4.3.09

Semua Orang Adalah Filsuf

"SEMUA Orang Adalah Filsuf", begitulah moto Madrasah Falsafah Sophia (Madfal). Moto ini bukanlah mau membawa logika pengertian bahwa semua orang adalah filsuf maka filsuf itu sebenarnya tidak ada. Bukan. Akan tetapi, tampaknya lebih ingin membawa pada pengertian bahwa setiap orang niscaya memiliki sikap, refleksi, dan pengalaman filosofisnya masing-masing berdasarkan perjalanan hidupnya yang pasti berbeda dengan siapa pun.

Oleh karena itulah, di Madfal semua orang leluasa mengemukakan pandangan dan pengalamannya. Artinya, dalam setiap diskusi tidak ada orang yang menjadi pembicara dominan. Siapa pun punya hak, bahkan keharusan, berbicara, seperti juga semua orang punya kewajiban mendengarkan.

Bahkan lagi, semua orang boleh dan dipersilakan mengajukan masalah yang akan dijadikan agenda tema diskusi berikutnya. Dalam bahasa Madfal, siapa pun boleh menjadi "pemasalah" atau pengaju masalah. Masalah apa saja, dari mulai pertemanan, cinta, kebahagiaan, sampai patah hati. Misalnya saja, tema yang didiskusikan Rabu (25/2) yang lalu, yakni "Berkorban demi Cinta, Kenapa?". Tema ini datang dari usulan seorang peserta yang awalnya hanya datang mirip pemantau. Sedangkan sore Rabu (4/3) ini, Madfal akan mendiskusikan tema tentang makna dan arti perkawanan.

Karakter umum dari Klub Tobucil memang berfokus pada apa yang selama ini dianggap remeh-temeh. Namun, kata Heru Hikayat, soal-soal kecil dan remeh-temeh itu ternyata bisa menjadi semacam panggung bagi aktualisasi setiap orang. "Pengalaman sehari-hari tentang patah hati, misalnya, dibahas dengan serius dan melogikakannya. Tentu saja orang bisa mengungkapkannya pada teman dekat, tapi itu kan tidak semua orang punya teman dekat," katanya.

"Yang menyenangkan di Mafdal," ucap Desiyanti. "Sebagai mediator, Ami memberi kesempatan pada siapa pun untuk bicara hingga akhirnya kami bisa saling mengenal. Saya bisa lebih mengenal setiap orang lebih dekat dari gaya berpikirnya dan dari sudut pandangnya," tuturnya seraya menambahkan banyak yang telah didapatnya selama mengikuti Madfal, seperti bagaimana ia kini lebih merasa sensitif pada hal-hal yang dianggap kecil.

Madfal menjadi ruang mempertemukan berbagai persepsi untuk saling mengenal dan memahami, seperti di sebut Heru Hikayat dan Desiyanti, juga mendapat pembenaran dari pengakuan Iman Abda yang sehari-hari aktif mengelola Radio Komunitas dan mengikuti Madfal sejak 2007. Menurut dia, lepas dari urusan materi pembicaraan Madfal telah membuatnya tak hanya banyak mendapatkan teman baru. "Tapi juga mengetahui dan mengenali keragaman cara berpikir mereka. Pengetahuan itu menjadikan rasa toleransi lebih meningkat dan lebih bijak dalam memahami keberbagaian," ujarnya.

"Tapi ada pengalaman pribadi yang membuat saya kaget," ucap Heru. "Misalnya, ketika saya bicara tentang Soeharto dengan perasaan yang kental banget. Tapi di Madfal ini saya disadarkan bahwa Soeharto itu jauh di masa lalu. Banyak peserta anak-anak muda yang tidak akrab! Ada jarak waktu dan sejarah dengan mereka. Nah, itu hanya bisa muncul dalam situasi yg santai. Bagaimana kita mempertemukan persepsi sambil tertawa dan ngegosip," ujar lelaki yang selalu berkepala plontos ini. "Saya pikir tidak berbeda dengan orang ngobrol di warung kopi. Cuma kita lebih serius mencari apa yg diobrolinnya," tuturnya menambahkan. (Ahda Imran)***

Diambil dari Pikiran Rakyat, 4 Maret 2009



Tidak ada komentar:

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails