4.3.09

Berawal dari Diskusi Soal Keledai

MESKI ide untuk membuat sebuah klub diskusi filsafat yang mengambil tema kehidupan sehari-hari telah lama muncul di benak Ami, Bambang Q-Aness, dan Ahmad Gibson, tetapi bagaimana bentuk klub diskusi itu belum juga ditemukan. Semangat menemukan bentuk diskusi itu akhirnya ditemukan secara tak sengaja di suatu malam di Kafe Terminus Pusat Kebudayaan Prancis (CCF) Bandung tahun 2007. Peristiwa penemuan semangat itu bukanlah peristiwa besar, hanya gara-gara seekor keledai yang ujug-ujug muncul dalam sebuah perbincangan yang santai dan serba berseloroh.

Seperti biasa malam itu, sehabis menyaksikan pertunjukan di Auditorium CCF, para seniman dan aktivis seni di Bandung selalu menghabiskan waktu dengan bercakap-cakap di Kafe Terminus sambil merokok dan minum kopi. Berbagai hal dibicarakan di setiap meja. Dari mulai komentar tentang pertunjukan hingga percakapan-percakapan yang selalu diselingi oleh gurauan. Tetapi, ada sebuah meja yang tampaknya seru dan serius membahas satu hal yang tak terduga-duga dengan berbagai komentar yang silih berganti. Suasananya percampuran antara serius dan berseloroh. Keisengan memikirkan sesuatu yang tak terduga.

Menurut Heru Hikayat, ketika itu penyair dan kritikus sastra Mohammad Syafari Firdaus melontarkan pertanyaan, mengapa keledai dalam kamus pengertiannya selalu merujuk pada kuda? Mengapa dia tidak pernah menjadi spesies tersendiri, tetapi bergantung pada spesies lain? Alih-alih percakapan ini meluas ke arah ilmu zoologi, para seniman dan aktivis seni di meja itu menimpalinya secara iseng ke mana-mana. Sampai kafe mematikan lampu karena sudah tutup, diskusi terus berlanjut dan makin seru.

"Sampai pada hal yang tak terduga-duga, yaitu, tentang persoalan dan pandangan masing-masing tentang dunia spiritual, termasuk tentang Tuhan. Nah, peristiwa itu jadi klimaks apa yang saya pikirkan, dari yang tidak penting, keledai, sampai yang religius. Itu sangat dibutuhkan," kenang Ami.

Di tahun 2007 itu juga, Ami dan Bambang Q-Anees banyak melakukan komunikasi dengan Tarlen pengelola Tobucil. Akhirnya mereka menyorongkan ide klub diskusi itu pada Tarlen untuk bisa menjadi bagian dari program di Tobucil. Ide yang mereka tawarkan, ya, itu tadi, klub filsafat yang isinya diskusi dan tukar pikiran. Ternyata Tarlen menyetujuinya.

"Waktu pertama pindah ke Jalan Aceh, kami ingin mengampanyekan lagi literacy movement, tetapi pendekatannya sekarang every day life (dalam keseharian). Waktu Ami dan Bambang Q-Anees mendirikan Madfal tujuannya sama dengan konsep Tobucil, menjadikan filsafat bagian dari keseharian. Membicarakan hal-hal yang sederhana, keseharian," tutur Tarlen.

Tarlen menuturkan, karena Tobucil mengakomodasi hal-hal yang remeh-temeh, maka inilah yang membedakannya dengan ruang-ruang komunitas kreatif lain yang ada di Bandung. "Begitu juga Madfal, kami ajak orang berbicara hal yang filosofis lewat soal-soal yang dekat dengan mereka, tanpa perlu menghafal nama tokoh-tokoh filsafat modern atau segala macam teori filsafat. Mereka bisa mengemukaan pandangan filosofis mereka sendiri berdasarkan pengalaman," tutur Tarlen lagi.

Dalam pelaksanaannya, Tobucil juga memberi batasan yang tegas pada setiap program, termasuk Madfal. "Ada tiga hal yang dilarang sama Tobucil. Pertama kampanye partai politik, kedua, agitasi keagamaan/agama tertentu. Kalau membicarakan teologi agama apa pun boleh, tetapi kalau mendoktrin agar orang masuk agama tertentu tidak boleh. Lalu multilevel marketing (MLM)," kata Tarlen.

Di lain sisi, menceritakan perjalanan Madfal, Ami membagi dua generasi yang pernah aktif di Madfal, yaitu generasi tahun 2007 dan 2008. "Di tahun 2007 awalnya mungkin cuma sepuluh orang. Tema mereka racik sendiri, tentang keseharian dan cukup mendapat respons yang menarik bahkan ada dosen universitas swasta yang sedang belajar mata kuliah filsafat diwajibkan hadir, jadi kuliahnya di sini. Sampai dengan empat puluh orang. Mereka menggangap suasananya berbeda dan merasa aneh mengapa belajar filsafat kayak begini," tutur Ami sambil tersenyum.

Selain diskusi filsafat yang rutin diadakan saban Rabu sore, Madfal juga pernah menyelenggarakan sejumlah acara lain, seperti bedah buku. "Tapi teknisnya berbeda dengan yang lain. Biasanya kan dalam acara bedah buku pembicara menceritakan detail bukunya, di Madfal tidak. Misalnya, belum lama ini kami mengadakan acara bedah buku ’Saya Berbelanja Karena Itu Saya Ada’. Di situ, publiklah yang justru menceritakan pengalamannya berbelanja," kata Ami, seraya menekankan bahwa masalah yang diam-diam sedang dihadapi oleh Madfal kini adalah soal regenerasi. (Ahda Imran)***

Diambil dari Pikiran Rakyat, 4 Maret 2009

Tidak ada komentar:

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails