12.3.09

Menghargai Sampah

SUARA PEMBARUAN DAILY


SP/Adi Marsiela

Dompet dengan aksesori kaset bekas menjadi salah satu produk yang dipamerkan di "Crafty Days#2: Recycle Attack" di Toko Buku Kecil (Tobucil).

Sekelompok anak muda Bandung mengajak masyarakat lebih menghargai sampah dengan cara berbeda. Wacana pemanasan global

dan perubahan iklim tidak menjadi isu utama. Malah, sampah itu sendiri yang jadi inspirasi untuk berbuat lebih baik untuk lingkungan.

Syalita Fawnia dan Pingkan Shinta misalnya, mencoba memberi nilai lebih dari kaset-kaset bekas. Dengan mengusung nama Kaen Tilas yang artinya kain bekas itu, mereka rangkai kaset-kaset itu dengan kain perca sisa sehingga menjadi dompet yang cukup unik bentuknya.

Tidak hanya itu, sesuai nama yang diusungnya, dua perempuan berusia 29 tahun ini juga membuat boneka berbentuk bebek dan binatang lainnya dari kain-kain sejenis. "Bahan kainnya, kita dapat dari penjahit yang sama tempat konveksi. Sekali dikasih, biasanya satu karung besar," kata Syalita.

Cara pandang yang berbeda terhadap barang bekas juga tampak dalam barang-barang dan aksesori yang dijual di stan Bikin Bareng dari Jakarta.

Bersama kawan-kawannya, Shalimma (27) mengubah kerat minuman menjadi sebuah bangku berbusa lengkap dengan empat kaki-kakinya. Setelah dimodifikasi, kerat minuman ini ditawarkan dengan harga Rp 375.000.

Bukan hanya itu, botol minuman yang sudah tidak terpakai, juga bisa dirangkai dengan mika dan karung beras untuk menjadi sebuah lampu duduk. Harganya, tidak main-main, Rp 210.000.

Bicara kreativitas, mereka juga memanfaatkan tutup botol minuman ringan jadi mata liontin yang berbeda dari biasanya. Bagian belakang tutup botol yang kosong itu diisi dengan gambar dan resin. Untuk mendapatkan sebuah tutup botol ini, Shalimma mematok harga Rp 25.000. "Kalau dengan rantainya tambah Rp 5.000," tuturnya.

Beberapa barang yang cukup unik dan menarik bentuknya ini tampil dalam acara Crafty Days#2: Recycle Attack di Toko Buku Kecil (Tobucil), Bandung, pada Sabtu dan Minggu, tanggal 6 dan 7 Desember 2008 lalu.

Pengarah Program Tobucil, Tarlen Handayani menuturkan, acara ini memang sengaja dibuat untuk komunitas dan orang-orang yang senang membuat prakarya atau kerajinan tangan. Acara serupa sudah pernah digelar setahun sebelumnya. "Yang berbeda kali ini, ada pameran dari teman-teman yang membuat karya dari bahan bekas atau daur ulang," kata Tarlen.

Menurutnya, acara tahunan yang dirangkai dalam bentuk bazar dan workshop produk-produk kreatif dari barang bekas ini, memang sengaja mendengungkan semangat menyelamatkan lingkungan lewat kerajinan tangan. "Kita ingin bisa memberikan inspirasi, kalau mengelola sampah jadi punya nilai tambah itu mudah," jelasnya.

Nilai Tambah

Menyoal nilai tambah dari sampah, dalam acara ini juga ikut berpartisipasi Komunitas Green Lifestyle yang beraksi dengan mengumpulkan sampah baterai, kertas, dan kemasan Tetrapak. "Khusus yang kertas akan digunakan oleh Tobucil jadi kantong kertas buat pembeli, selebihnya disalurkan ke tempat daur ulang kertas," kata Tarlen.

Untuk kemasan Tetrapak, yang biasa digunakan untuk minuman, dikumpulkan oleh Yayasan Kontak Indonesia sebelum didaur ulang oleh Balai Besar Pulp dan Kertas di Dayeuhkolot, Bandung. Di tempat itu, kemasan tersebut akan dipisahkan komponen kertas, plastik, dan alumunium foil-nya.

"Kertasnya itu cukup baik karena berasal dari serat panjang. Kuat untuk dijadikan kertas daur ulang sampai sembilan kali. Sekarang, tengah dicoba untuk dibuat menjadi kantong kertas di tempat perbelanjaan," papar mitra pengumpulan kemasan Tetrapak, Endy Sulistiawan.

Sementara itu, sampah baterai diserahkan kepada Waste Management Indonesia (WMI) yang merupakan penyedia jasa pengelolaan sampah B3 (bahan berbahaya dan beracun).

Senior Account Manager WMI, Andita Huda memaparkan, secara umum komponen baterai itu mengandung logam berat seperti merkuri, mangan, timbal, kadmium, nikel, dan lithium yang berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan.

"Jadi, kita bawa baterai yang ada, kemudian kita ambil komponen yang bisa didaur ulang, sedangkan yang tidak bisa tetap dibuang," kata dia.

Untuk pembuangan itu, terang Andita, sisa-sisa baterai itu diproses dahulu agar logam-logam berbahaya itu tidak lagi bisa mencemari lingkungan. Pasalnya, jika langsung dibuang, logam itu akan mencemari tanah, air tanah, sungai, danau dan sumber air bersih lainnya.

Air yang sudah tercemar logam berat sangat berbahaya, tentunya sangat berbahaya bagi kesehatan. Andita mencontohkan, baterai lithium yang terkena air akan memproduksi gas hidrogen yang berpotensi untuk meledak. "Makanya, kita stabilisasi radiasinya dan mengubahnya menjadi beton yang ditimbun dalam tanah," ungkap Andita seraya menambahkan, tempat pembuangan akhir baterai itu berada di daerah Cileungsi Kabupaten Bogor.

Memang sampai saat ini, penggunaan sampah untuk memberi nilai tambah itu masih saja menyisakan masalah. Karena pada dasarnya, selalu ada sampah yang tidak bisa dihilangkan. Namun, daripada terus-menerus memikirkan hal tersebut, tidak ada salahnya kita mencoba untuk mengurangi sampah lewat kerajinan tangan seperti yang digalang Tobucil. [SP/Adi Marsiela]


Last modified: 3/1/09

4 komentar:

Chandra Praditya mengatakan...

Hmmm...

Pngen banget klo skullq bisa gitu. .

kira2 apa yah yg enak di buat daur ulang??

tobucil mengatakan...

materi non organik banyak kok yang bisa di daur ulang.. :)

Marcell Sinay mengatakan...

skrg saya bareng temen2 kampus lagi menggalakkan daur ulang bungkus kopi lho, sprti ini contohnya

http://malicemrc.wordpress.com/2009/04/04/kreasi-daur-ulang-1-good-day-vanilla-late/

hehehe :D

Jaisy01 mengatakan...

Sering hal yang kita anggap tidak berguna malah mendatangkan kegunaan yang besar. Malah bisa memberikan keuntungan yang banyak. Yah seperti sampah!

Intinya "Kerja Keras Adalah Energi Kita" yang dapat memberikan solusi dari semua hal. Salam kenal mas :)

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails