6.3.08

Madrasah Falsafah: Semua Orang Adalah Filsuf

Salah jika Kawan menuduh berfilsafat membosankan dan membingungkan!

KENAPA menangis? Apakah karena dipukul lalu menangis? Apakah hanya karena dipukul lalu menangis? Apakah menangis memang harus meneteskan air mata? Atau ada pertanyaan lain tentang apa sih cinta? Dan kenapa ada cinta? Dan seterusnya tentang pertanyaan kenapa, mengapa, dan bagaimana.

Adakah orang-orang yang selalu membuat pertanyaan seperti itu? Tentu saja. Jika tidak, mungkin sampai hari ini kita masih menganggap bahwa hujan turun, karena awan menangis atau ada tumpahan air dari planet lain. Ada orang yang bertanya tentang hujan, jadilah ilmu fisika menerangkan tentang fenomena hujan.

Itulah orang-orang yang berperilaku filosofis. Orang-orang yang mendalaminya lantas disebut filsuf? Akan tetapi, siapakah filsuf itu? Dia bukan cuma Socrates, Plato, dan Aristoteles, atau yang kawan kenal dari buku-buku tentang filsafat.

"Filsuf itu adalah diri kita sendiri. Karena, semua orang sebenarnya mencari filosofi dari kehidupan mereka," ujar Rosihan Fahmi dosen Universitas Darma Persada Jakarta.

Kenapa Fahmi mengatakan hal itu? Jawabannya ada di saban Rabu sore di serambi Tobucil di kawasan Jln. Aceh, Bandung. Ya, di sore hari sekitar 10 orang berkumpul untuk membicarakan hal yang bagi kebanyakan orang adalah hal remeh- temeh.

Sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan kita seperti cinta, hidup, dan mati. Sesuatu yang setiap saat, kita bicarakan dan kita bahas dengan kawan di rumah, kampus, bahkan di warung kopi. Kita sebenarnya tidak sadar sedang berfilsafat. Karena, pada dasarnya setiap orang selalu gelisah dan bertanya, tetapi lama mereka diamkan sehingga menumpuk. Lama-lama menjadi stres dan mudah marah.

Inilah yang tidak diinginkan oleh orang-orang di obrolan "warung kopi" khas Madrasah Falsafah! Disebut begitu karena obrolan ditemani secangkir kopi, teh, makanan kecil, dan bagi yang merokok pun tidak dilarang.

Mereka yang datang ke acara ini, berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Ada mahasiswa, dosen, profesional, wartawan, ibu rumah tangga, dan lain-lain. Bahkan, yang hadir bukan dari kalangan berpendidikan filsafat.

Ide komunitas ini dimotori Fahmi dan beberapa kawannya. Awalnya dari obrolan-obrolan ringan pascamenghadiri salah satu diskusi, atau menonton sesuatu. Ide ini lalu terwujud 16 Juli 2007.

Konsep Madrasah Falasafah ini menurut Fahmi, merujuk pada gaya filsuf besar Yunani Socrates. Di zamannya, Ia berjalan-jalan dari pasar ke pasar, warung ke warung, lalu berdialog dengan orang-orang di sana. Ia tidak mencari pertanyaan/jawaban yang teoritis atau ilmiah. Tapi, argumentasi yang berasal dari pengalaman kehidupan masing-masing.

"Dengan seperti ini, filsafat menjadi lebih dekat pada masyarakat," ujarnya.

Uniknya menurut Fahmi, dengan gaya seperti ini orang per orang menjadi lebih terbuka dan jujur. Dengan begitu, proses komunikasi yang kritis pun berjalan. Dari sana pula setiap orang bisa mengambil kesimpulan sendiri tentang satu fenomena.

"Kejujuran pula yang membuat kita bisa berdialog dengan rendah hati, kita bisa menerima dengan tulus apa pun yang dikemukakan orang lain walaupun berbeda atau bertentangan dengan kepercayaan kita sendiri," tulis pengelola Tobucil di blog mereka.

"Di sini memang seperti curhat dengan teman," ujar Nia setelah mengikuti beberapa kali sesi diskusinya.***

agus rakasiwi
kampus_pr@yahoo.com


Dari Pikiran Rakyat, 6 Maret 2008



Tidak ada komentar:

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails