis lain yang masih temen-temennya juga. Jadinya kayak jaringan multilevel marketing gitu,” ujar Iit menambahkan.

Fenomena banyaknya orang yang gatel untuk bikin buku ini emang jadi pro-kontra. Di satu sisi bisa bikin orang-orang termotivasi untuk menulis -- yang berarti sebuah kegiatan positif dan bisa meningkatkan minat baca, tapi di sisi lain, kualitas dari isi buku tersebut kurang terperhatikan. “Menulis bisa jadi sebuah lifestyle baru, bagus banget sih karena bisa jadi sebuah kebutuhan aktualisasi diri. Tapi, kasian juga buat pembeli yang emang enggak biasa baca reviewnya dulu sebelum beli, alias lebih seneng lihat judul dan cover-nya. Begitu dibeli, ternyata isinya enggak sesuai dengan apa yang diharapkannya. Tahun lalu pernah ada yang dateng ke gua bawa setumpuk chicklit buat dijual, hahaha...” ujar Iit.

Pendapat dari Mas Benny lain lagi. “Memang banyak, sih penulis-penulis yang masih flat. Saya ngelihatnya gini, mereka memang masih baru dan belum bisa bikin karya yang bagus, tapi saya lebih senang kalau mereka itu enggak hanya sekali terus stop. Saya kebih menghargai mereka yang terus berkarya, kesatu, kedua, ketiga, dan seterusnya, dengan dibarengi perubahan. Misalnya perubahan struktur bahasa yang lebih rapi, alur cerita yang enggak monoton. Intinya, proses belajar yang bikin mereka akan menjadi lebih baik,” katanya panjang lebar.

Orang-orang beli buku demi mendapatkan sesuatu. Enggak jarang, mereka -- para penikmat buku ini rela ngeluarin lembaran-lembaran rupiahnya demi sebuah buku. Kayak Cindy cewek yang ditemui belia ketika memborong buku-buku di Ommunium ini, sebulan bisa ngeluarin duit sampai Rp 300.000,00 hanya untuk membeli buku. “Saya termasuk impulsive buyer. Apalagi buat buku. Sebenernya enggak ada budget sebulannya berapa untuk beli buku sih, tapi kalau ada buku yang menarik, suka lupa diri,” ucap cewek penggemar buku-buku petualangan ini.

Enggak jauh beda dengan Cindy, Siska -- siswi SMAN 3 Bandung yang tulisannya sering wara wiri di belia, bilang kalau budget bulanannya untuk buku sebanyak 50 ribu sampai seratus ribu rupiah. “Dalam sebulan, saya ngeluarin duit 50-100 ribu. Itu kalau lagi ada duit. Kalau enggak punya duit sih gampang aja. Kan banyak taman bacaan,” ujar cewek berkerudung ini. Gitu juga dengan Alamanda. Penulis buku “Jinja No Miko” ini juga rajin “menyumbangkan” duitnya ke toko buku demi mendapatkan buku yang sesuai dengan seleranya. “Aku, sih, paling ngabisin duitnya lebih dari 70 ribu sebulan. Biasanya yang aku beli tuh kalau enggak novel ya text book.”

Seorang teman pernah berucap gini, "Kaya beli buku, miskin baca buku." Mahalnya sebuah buku memang jadi salah satu kendala buat mereka yang haus informasi, tapi enggak punya uang untuk membeli buku. Sementara fasilitas perpustakaan ada, boleh dibilang kurang representatif. "Gua juga enggak ngerti kenapa pemerintah enggak bikin fasilitas literasi yang memadai. Di luar negeri, orang bisa baca buku apa pun hanya dengan berkunjung ke perpustakaan. Mungkin kalau di negara kita ini, pemerintah terlalu sibuk mikirin yang seharusnya bukan jadi urusannya ya," tutur Iit yang biasa dipanggil Boit ini.

Memang pas belia berkunjung ke Perpustakaan Daerah yang berada di kawasan Soekarno-Hatta, Kamis (4/1), enggak banyak remaja seusia Belia yang asyik membaca buku. "Selain koleksinya yang enggak up date, tempatnya jauh juga, sih. Saya ke sini juga cuman pengen tahu aja, koleksi buku-bukunya apa aja," kata Ira, siswi SMAN 6. Beda banget sama perpustakaan yang ada di film Matilda -- yang ditayangkan sebuah TV swasta beberapa waktu lalu. Menurut Ira, idealnya sebuah perpustakaan itu menyediakan buku-buku yang bukan hanya dibaca sebagai referensi, melainkan yang juga mengakomodasi kebutuhan membaca anak-anak, remaja, sampai dewasa. "Kan lumayan tuh, kalau lagi libur seperti sekarang. Tinggal main ke perpustakaan, enggak perlu keluar duit, tapi malah tambah ilmu. Apalagi kalau ada fasilitas internetnya segala. Mantap," ucap cewek berkacamata ini penuh harap.

Harapan Ira tadi, mungkin juga merupakan mimpi Belia. Akses bagus untuk dapet informasi sekaligus kesenangan, tampaknya masih susah untuk diwujudkan. Tapi jangan khawatir, masih banyak toko buku alternatif di Bandung yang menyediakan buku-buku bermutu dengan harga murah. Jangan dilupakan juga kalau Belia masih bisa mencari buku-buku bekas di kawasan Cikapundung. Terakhir, taman bacaan yang punya fasilitas keanggotaan dengan harga murah pun masih bisa dijadikan solusi kalau kepengen baca, tapi enggak ada duit. Nah, selamat membaca ya! ***

tisha_belia@yahoo.com

Tidak ada komentar:

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails