4.3.09

Baca Buku Sambil Hangout, Yuk! (1)

Ingin beli buku murah sekaligus mencari tempat hangout? Rasanya 3 toko buku ini layak menjadi pilihan. Selain memperoleh buku berharga miring, Anda juga bisa menemukan suasana dan "aroma" yang jauh berbeda dibanding toko buku konvensional. Mereka juga menyelenggarakan berbagai kegiatan semisal aneka kursus, hingga program diskon.

Salah satu toko buku alternatif di Bandung adalah Tobucil & Klabs (T&K) yang lokasinya berada di Jalan Aceh, Bandung. Toko buku komunitas yang sebelumnya buka di Jl Dago ini, didirikan tiga sekawan. Salah satunya, Tarlen Handayani, satu-satunya pendiri yang masih aktif. Semenjak bermarkas di Jl. Aceh inilah, Tobucil berganti nama menjadi Tobucil & Klabs.

Ide awal pendirian T&K adalah menjadi toko buku alternatif yang mendukung komunitas. "Makanya kita enggak hanya jual buku, tapi punya kegiatan-kegiatan lain," kata Elin Purwanti, Manajer Operasional Tobucil.

Selama seminggu, toko buku yang memiliki tagline "Literacy in Your Everyday Life" ini rutin menggelar beragam kursus. Dari kursus menulis, bikin komik, hingga merajut. Nantinya, menurut Elin, Sabtu dan Minggu akan lebih difokuskan ke masalah hobi, khususnya merajut. "Kami juga mau bikin writing for child, buat anak-anak kelas 3 SD ke atas."

Selain itu, T&K juga kerap mengadakan workshop atau bedah buku. "Buku siapa saja boleh, kok. Tapi, kalau cuma mau nongkrong, juga enggak dilarang." Sementara untuk program tahunan, ada program crafty days yang tahun ini bakal digelar Juli mendatang. Tak heran jika namanya Tobucil & Klabs, karena di sini memang ada beragam klab, dari Klab Nulis, Klab Komik, Klab Rajut, sesuai kegiatan yang digelar.

Pelanggannya kebanyakan mahasiswa dan pelajar. Ada pula ibu-ibu yang rajin ke situ. Biasanya, mereka ikut kursus rajut. "Sebetulnya kami tak membatasi. Siapa pun, boleh. Memang, kebanyakan yang datang, mahasiswa. Biasanya mereka ke sini di sela-sela kuliah. Sambil menunggu jam kuliah, mereka belajar merajut. Jangan salah, peserta cowoknya banyak juga, lho," kata Elin.

Buku-buku yang disediakan kebanyakan sama dengan di toko buku lainnya. Tapi, kadang, buku lama yang sudah tak lagi bisa ditemukan di luar, ada di sini. Jenis bukunya kebanyakan tentang sastra, filsafat, jurnalistik, sejarah, dan hobi. Selain itu, ada juga komik dan buku-buku indie label. Belakangan, benang rajut juga dijual.

Sesuai namanya, buku yang dipajang juga tak begitu banyak. "Ruangan kami kecil, jadi dipilih yang memang laku dari total koleksi kami yang hampir mencapai 11 ribu buah buku." Ke depan, T&K akan lebih banyak menyediakan buku-buku anak, yang sekarang masih belum tersedia, "Juga kegiatan untuk keluarga. Jadi, si ibu kursus apa, anaknya bikin apa. Soalnya, banyak ibu yang mencari kegiatan buat anaknya juga."

Perpustakaan Pribadi
Sedikit berbeda dengan T&K, konsep Omuniuum lebih menjadi tempat untuk bersantai dengan buku dan musik sebagai hidangan utama. Paling tidak, itulah yang diimpikan sang pendiri, Iit (30), saat membuka Omuniuum tahun 2002. Dulu, segmennya untuk beragam kalangan. Kini, setelah pindah lokasi tepat di seberang kampus Universitas Parahyangan, "Yang datang kebanyakan mahasiswa."

Pelanggan, kata Iit, biasanya berlanjut jadi teman. "Mungkin mereka merasa lebih nyaman beli di sini karena hubungannya lebih ke pertemanan. Ini yang sekarang banyak ditinggalkan toko buku lain. Industri sekarang, kan, massal. Yang seperti ini mungkin akan lama gedenya, tapi enggak akan mati. Orang perlu didengarkan, diperhatikan. Ada, lho, langganan saya yang dari pertama buka sampai sekarang masih rajin kontak. Malah jadi sahabat. Ada juga yang sekarang di luar negeri, masih rajin kontak-kontakan."

Memilih tagline small shop of reading and listening, konsep awalnya memang tempat untuk santai sambil membaca dan mendengar musik. "Buat saya pribadi, Omuniuum lebih sebagai rumah kedua. Buku-buku yang ada di sini pun, lebih menuruti selera saya," kata lulusan D3 Sastra Prancis ini. "Buku nonfiksinya paling cuma 5 persen. Saya memang suka fiksi. Jadi, di sini lebih seperti perpustaaan pribadi yang saya jual," kata Iit sambil tertawa.

Selain buku-buku berbahasa Indonesia, iit juga menyediakan buku berbahasa asing dengan harga miring. Dulu, "Saya biasa hunting sendiri ke Yogya, cari buku bekas. bahkan ke Bali dan Jakarta. Ya, sambil jalan-jalanlah. Sekarang, sih, sudah ada yang mengantar, "ujar Iit yang menjual buku impor second mulai Rp 10 ribu sampai Rp 300 ribuan. "Dibandingkan harga toko, di sini jauh lebih murah. Yang banyak dicari memang fiksi, selain buku-buku desain."

Selain buku, bau-bau indie sangat terasa begitu melihat tumpukan CD dan merchandise band yang juga disediakan Iit.

Hasto Prianggoro
Foto: Adrianus Adrianto/Nova

Sumber: Tabloid Nova Selasa 10 Februari 2009

Tidak ada komentar:

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails