6.1.08

Temenan, Yuk!

Pikiran Rakyat, 6 Desember 2005


"Aooow aq ir3nz mo ngirim salam bwat nak xmk3 ma d3wi bwat smua yg mo knalan ato mo curhat sms ja k no 0856247XXXX gw cwe lho!!!"

Itu tadi satu SMS yang masuk ke inboxnya belia minggu kemaren. Banyak banget SMS yang isinya sama kayak SMS di atas. Ngirim salam buat temen-temennya, trus diakhiri dengan mencantumkan nomor handphonenya, alih- alih sebagai alasan untuk mencari teman atau menambah teman. Belia termasuk salah satu yang suka "mengumbar" nomor handphone seperti temen kita yang di atas? Atau, Belia termasuk salah satu yang ngasih nomor handphone ke orang-orang yang dianggap perlu?

Handphone, enggak bisa dimungkiri lagi memang jadi satu sarana komunikasi yang dipilih oleh banyak orang. Anak kecil, abege, dewasa, sampai orang tua, ke mana-mana handphone-nya enggak boleh ketinggalan. Bahkan, untuk beberapa kalangan, handphone jadi alat untuk nunjukkin status dan meningkatkan gengsi. Makin canggih fiturnya, tentu makin pede lah orang yang punya.

Cari temen, nambah temen, dengan alasan tertentu--salah satunya biar dapet gebetan baru--emang jadi satu aktivitas yang menyenangkan. Siapa sih, yang enggak seneng kalau dirinya dikenal banyak orang, punya banyak temen, yang berarti bikin orang tersebut eksis. Eksistensi dalam sebuah komunitas, baik itu di kalangan sekolah atau tempat les sangat diperlukan. Eksistensi bisa membantu Belia untuk lebih well informed dan lebih gaul.

Kalau untuk eksis di belia, banyak temen-temen yang rajin ngirim SMS ke rubrik inbox, sekaligus mencantumkan nomor handphonenya, berharap punya temen baru, sobat baru, gebetan baru. Fenomena kayak gini, hampir sama dengan fenomena chatting yang sempat jadi tren beberapa tahun ke belakang. Melalui chatting, banyak orang serasa punya sahabat virtual, tempat mereka ngobrol, tukar pikiran, sampai mungkin ada yang berlanjut ke tahap lebih intim, seperti pacaran, dan lain sebagainya.

Menurut situs mentalhealth.com, internet merupakan media yang sangat baik dalam menyembunyikan identitas, terutama identitas fisik manusia, yang kebanyakan menjadi hambatan dalam mencari atau menambah teman. Identitas fisik yang dimaksud adalah seperti penampilan, ekspresi, gaya berpakaian, potongan rambut, umur, logat berbicara. Dalam kehidupan nyata, sering kali kita merasakan kalau kita enggak bakal pernah nyambung dengan orang lain hanya gara-gara identitas fisik tadi.

Tetapi, saat kita berada di lingkungan virtual, hambatan yang disebabkan oleh identitas fisik tadi seakan-akan hilang--tentunya sampai si orang yang minder tadi ngasih informasi jelas tentang dirinya kepada orang lain. Saling memberikan informasi detail mengenai pribadi masing-masing ini, biasanya diawali oleh obrolan tentang topik yang sama. Lebih lanjut, situs ini mengungkapkan, kalau seseorang dengan minat dan hobi yang sama, akan lebih mudah untuk saling "membuka identitas" masing-masing.

Bener banget. Memulai obrolan dengan orang yang punya minat dan hobi sama dengan kita, tentunya bikin diri kita nyaman saat menceritakan segala sesuatunya. Berbeda dengan jika kita tiba-tiba bertemu dengan orang baru di komunitas tertentu, misalnya, kenalan baru di tempat les bahasa Inggris. Kemungkinan besar, obrolan yang bakal keluar enggak akan selancar bila kita berada di chatting room dengan sesama penyuka buku Harry Potter, misalnya.

Mencantumkan nomor handphone saat kita berinteraksi dengan media, seperti yang banyak Belia lakukan di rubrik inbox, atau pada saat request lagu di radio, diharapkan ada satu atau dua orang yang "nyantol", dan kemudian menjadi teman curhat. "Ini bisa saja terjadi saat si remaja itu punya perasaan enggak ada orang yang merhatiin dia," ungkap Pak Hari, pengasuh Klab Psikopop di Tobucil.

Enggak ada yang merhatiin, merasa dirinya sendiri, kesepian, adalah beberapa faktor yang bisa dijadikan alasan kenapa banyak orang, khususnya remaja, sengaja mencantumkan nomor handphonenya di media. "Kalau masih dalam tahap wajar, situasi seperti ini masih bisa dimaklumi. Kebutuhan untuk menjalin relasi, terutama dengan lawan jenis, memang sedang dirasakan pada saat usia remaja," lanjut Pak Hari lagi.

Selain kebutuhan tadi, Pak Hari juga menyebutkan kalau ngejar status, agar tidak dikenal sebagai orang kuper, enggak gaul, enggak punya banyak teman, jadi salah satu alasan kenapa banyak remaja memilih untuk mencari teman virtual. Dalam situs anxietyattack.co.uk, Profesor Norman Nie, yang pernah mengadakan studi mengenai pengaruh internet terhadap kehidupan manusia, mengungkapkan, kehidupan online akan mengurangi waktu untuk kehidupan sosial yang nyata.

Makanya, enggak heran temen-temen yang hobi online, entah itu chatting, atau sekadar main games online, jumlah temen yang "real" dan temen virtual, bisa jadi lebih banyak jumlah temen virtualnya. Kebanyakan dari mereka merasa kesepian karena tidak mempunyai temen dalam jumlah yang banyak, atau temen deket untuk curhat.

"Kadang, ada juga yang merasa kayak gini, dengan mengumbar nomor handphone ke media, lalu banyak orang yang telefon atau SMS, lantas dia merasa kalau dirinya seperti banyak fans. Remaja kan kebanyakan mengidolakan selebritis yang fansnya di mana-mana. Dengan banyak kenalan, asumsi saya, mereka merasa dirinya seperti selebritis tadi," urai Pak Hari.

Masih inget film “You've Got Mail” yang dibintangi Meg Ryan dan Tom Hanks? Di film ini, mereka berdua ketemu di salah satu chat room, AOL, dan kemudian saling berbagi cerita, walau cerita keduanya enggak sepenuhnya cerita bener. Saat online, dua sejoli ini jadi beneran saling jatuh cinta, padahal di kehidupan nyata, mereka saling benci. Kalau merujuk ke film ini, belia jadi mikir, mungkin beberapa dari temen-temen yang hobi chatting or berkirim email, berharap akhir dari kisahnya seperti di film ini...

Boleh banget sih, berharap kalau ada orang yang punya niat baik, ngajak temenan, dan berlanjut ke tahap berikutnya. "Remaja kadang-kadang masih terlalu polos. Mereka belum berpsikir kalau ternyata lebih banyak dampak negatifnya dibandkingkan dengan dampak positif dari terlalu mengeksplorasi diri di intermet. Bisa saja, bukannya mendapat temen yang banyak, tapi malah teror yang mereka dapatkan," jelas Pak Hari lagi.

Mengumbar nomor handphone ke media, atau saling bertukar nomor handphone saat chatting, dinilai oleh Pak Hari sebagai satu aktivitas yang mesti dihindari. "Lebih baik jangan dulu share nomor handphone, lah. Kita kan, tidak tahu iktikad mereka baik atau enggak. Ketika mereka punya iktikad enggak baik, Belia justru malah enggak nyaman dengan efeknya. Bisa itu berupa teror, dan yang paling parah adalah godaan tertentu seperti eksplorasi seksualitas. Biasanya, orang jahat pasti punya cara-cara yang cerdas untuk menipu orang," ujar beliau lagi.

Trus, ngakalinnya gimana ya? Tenang, sekarang selain via chat room, Belia juga bisa nambah temen lewat situs friendster. Enggak bermaksud promosi, lho, tetapi di situs ini, Belia yang pengen banget punya teman virtual, bakal lebih "aman". "Lewat friendster menurut saya jauh lebih aman dibandingkan dengan chatting via chat room biasa. Di situs ini, Belia sebelum add temen, kan bisa lihat testimoni-testimoni yang sudah diberikan temen-temennya. Seenggaknya kita tau sedikit komen tentang orang yang mau kita add jadi temen," kata Pak Hari yang semasa remaja aktif berkorespondensi dengan sahabat-sahabat penanya.

Bagusnya lagi sih, cari temen enggak mesti yang virtual. Banyak banget alternatif yang bisa diperoleh kalau Belia ngerasa susah cari temen curhat, atau temen untuk sekadar SMS. "Gabunglah dengan banyak organisasi. Klab-klab untuk remaja sekarang kan banyak banget. Tinggal dipilih mana yang sesuai hobi dan minat. Dari situ, temen-temen baru pasti banyak berdatangan," saran Pak Hari.

Berteman secara real pun akan melatih interaksi dan komunikasi Belia dengan banyak orang, lho. Setidaknya, skill komunikasi kita bakal terasah, karena terbiasa bertemu dengan banyak orang yang kepribadiannya berbeda-beda. Ngumbar nomor handphone emang enggak salah juga, tapi sekali lagi belia ingetin, mesti hati-hati banget. Get real aja, lah. Temenan yang nyata, bukan virtual, jauh lebih menyenangkan koq! ***

tisha_belia@yahoo.com


Tidak ada komentar:

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails