19.12.09

Merajut di Tobucil

Minggu, 20 Desember 2009 | 02:32 WIB

Puluhan anak-anak kelas III SD Semipalar, Bandung, Jawa Barat, Selasa (15/12), dibagi dalam dua kelompok. Di halaman samping Toko Buku Kecil, Jalan Aceh, Bandung, mereka belajar merajut dan origami dibimbing dua instruktur. Mario, bocah lelaki 8 tahun, tiba-tiba berteriak minta tolong, ”Aduh, aduh tanganku hilang….”

Teriakan itu serentak membuat guru dan instruktur mendekat, tetapi tak beberapa lama mereka tertawa berbarengan. Rupanya, empat jari tangan kiri Mario hilang karena terlilit benang wol. Siang itu anak-anak belajar membuat syal dari benang wol.

Teknik rajutan syal memang memanfaatkan empat jari tangan kiri lalu tangan kanan menjadi perajut. Jika rajutan dirasa telah cukup memenuhi seluruh jari, seharusnya dilepas perlahan sehingga menggelayut dalam bentuk syal.

Itulah keceriaan dan kebahagiaan anak-anak yang untuk pertama kali mendapatkan pelajaran merajut dan origami. Toko Buku Kecil (Tobucil) yang berdiri tahun 2001 memang membuka diri terhadap berbagai workshop untuk menumbuhkan kreativitas.

Hampir setiap hari tempat ini dikunjungi berbagai komunitas yang datang dengan berbagai kebutuhan. Tobucil menyediakan pelatihan, seperti merajut, merenda, dan klub penulisan kreatif. Selain itu, Tobucil juga membuka pelatihan berjangka tiga bulanan.

”Mereka sendiri yang membentuk komunitas merajut, menyulam, dan menulis. Di sini kami ingin menularkan kesadaran menyulam itu bukan pekerjaan yang dibedakan berdasarkan jender. Lalu banyak kaum lelaki, terutama mahasiswa, ikut kursus menyulam dan merajut. Hasilnya mereka pasarkan sendiri di kampus-kampus, misalnya,” tutur pendiri Tobucil, Tarlen Handayani.

Khusus untuk klub penulisan kreatif, tiap kelas peminatnya berkisar 15 orang, berasal dari kalangan siswa SMA, mahasiswa, dosen, dan pensiunan. Mereka ”hanya” membayar Rp 200.000 untuk waktu tiga bulan dan 20 persen dari ongkos itu diberikan kepada instruktur. Sementara ini para peserta diarahkan untuk penulisan kreatif, seperti cerita pendek, puisi, dan novel.

”Pada akhir masa pelatihan mereka diharuskan menuliskan karya lalu dipresentasikan di depan kelas dan dievaluasi. Publikasi karya-karya mereka sampai sekarang masih terbatas pada blog milik Tobucil,” tutur Tarlen.

Dari dan untuk komunitas
Komunitas kreatif memang tidak sama dengan usaha kecil dan menengah, tetapi komunitas kreatif bisa melahirkan orang kreatif dan ekonomi kreatif.

Direktur Program Bandung Creative Community Forum (BCCF) Tb Fiki Satari mengatakan, komunitas Bikers Brotherhood, satu dari 30 komunitas anggota BCCF, adalah contoh bagaimana kegiatan yang cair di komunitas bisa menumbuhkan kegiatan ekonomi.

Ketua komunitas motor tua itu, Budi ”Dalton” (38), yang juga Ketua Jurusan Seni Musik Universitas Pasundan, mengaku memiliki anggota yang diukur melalui jumlah motor, yaitu 3.000 motor.

Dengan asal anggota yang beragam dan cabang hingga ke Bali, komunitas ini dapat saling menghidupi. Lambang dan seragam anggota, misalnya, dibuat anggota dan dari situ komunitas dapat membiayai kegiatannya sendiri seperti dalam Brotherhood Braga Bikefest, Sabtu dan Minggu lalu.

”Banyak kegiatan dan ide kreatif di komunitas. Membuat desain mesin motor yang dimodifikasi sampai diskusi tentang taman kota yang ramah terhadap warga,” kata Budi. (CAN/NMP)

Tulisan ini dipublikasikan ulang dari Kompas Cetak, 20 Desember 2009

Tidak ada komentar:

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails