13.2.14

Merajut untuk 'Yarn Bombing' dan Kemanusiaan di Australia dan Indonesia


Merajut untuk 'Yarn Bombing' dan kemanusiaan di Australia dan Indonesia

Diperbaharui 1 March 2013, 14:42 AEST

Apabila anda mendengar kata “rajutan” atau “merajut” apa yang langsung terlintas di benak anda? Gambaran nenek yang sedang merajut? Baju hangat, rompi, taplak meja? Bagaimana dengan ini: kelompok seniman jalanan yang menyelimuti traktor, tank, dan fasilitas public dengan rajutan? Atau kelompok perajut yang membantu korban bencana alam?
Satu tren merajut yang sekarang mendunia dan berubah menjadi seni jalanan disebut yarn bombing. Yarn bombing, dikenal juga dengan sebutan yarn storming, atau graffiti knitting ini dipopulerkan pada tahun 2005 oleh Magda Sayeg, seorang perempuan asal Houston, Amerika Serikat.
Kegiatan ini bisa dilakukan hampir di mana saja, di benda apapun yang memungkinkan untuk dibungkus dengan rajutan, seperti pohon, tiang listrik, sepeda bahkan mobil.
Di Melbourne, Australia, kepopuleran yarn bombing juga sudah merajalela. Salah satu yarn bomber asal Melbourne bernama Bali adalah pendiri komunitas Yarn Corner di Melbourne. Dalam wawancaranya dengan reporter ABC Isabelle Genoux, Bali mengatakan bahwa komunitasnya berhasil menjaring banyak perhatian.
“Yarn Corner sekarang menjadi salah satu yarn bombing grup terbesar di dunia...kami memiliki 345 orang anggota”
 Beberapa proyek terbesar mereka adalah menutupi sebuah traktor dengan rajutan untuk Royal Melbourne Show, selain memberi warna-warni cerah di salah satu jalan utama pusat kota Melbourne, Swanston Street, dengan rajutan-rajutan yang menyelimuti pohon-pohon di jalan tersebut.
Pada awalnya, Bali, yang juga guru crochet, merasa tertantang untuk melakukan yarn bombing.
 “Saya memulai empat tahun lalu. Saya melihat dari situs online dan dari buku berjudul Yarn Bombing... Saya merasa tertantang dan mulai melakukan yarn bombing dan menginspirasi lebih banyak orang untuk merajut”
Bagaimana dengan di Indonesia? Apakah ketenaran yarn bombing juga sudah merambah Indonesia? Tarlen Handayani, pemilik toko buku Tobucil di Bandung yang juga aktif di komunitas merajut, mengatakan bahwa di Indonesia yarn bombing belum menjadi sebuah tren. Hal ini ada hubungannya dengan kebiasaan warga Indonesia dengan keberadaan ruang publik.
“Kalau di Amerika, di Australia, orang punya kebiasaan keluar rumah, menikmati taman…kalau di sini, ikatan itu masih lemah. Seperti di Bandung, banyak taman tapi orang masih menggunakan taman sebatas tempat olahraga, itu pun hanya taman-taman tertentu.”
Yang penting, menurut Tarlen, adalah bagaimana memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang pentingnya ruang publik, baru kegiatan seperti yarn bombing bisa berhasil di Indonesia.
Tapi saat ini, dengan meningkatnya kegiatan merajut bagi kalangan anak-anak muda di kota-kota Indonesia seperti Bandung dan Makassar, merajut bukan hanya jadi kegiatan bagi perempuan tua.
Dan, menurut Tarlen, kegiatan merajut terbukti berguna untuk membantu korban bencana.
“Kalau kelas merajut di sini juga punya proyek kemanusiaan...beberapa tahun lalu, waktu Gunung Merapi meletus, kita bikin acara di Bandung ‘Merajut Untuk Kemanusiaan’,” katanya, di mana Tobucil membantu menyediakan benang dan alat.
“Kita mengundang siapa pun yang bisa merajut untuk meluangkan waktunya merajut bersama. Hasilnya kita berikan kepada korban bencana alam.”

Tidak ada komentar:

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails