8.9.09

Musik Sore Tobucil#3 Panggung Mini, Apresiasi Maksimal

KlabKLASSIK dan Tobucil kembali menggelar acara Musik Sore Tobucil (MST) untuk ketiga kalinya di Tobucil, Minggu (28/6) lalu. Sore itu, halaman depan toko buku yang berlokasi di bilangan Jalan Aceh, Bandung, tersebut diriuhi orang yang ingin menonton sajian musik gratisan dari Deu Galih, Tesla Manaf Effendi Jazz Duo, KlabKlassik String Trio featuring Yeyen dan Dian, dan D’Java String Quartet.

Venue-nya sendiri terbilang sederhana. Tak ada panggung dengan tata lampu khusus atau ornamen dekoratif. Penampil disediakan kursi untuk duduk dan bermain format akustik, tepat di hadapan penonton yang duduk berjejer di bangku kayu panjang.

Penampil pertama yang mencairkan suasana ialah Deu Galih yang membawakan lagu-lagu barunya beraroma folk. Kebetulan belum lama ini, vokalis dan gitaris itu baru saja merilis album indie, berisi 32 lagu yang merupakan gabungan 4 album yang dapat diunduh secara bebas oleh siapa saja.

Setelah Deu Galih, giliran Tesla Manaf Effendi Jazz Duo yang mengetengahkan nuansa jazz. Komposisi jazz seperti "Oleo" dihadirkan lewat skill petikan gitarnya Tesla yang mengundang kekaguman penonton.

Spesial dari luar kota, yakni Jakarta, berikutnya ada Yeyen dan Dian. Diiringi oleh KlabKlassik String, duet gadis manis tersebut mengalunkan suara merdu mereka yang membuai telinga penonton. Tak hanya nuansa pop, melalui lagu Cinta-nya Vina Panduwinata, mereka juga menyanyikan lagu asal tatar Sunda "Manuk Dadali" yang bikin sore hari itu jadi teduh.

Meskipun penyelenggara acaranya ialah KlabKlassik, namun bukan berarti pengisi acara yang tampil dalam MST melulu harus bermain musik klasik. Hal itu justru disengaja, dalam rangka upaya KlabKlassik untuk mengembangkan para apresiator yang tidak terbatas pada dikotomi musik tertentu saja.

"Acara ini tidak hanya untuk pemain dan penonton musik klasik saja, tetapi juga semua musik, untuk menciptakan apresiator yang baik," kata Syarif Maulana dari KlabKlassik.

Selanjutnya, giliran D’Java String Quartet yang ditunggu-tunggu. Mereka ini ialah para mahasiswa ISI Yogyakarta yang beberapa waktu lalu sempat menggelar konsernya di Bandung. Meski membawakan karya musik klasik dari Mozart, misalnya, yang tergolong rumit, kuartet gesek ini sukses menghadirkan suasana megah yang mengasyikkan dan akrab.

D’Java String Quartet akhirnya menutup sajian MST dengan manis. Penonton senang, penampil pun senang. "Main di sini seperti bukan main musik, tetapi ngobrol-ngobrol aja," kata Rama, personel D’Java String Quartet, kepada Kampus. Ya, meski panggungnya mini, tetapi apresiasi bisa maksimal. (dewi irma)***

Sumber: Pikiran Rakyat, Juli 2009



Tidak ada komentar:

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails