4.8.09

Tarlen Handayani, Laboratorium Hidup dalam Sebuah Toko Buku

Tarlen Handayani
Jumat, 31 Juli 2009 | 14:20 WIB
Laporan wartawan NOVA Edwin F. Yusman

BUKU dan Tarlen tak bisa dipisahkan. Gadis ini mencintai buku karena dalam lembarannya berisi prinsip, inspirasi dan energi positif. “Itulah kecantikan yang sesungguhnya,” ungkap lajang kelahiran Bandung 30 Maret 1977 yang sukses membidani Toko Buku Kecil (Tobucil).

Sejak kecil sudah suka buku ?
Ya, orang tua jarang membelikan mainan. Tapi hampir setiap bulan, ayah mengajak saya dan saudara-saudara ke toko buku dan memperbolehkan kami memilih satu buku. Lama-lama koleksi buku saya lumayan banyak. Kebetulan tetangga sebelah rumah ada yang membuka penyewaan buku dan komik. Saya pikir, kenapa saya enggak bisa seperti itu?

Ketika masih duduk di bangku SD, saya mulai menyewakan buku dan komik kepada teman-teman. Lumayan, hasilnya bisa ditabung untuk membeli buku dan komik baru.
Nah, kegiatan menyewakan buku ini saya lakukan hingga SMA. Saya suka membawa komik atau buku ke sekolah untuk dipinjamkan kepada teman-teman. Repotnya kalau ada razia. Untung saya punya tempat rahasia untuk menyimpan komik-komik itu supaya enggak kena razia. Ha ha ha.

Apa istimewanya buku bagi seorang Tarlen?
Di dalam sebuah buku terdapat prinsip, energi positif dan inspirasi.

Sebagai wanita, Anda merasa cantik ketika bersinggungan dengan buku?
Ya. Menurut saya cantik adalah sesuatu yang muncul dari dalam, bukan hanya bisa dilihat tapi dirasakan dan mendapat inspirasi dari situ. Seperti yang saya rasakan ketika membaca buku.
Nah, kalau untuk figur publik, sekarang saya ngefans sama Michelle Obama, menurut saya dia sangat inspiratif. Saya sangat senang dengan orang yang bisa memancarkan hal-hal seperti itu.

Itu sebabnya Anda bikin toko buku?
Ceritanya, setelah lulus kuliah di Jurusan Jurnalistik Unisba (2001) saya bertemu dengan dua teman yang mempunyai keinginan yang sama untuk membuat sebuah toko buku. Secara kebetulan, ada teman di Milis Pasar Buku yang juga menawarkan kerjasama dengan kita.

Awalnya kami mengusung bendera Pasar Buku Bandung. Di tahun pertama, seorang teman mengundurkan diri karena dapat pekerjaan lain. Di tahun kedua, kerjasama dengan Pasar Buku pun berakhir dan kami mulai mengganti nama menjadi Tobucil. Omong-omong, modal membuat Tobucil ini sangat minim, Rp 1,5 juta hanya cukup untuk beli batako untuk membuat rak buku. Modal terbesar saya hanyalah pertemanan.

Selesai kuliah Anda memilih tak bekerja kantoran, orang tua enggak protes?
Orangtua saya sangat mendukung apa yang saya lakukan, dengan catatan tidak setengah-setengah.

Kenapa dinamakan Tobucil?
Prinsipnya bahwa setiap hal yang besar itu diawali dari hal yang kecil. Jadi, dari perubahan nama itu, kami juga sekaligus mengubah konsep. Tak hanya menjadi toko buku, tapi juga melakukan sesuatu yang sederhana untuk komunitas. Yang penting kontinuitas terjaga, dan siapapun yang datang dan ikut kegiatan kami bisa membawa pulang sesuatu yang berguna.

Apa saja kegiatan di Tobucil?
Koridor kegiatan utamanya adalah buku, hobi dan komunitas. Buku berhubungan dengan sifatnya yang updating pengetahuan. Hobi berhubungan dengan aktualisasi diri. Untuk hobi kami mempunyai acara tahunan bernama Crafty Day, untuk tahun ini akan diadakan pada tanggal 15 – 16 Agustus. Di acara ini, kami menghadirkan berbagai macam kerajinan tangan, tahun ini temanya mainan.
Sementara untuk komunitas bentuknya adalah klab. Tahun 2002, kami mulai membuat berbagai kegiatan dalam klab. Klab pertama yang kami buat adalah klab baca yang diadakan setiap Minggu sore.

Bedanya dengan klab baca lain?
Di sini, kami tak hanya membahas novel atau produk sastra yang “berat”. Tapi juga membahas komik, seperti Tintin dan lain-lain. Karena, kalau membahas novel, dari sejumlah orang yang datang hanya sedikit yang sudah membaca novelnya. Selebihnya datang karena ingin tahu apakah novel yang dibahas itu layak dibaca atau tidak, lebih karena penasaran saja.
Dari klab baca ini, berkembang menjadi klab menulis, klab baca khusus yang membahas karya-karya Pramudya Ananta Toer, klab nonton yang kemudian pada tahun 2003 hingga kini dipercaya menjadi partner JiFest di Bandung. Ada pula klab filsafat dan lain-lain.

Selain klab baca, kami juga mempertemukan minat-minta yang berbeda dalam satu tempat karena keterbatasan tempat, ha ha ha. Jadi enggak aneh jika kalau ke sini, di satu meja ada komunitas musik klasik dan di sebelahnya ada komunitas merajut.

Ada kelas apa saja di Tobucil?
Kelas menulis, kelas merajut, merenda, origami, dan lain-lain. Sharing-nya kami hanya mengambil 20 persen untuk ruangan dan publikasi kelas. 80 persen sisanya untuk pengajar. Selain itu kami juga kerap mengadakan workshop.

Sejauh ini berapa banyak anggota Tobucil?
Sifat keanggotaan kami sangat cair. Tapi kalau dilihat dari klabbaca@yahoogroups.com atau Facebook, anggota kami berjumlah 2500 orang. Tak terbatas dari Bandung saja, bahkan kebanyakan mereka datang dari Jakarta. Kebanyakan perempuan dengan rentang usia 17 sampai 45 tahun. Kami menargetkan pada pemberdayaan kalangan kelas menengah. Karena kelas menengah di Indonesia itu kurang percaya diri, padahal mereka mampu untuk membuat sebuah perubahan. Itu mengapa Tobucil menyediakan ruang untuk mengaktualisasikan diri. Kami menjadi tempat penyemaian bibit, jika sudah tumbuh dengan kuat silakan tanam di tempat lain. Banyak anggota kami yang bikin kursus di tempat lain.

Membuat segitu banyak kegiatan, darimana menggalang modalnya?
Banyak sih lembaga yang menawarkan diri untuk menjadi donor. Tapi saya enggak mau. Kembali ke tujuan saya membuat Tobucil. Bagi saya Tobucil adalah sebuah laboratorium hidup. Kalau saya menjalaninya sesuai prinsip, sama dengan saya menjalani hidup sesuai dengan apa yang saya yakini. Saya enggak mau menjual keyakinan saya hanya untuk mencapai tujuan dengan cara cepat.

Apa rencana dalam waktu dekat?
Saya akan menerbitkan buku mengenai kegiatan ini. Selain untuk membagi ilmu, semoga bisa menjadi referensi bagi orang yang hendak membuka atau memulai usaha seperti ini. Buku ini akan saya keluarkan pada November tahun ini.

Selain di Tobucil, apa lagi kegiatan Anda?
Kadang saya jadi penulis lepas di beberapa media. Saya juga menargetkan diri sendiri minimal satu penelitian setiap tahun. Kemarin saya baru kembali dari Kalimantan untuk riset Hak Minoritas. Saya juga baru kembali dari Amerika Serikat selama empat bulan mendapat beasiswa untuk observasi pengembangan komunitas.

Kegiatan Anda tentu menyerap banyak energi, ya. Enggak stres?
Badan saya sangat peka terhadap apa yang terjadi. Kalau hidup saya tidak seimbang, akan muncul penyakit. Penyakit yang saya alami kebanyakan muncul akibat pikiran. Kalau saya sudah mulai mengalami gejala sakit, saya akan mencari apa yang sedang mengganggu saya. Dan untuk menjaganya, saya harus selalu berpikiran positif.

Soal makanan juga dijaga, dong.
Soal makanan, saya punya prinsip bahwa “perutmu bukan kuburanmu” dan “berhenti makan sebelum kenyang”. Tidak semua hal yang enak dan menyenangkan itu sehat.

Olahraga?
Saya suka sekali jalan kaki pagi-pagi sambil melihat sinar matahari menembus dedaunan. Sekaligus membuat kita peka akan lingkungan dan relaksasi. Beruntung saya tinggal di lingkungan seperti ini.

Di posting ulang dari sini

Tidak ada komentar:

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails