4.3.09

Merajut, Bukan Monopoli Nenek

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO
Para anggota komunitas Klab Rajut Tobucil saat berkumpul dan merajut bersama di Tobucil, Jalan Aceh, Bandung, Jawa Barat, Sabtu (17/1). Kegiatan ini rutin mereka lakukan setiap hari Sabtu dan Minggu.
Minggu, 18 Januari 2009 | 01:52 WIB

Budi Suwarna

Sebagian orang berpikir merajut adalah kegiatan nenek-nenek untuk mengisi waktu luang. Tetapi, tengoklah beberapa komunitas merajut di Jakarta dan Bandung. Sebagian besar penggiatnya justru anak-anak muda, termasuk para lelaki.

Persepsi bahwa merajut adalah monopoli nenek-nenek memang telanjur kuat. Maklum, sejak kecil, film kartun dan komik anak selalu menggambarkan nenek yang sedang merajut. Gambar kakek sedang merajut seingat saya belum pernah ada.

Selain itu, merajut di Indonesia selalu diasosiasikan dengan kegiatan perempuan. Ketika ada laki-laki yang merajut, orang akan memandang aneh.

Setidaknya ini dialami Sam Sambas (31), pekerja film yang senang merajut. Laki-laki lajang ini mengaku, ketika pertama kali bergabung dengan milis mari_merajut@yahoogroups.com, anggota milis memanggilnya mbak. ”Mereka baru memanggil mas setelah saya katakan saya laki-laki,” ujar Sam, Jumat (16/1).

”Ketika kopi darat, mereka tambah kaget karena saya berewokan kayak preman, bukan cowok ’melambai’ ha-ha-ha....”

Di Indonesia, ada komunitas merajut yang cukup aktif, yakni Mari Merajut. Komunitas yang dibentuk tahun 2006 ini memiliki milis dan situs internet. Menurut pendiri komunitas ini, Dyah Dyanita alias Dydy dan Safrida Purwati (31), anggota milis sekitar 700-an orang. Jika digabung dengan anggota di merajut.com, jumlah anggota komunitas ini lebih dari 1.000 orang.

Menurut Dydy, anggota komunitas ini tersebar di Jakarta, Bandung, Surabaya, Bogor, Malang, Magelang, Yogyakarta, Medan, Makassar, sampai Jayapura. Ada pula anggota yang tinggal di Amerika Serikat, Jepang, Singapura, Thailand, Australia, beberapa negara Eropa, serta Arab. Dydy sendiri tinggal di New York, AS. Setiap anggota disebut rajuter.

Latar belakang anggota sangat beragam, dari ibu rumah tangga, mahasiswa, karyawan toko, teknisi, wartawan, dosen, ahli hukum, hingga dokter. Anggotanya kebanyakan perempuan.

”Belakangan banyak juga laki-laki tertarik. Ada yang memang niat belajar, ada yang awalnya ikut pacarnya lalu ketagihan,” tambah Dydy.

Sebagian anggota komunitas ini rutin bertemu setiap Jumat malam di toko benang Miki Moko di Blok M Plaza, Jakarta Selatan.

Di luar Mari Merajut, ada komunitas lain, yakni Klab Rajut Tobucil di Bandung dan Dinamic Crochet. Anggota komunitas Dinamic Crochet berkomunikasi melalui milis dinamicchochet@yahoogroups.com. Sebagian anggota milis ini juga bergabung dalam komunitas milis mari_merajut@yahoogroups.com.

Awal Januari 2009, terbentuk lagi satu komunitas merajut di angkringan Wetiga di Jalan Langsat I, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, tidak jauh dari kawasan Blok M atau Radio Dalam. Komunitas yang belum memiliki nama ini dimotori Yuliazmi (33), dosen Teknologi Informasi di Universitas Budi Luhur.

Ibu muda inilah yang ”meracuni” para blogger dan plurker yang biasa menongkrong di Wetiga untuk belajar merajut. ”Korbannya” antara lain pasangan dokter Arif Abraham Ambril (Bambam) dan Luki Kusumaningrat, Kania, serta Chichi. Sekarang, mereka mulai keranjingan merajut.

Kania (33) mengaku, di mana pun ada waktu luang dia merajut. ”Kadang sambil nyetir saya merajut,” ujarnya.

Bambam dan Luki juga sama saja. Pasangan suami-istri yang belum memiliki anak ini punya obsesi untuk membuat perlengkapan bayi dengan rajutan hasil karya sendiri. Jika sedang libur di rumah, mereka merajut bersama.

Berlatih fokus

Ada berbagai motif yang membuat anak-anak muda ini menenggelamkan diri dalam dunia merajut. Linda (29), karyawan perusahaan telekomunikasi yang anggota Mari Merajut, mengatakan, merajut bisa menghilangkan stres.

”Kalau lagi marah-marah, saya langsung ambil benang dan jarum. Lalu, saya merajut sampai capai. Stres saya langsung hilang,” kata dia.

Sam Sambas yang disebut di awal tulisan mengaku, dia merajut untuk melatih pikirannya agar fokus. ”Saya ini orang yang tidak bisa fokus dalam bekerja. Semua saya lakukan sporadis. Setelah belajar merajut saya baru bisa fokus,” ujar dia.

Tidak hanya bisa fokus, Sam sekarang pun bisa menghadiahi pacarnya dengan barang rajutan hasil karya sendiri. ”Asyik kan,” kata dia.

Apa pun motifnya, mereka percaya merajut membuat orang ketagihan. Manda (26), karyawan perusahaan perawatan ATM, sudah merasakannya. ”Kalau tidak merajut rasanya enggak enak,” katanya.

Sepanjang perjalanan kereta api dari rumahnya di Bintaro ke kantornya di kawasan Jakarta Selatan, dia pun merajut. ”Di kantor kalau sedang istirahat saya juga merajut sampai-sampai saya dipanggil nenek,” tambah dia.

Selain mendapat kepuasan, para rajuter ini juga bisa mendapat tambahan pendapatan. Aida (35), karyawan perusahaan perawatan ATM, sudah bisa menerima pesanan produk rajutan dari teman-teman. ”Lumayan, kadang satu bulan bisa dapat Rp 300.000,” kata Aida.

Sumber: Kompas Minggu, 18 Januari 2009

Tidak ada komentar:

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails