8.9.09

Memaknai Hidup Bersama Kopi di Madrasah Filsafat

Ema Nur Arifah - detikBandung
Jumat, 30/05/2008 11:55 WIB

Bandung - Apa makna kopi untukmu hari ini? Pertanyaan itu muncul dalam acara obrolan santai Rabu sore di Tobucil & Klabs, Jl Aceh No.56.

Sekitar 20 orang dari beragam latar belakang profesi entah itu pelajar, pekerja, mereka berkumpul, duduk bersama membicarakan tentang jenis minuman bernama kopi.

Pertanyaan sederhana tentang makna kopi pun memunculkan serentetan kisah. Ragam cerita tentang minuman yang penuh sensasi ini keluar dari setiap mulut yang hadir sore itu.

Setiap orang menceritakan pengetahuan dan pemahamannya tentang kopi. Ada yang mengutarakan dari segi sejarah, kemanfaataannya,perkembangan trend ngopi, jenis-jenis kopi sampai hal-hal yang lebih ringan tentang kenapa kopi itu disebut kopi? Apa sih sebenarnya warna kopi?

Hal ringan yang akan memunculkan beragam jawaban yang berbeda-beda pula.Tak jarang celetukan-celetukan cerdas pun muncul. Tak hanya membuat berpikir tetapi juga membawa keceriaan dalam tawa.

Kopi, satu dari sekian banyak topik yang disajikan dalam Madrasah Filsafat setiap Rabu sore di Tobucil dan Klabs.

Masalah keseharian yang terkesan ringan menjadi topik unik yang senantiasa menarik untuk dikupas, didiskusikan, bertukar pikiran hingga akhirnya menghasilkan sebuah konklusi bersama.

Dituturkan Fasilitator Madrasah Filsafat Fahmi, target Madrasah Filsafat sendiri adalah mengajak peserta untuk kritis? Mempertanyakan masalah-masalah keseharian karena pada dasarnya setiap orang adalah filsuf.

"Dengan bertanya maka akan menghasilkan pembaharuan-pembaharuan sehingga nantinya akan lebih menghargai hidup,"jelas lulusan jurusan filsafat UIN dan UI ini.

Iqbal, mahasiswa semester 9 jurusan komunikasi Unisba mengatakan dengan mengikuti Madrasah Filsafat ini pikirannya menjadi lebih terbuka.

"Saya dapat mengetahui pendapat orang lain yang memiliki latar belakang berbeda," ujar Iqbal yang sejak enam bulan yang lalu getol mengikuti setiap diskusinya.

Dengan begitu,lanjut Iqbal, dirinya dapat memandang sesuatu hal dari berbagai sudut pandang tidak hanya menurut dirinya sendiri.

Hal yang sama juga dituturkan mahasiswa lainnya yang turut hadir. Meski baru pertama kali, mereka mengaku diskusi filsafat di Madrasah Filsafat lebih baik daripada di bangku kuliah. Menurut mereka, mereka datang karena disarankan oleh dosen mereka di Unisba.

Tertarik untuk datang? Karena dari setiap kita adalah filsuf, begitu pun anda.Klab Filsafat terbuka untuk siapapun yang siap mempertanyakan, siap mencari makna.

Hingga akhirnya mungkin akan memberikan filosofi baru tentang sesuatu. Misalnya di akhir topik tentang kopi sore itu,seorang yang hadir menyatakan bahwa kopi adalah pasangan hidup. Bagaimana dengan anda?
(ema/ema)

Tidak ada komentar:

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails