4.3.09

Yang Berewok yang Merajut

Hobi

KOMPAS/YUNIADHI AGUNG
Komunitas Mari Merajut, Jakarta
Minggu, 18 Januari 2009 | 01:51 WIB

Wiku Baskoro (27) dari Klab Rajut Tobucil sedikit pun tidak merasa ”kejantanannya” berkurang hanya karena ikut kegiatan merajut.

”Orang Indonesia memang masih mengasosiasikan merajut dengan kegiatan perempuan. Itu salah,” katanya, Jumat (16/1).

Karena itu, Wiku bersama teman-teman rajuter lainnya berusaha mengubah persepsi tersebut. ”Bagi kami, merajut adalah wilayah kreatif sehingga semua orang bisa ikut, enggak peduli laki-laki atau perempuan,” ujar Wiku.

Dia menceritakan, di Tobucil And Club—toko buku berbasis komunitas di Bandung—tempat dia bekerja, ada beberapa temannya sesama laki-laki yang ikut kegiatan merajut. ”Kami semua anak rock n’roll dan punya jembros (berewok), tetapi kami merajut,” tambah Wiku bangga.

Di antara rajuter laki-laki itu ada yang berprofesi sebagai wartawan. Biasanya, setelah selesai liputan, dia datang ke Tobucil untuk merajut.

”Wartawan lainnya juga mulai tertarik, kebetulan Tobucil alamatnya sama dengan alamat AJI (Aliansi Jurnalis Independen) Bandung,” kata dia.

Wiku menceritakan, di Eropa, anak-anak band yang sangar-sangar juga suka merajut. Mereka orang-orang yang selalu berpikir bagaimana caranya bisa tampil beda. ”Mereka juga berpikir kalau gue bisa bikin baju sendiri yang keren, ngapain harus beli,” ujar Wiku.

Laki-laki yang belajar merajut sejak tiga tahun lalu ini sekarang sedang membuat tas rajutan sendiri. Dia juga punya obsesi membuat penutup sepeda motor dengan rajutan.

Di Jakarta, rajuter berberewok (tipis) juga ada. Namanya Arif Abraham Ambril alias Bambam. Dia punya obsesi memiliki kupluk hasil rajutan sendiri untuk dipakai naik gunung. (BSW)

Diambil dari Kompas, Minggu 18 Januari 2009

Tidak ada komentar:

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails